Kaitan antara Belajar Gerak dengan Pendidikan Jasmani - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pembelajaran keterampilan motorik yang efektif dapat mengambil banyak bentuk.

farhan hafidz sidik

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Juni 2022

Rabu, 8 Juni 2022 14:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kaitan antara Belajar Gerak dengan Pendidikan Jasmani

    mengupas tentang kaitan belajar gerak dan tahapannya dengan pendidikan jasmani yang ada di sekolah

    Dibaca : 397 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebagai manusia kita pasti membutuhkan yang namanya bergerak. Secara sederhana, gerak adalah perpindahan suatu objek dari titik satu ke titik yang lainnya. Dalam kaitan pendidikan jasmani, gerak menjadi aspek penting karena sesuai dengan definisi Penjas menurut Singer. Dia memberikan batasan mengenai pendidikan jasmani adalah suatu pendidikan lewat jasmani yang dibentuk dengan program aktivitas jasmani yang medianya gerak tubuh sehingga dapat menghasilkan pengalaman dan tujuan belajar sosial intelektual keindahan dan kesehatan.

    Di pendidikan jasmani ini juga seorang siswa tidak hanya asal bergerak, tentu ada ilmu ilmu mengenai bergerak. Dan ini menjadi tugas seorang guru pendidikan jasmani untuk mengajarkan cara bergerak yang benar kepada siswa nya.

    Maka dari itu di artikel ini saya akan membahas mengenai belajar gerak dan tahapan belajar gerak yang akan menjadi referensi guru penjas ataupun kalian yang akan menjadi pengajar di lingkup pendidikan jasmani.

    Belajar gerak menurut Schmidt (1991) adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan melalui latihan dan pengalaman belajar dengan tujuan untuk perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan yang terampil. Dari definisi di atas dapat kita simpulkan ada 3 aspek penting yaitu, belajar didapat dari pengaruh latihan atau pengalaman, belajar tidak langsung bisa diamati, perubahan yang terjadi relatif permanen.

    Sebelum kita memasuki tahapan belajar gerak, ada baiknya kita mencari tahu dulu jenis jenis gerak dasar yang ada pada manusia.  Yaitu gerak lokomotor yang berarti gerak yang berpindah tempat contohnya berjalan;berlari;melompat, kemudian gerak non lokomotor yaitu gerakan yang tidak berpindah tempat contohnya bertepuk tangan; meliukkan badan dan terakhir yaitu gerak manipulatif yang artinya gerakan yang dilakukan dengan menggunakan alat atau benda contohnya melempar bola, memukul raket.

    Setelah mengetahui gerak dasar maka selanjutnya akan dibahas mengenai tahapan belajar gerak, banyak referensi referensi yang menciptakan tahapan belajar gerak. Namun dari sekian banyak peneliti yang membahas itu ada satu nama yang terkenal dan menjadi rujukan terbanyak dalam tahapan belajar gerak yaitu menurut fitts dan possner. Mereka mengatakan bahwa tahapan belajar gerak terdiri dari 3 tahapan yang dimulai dari tahap kognitif kemudian dilanjut tahap motorik dan terakhir yaitu tahapan otomatisasi.

    1. Tahap kognitif

    Pada tahap ini siswa dikenalkan terlebih dulu dengan keterampilan gerak yang baru dan tugas mereka adalah mengembangkan pemahaman yang dibutuhkan dalam gerakan. Pada tahap ini siswa masih belajar tentang suatu gerakan yang sederhana dan masih sangat dasar. Siswa menggunakan informasi tentang bagaimana pelaksanaan keterampilan tersebut agar menjadi berkembang dalam menampilkan keterampilan bergerak. Pada tahap ini siswa harus melibatkan proses berfikir yang sadar untuk mengikuti persyaratan keseluruhan ide keterampilan dan pengurutan poinnya. Respon siswa ditunjukkan dengan taraf konsentrasi yang tinggi dalam bagaimana melakukan suatu keterampilan.

    Masalah yang sering dialami siswa pada tahapan ini adalah penguasaan informasi tentang cara melaksanakan suatu gerakan, pertanyaan kapan melakukannya lalu apa yang harus dilihat, dan apa yang boleh dan tidak boleh dalam melakukan suatu gerakan tersebut serta masih banyak pertanyaan yang biasanya muncul dalam benak siswa. Oleh karena itu kita sebagai guru harus memberikan informasi yang tidak terlalu berlebihan dan dalam waktu yang bersamaan agar tidak membuat siswa bingung dalam tahapan kognitif ini.

    Ciri yang paling sering terlihat pada tahapan ini adalah dengan ditandai oleh sejumlah kesalahan besar dalam menampilkan suatu keterampilan dan juga kurangnya konsistensi siswa dalam percobaan satu ke percobaan yang lain walaupun mereka mengetahui berbuat kesalahan tetapi mereka belum tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki penampilan tersebut.

    1. Tahap motorik

    Pada tahap ini tingkatan keterampilan siswa naik dari tahap pemahaman tadi, siswa sudah mulai menampilkan sikap dan kontrol yang terjaga dan konsisten dengan tumbuhnya rasa kepercayaan dirinya. Siswa juga sudah bisa mendeteksi penyebab kesalahan geraknya dan juga mengembangkan strategi untuk menghilangkan kesalahan kesalahan tersebut.

    Masalah yang terjadi pada tahapan ini biasanya terjadi karena siswa harus membutuhkan waktu yang lama untuk keterampilan sangat kompleks dan penghalusan tatanan gerakan. Maka dari itu seorang guru harus memberikan intruksi kepada siswa dengan acuan yang dibuat oleh singer (1980) yaitu terus menerus memberikan intruksi dan arah yang seperlunya, hanya digunakan untuk teknik transfer pra latihan, mendorong siswa untuk memberikan respons pada tanda khusus dan terakhir memberikan saran yang bersifat korektif pada penampilan siswa tersebut atau biasa nya disebut umpan balik (feedback)

    Ciri yang bisa dilihat ketika siswa sudah masuk tahapan motorik ini adalah dalam keajegan bergerak dan juga efisiensi dan efektifitas siswa dalam bergerak. Dengan begitu energi yang dikeluarkan juga akan berkurang karena otot berfungsi relevan dengan tugas gerak dan pelibatan pikiran ketika bergerak semakin berkurang juga.

    1. Tahapan otomatisasi

    Tahap otomatisasi adalah tahap terakhir dari tahapan belajar gerak, di tahap ini bisa terjadi karena meningkatnya otomatisasi dalam analisis indra terhadap pola lingkungan, pada tahapan ini juga siswa dapat memulai untuk mencurahkan perhatiannya ke aspek keterampilan umum yang lain. Tujuan dari belajar gerak ini sendiri adalah agar bisa melakukan suatu keterampilan secara otomatis sehingga siswa tidak perlu lagi memberikan fokus perhatiannya pada kognitif untuk gerakannya sendiri.

    Yang jadi pertanyaan adalah apakah semua siswa dapat memasuki tahap terakhir ini? Jawabannya adalah tidak semua, karena menurut teori siswa dapat memasuki tahap terakhir ini dikarenakan banyak faktor yang terjadi seperti tingkat dan kualitas latihan, serta bagaimana si pelaku melakukannya.

    Ciri yang bisa dilihat ketika siswa sudah berhasil masuk ke tahapan ini adalah ketika menampilkan gerakan berlangsung secara konsisten, percaya diri, membuat sedikit kesalahan dan langsung bisa mengoreksinya. Dikarenakan pemrosesan gerakan telah berpindah ke pusat otak lebih bawah, yaitu siswa dapat dengan bebas berkonsentrasi pada sesuatu yang lain.

    Lalu mengapa seorang guru penjas terutamanya harus mempelajari dan memahami tahapan belajar gerak ini? Dan apa kaitannya antara belajar gerak dengan pendidikan jasmani yang ada di sekolah. Hal ini menjadi sesuatu yang penting dikarenakan pendidikan jasmani dan gerak adalah dua hal yang tidak bisa lepas. Pendidikan jasmani merupakan proses pembelajaran lewat keterampilan gerak untuk gaya hidup aktif, pembelajaran pendidikan jasmani biasanya dilakukan dengan cara memberitahukan dan mendemonstrasikan pada siswa kemudian siswa mencoba melakukannya sesuai dengan yang di perintahkan adalah jenis pendekatan pembelajaran bersifat langsung atau model behavioris.

    Tahap tahap belajar gerak menjadi acuan yang penting yang akan menjadi bagian dari pengetahuan dasar bagi guru. Tahapan belajar gerak itu penting karena bisa menjadi bekal bagi guru dengan suatu gagasan bahwa taraf keberfungsian yang tinggi dalam pembelajaran kognitif akan berakibat pemrosesan kognitif meningkat, sebaliknya jika taraf keberfungsian yang tinggi dalam pembelajaran motorik berakibat pemrosesan kognitif berkurang. Kemudian tahap penguasaan gerak penting karena bisa membantu guru membuat ketetapan kebutuhan siswa pada tahapan yang berbeda beda sehingga guru bisa mempertemukan kebutuhan siswa yang berbeda beda tersebut dengan lebih baik dalam proses intruksional.

    Ikuti tulisan menarik farhan hafidz sidik lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.