x

ilustr: Fransisco Hernandez Marzal

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 2 Juni 2022 10:21 WIB

Nirangka Merah pada Penanggalan Penulis

Tak ada angka merah pada penanggalan penulis. Hari-harinya dirempongkan dengan menulis.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Membaca seloroh di sebuah grup WA, jadi tersenyum. “Saya sudah pensiun, jadi angka di penanggalan saya merah semua,” tulis chat WA tersebut. Emoticon yang senyum dan kebanyakan terbahak-bahak, terjadi. Respon komunitas WA yang kebetulan beragam anggota dari lintas generasi itu pun, jadi  riuh.

Saya pun membaca sosok-sosok yang istikomah dalam menulis. Ada Goenawan Soesatyo Mohamad, wartawan senior Tempo, yang walau usianya melampaui 80 tahun masih tetap menulis secara rutin kolom Catatan Pinggir (Caping) yang digagasnya sejak majalah Tempo berdiri.

Ada sebuah kisah, ketika sedang dirawat di rumah sakit, sahabatnya menanyakan kabarnya. Tentu  yang dimaksudkan sahabatnya adalah menanyakan perkembangan kesehatannya, jawaban yang diterima sahabatnya, malah bikin terperangah: “lagi menulis!”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Budi Darma, profesor yang sastrawan termasuk penulis paling senior di Indonesia yang masih tetap melahirkan karya saat mendekati kewafatannya. Ia menulis hingga menjelang akhir hayatnya. Cerpen terakhirnya masih terbit di Kompas Minggu, dua minggu sebelum ia berpulang.

Sapardi Djoko Damono pun demikian. Sosoknya yang dikenal sebagai penyair, sebenarnya menulis banyak hal. Ada esai, kritik, cerpen,dan sebelum akhir hayatnya merilis novel. Kekonsistenannya dalam menulis sangat menakjubkan. Di tengah kesibukannya sebagai profesor dan membimbing mahasiswakandidatdoktor, karyanya tetap mengalir deras.

Rosihan Anwar wartawan gaek itu pun tak kalah dalam memberikan teladan. Walaupun anak-anaknya sukses, dan sudah berusia dibilang tidak produktif, ia masih membuktikan terus menulis. Banyak karyanya: artikel, dan liputannya yang  dibukukan.

Sebagai kolumnis dan wartawan senior, ia tidak hanya menulis di dalam negeri tetapi juga media luar negeri. Seiring usianya,yang memasuki 60 tahun kala itu, semua media asing menyetop kiriman tulisan-tulisannya, karena pada usia tersebut dianggap sudah tidak mampu produktif. Ia takpatah arang. Ia tetap menulis beragam tulisan di media massa cetak dan media daring hingga akhir hayatnya.

Menulis Tanpa Batas

Penulis, terlebih bagi mereka yang sudah mengambil pilihan hidupnya dengan menulis sebagai hobi atau profesi,  tentu selalu memiliki ragam cara dalam aktivitasnya. Itu tidak terbatas pada tata kelola waktu: ya mencari dan menemukan gagasan yang akan ditulis, hingga  waktu dalam menulis.

Menulis adalah berbagi.  Ya, berbagi topik yang tentu bermanfaat bagi pembaca.  MeMinjam kredo menulisnya Taufiq Ismail, menulis adalah ibadah. Maka, setiap saat ia harus buka mata buka telinga dengan sekitarnya.  Ia membagikan informasi yang menurutnya diperlukan pembacanya. Ia mengulas sebuah topik yang diharapkan akan menambah luas wawasan pembacanya.

Jadwalnya pun, tanpa protokoler alih-alih pejabat negara pamer alias padat merayap. Di laptopnya sudah terjadwal: hari ini, besok, dan lusa akan menulis topik tertentu karena saat itu memang topik tersebutlah yang aktual.

Siapa pun Anda, para penulis dari genre fiksi maupun nonfiksi, akan mengalami situasi tersebut. Jiwa raganya memfokuskan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang layak baca dan bermanfaat  Ini terutama berlaku bagi penulis, selain wartawan, tetapi selalu menulis di media daring atau media cetak. Penulis lepas jenis ini bisa cemas, apabila tak satu pun pada hari ini menghasilkan sebuah tulisan.

Tak ada satu pun lembaga di dunia ini yang berhak dan mampu memensiunkan seorang penulis. Sahabat Syukur Budiardjo, dengan kelakar sejak mula melontarkan: “Saya tahu kamu masih hidup, ya dari tulisanmu!” Ia membuktikan pada dirinya. Sebagai pensiunan PNS, karyanya tetap bertebaran di media daring seantero Nusantara hingga kini. Baginya, yang penting tiap hari harus menulis dan menulis!

Menulis juga merawat pikun, kata Syukur Budiardjo lagi. Tersebab otaknya terus sibuk berkreativitas mengikuti segala denyut kehidupan.Itu sebabnya,tak ayal pula, otak pun ikut sehat. Ia pikun, justru dengan berapa banyak tulisan yang telah ia tulis dan dibaca jutaan pembaca.

 

Salam takzim

Salam kreatif!

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu