Menyimak Petuah Bijak “Gurindam Kalbu”  Karya Nasirudin - Analisis - www.indonesiana.id
x

orang sedang menulis

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Minggu, 12 Juni 2022 05:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menyimak Petuah Bijak “Gurindam Kalbu”  Karya Nasirudin

    Salah satu bentuk karya sastra lama bidang puisi Indonesia adalah gurindam. Dibandingkan dengan pantun, gurindam kurang dikenal luas. Padahal sebagai sebuah warisan budaya, banyak nilai yang dapat kita saut dari Gurindam.

    Dibaca : 859 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Gurindam adalah suatu bentuk puisi Melayu lama, selain syair dan pantun.  Popularitas gurindam dibandingkan dengan syair dan pantun terbilang kalah pamor.

    Syair yang sering diidentikkan dengan puisi, antara lain kita jumpai jika kita membaca lirik lagu. Misal dalam sebuah tembang Rindu yang dilantunkan oleh Agnes Monica, terdapat keterangan syair dan lagu: Eros Djarot.

    Demikian pula dengan pantun yang masih digunakan dalam berbagai helat. Bahkan tradisi pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak bBenda tanggal 17 Desember 2020, pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis.

    Padahal kita mewarisi karya besar  gurindam yang terkenal dan ditulis oleh  Raja Ali Haji, berjudul Gurindam Dua Belas.  Gurindam tersebut ditulis pada 23 Rajab 1263 Hijriah atau 1846 Masehi.

    Tuah Gurindam

    Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018) menjelaskan bahwa gurindam adalah sajak dua baris yang berisi petuah atau nasihat.  Gurindam berasal dari Bahasa Sanskerta, karindam, yang berarti perumpamaan.

    Gurindam merupakan jenis puisi tradisonal Melayu yang terbentuk dari dua stansa atau bait berupa klausa yang membentuk kalimat utuh yang saling bersambung. Gurindam terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh.

    Gurindam biasanya terdiri dari dua kalimat yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap-tiap baris tersebut merupakan sebuah kalimat majemuk yang merupakan induk dan anak kalimat.

    Kedua baris berakhir dengan rima sama atau bunyi senada. Jika klausa atau baris pertama, yang berupa prasyarat atau isyarat, kemudian dilengkapkan dengan jawaban pada klausa kedua, maka baris-baris ini membentuk gagasan, makna dan pesan yang lengkap dan saling berkesinambungan antara baris pertama terhadap baris berikutnya.

    Baris pertama merupakan landasan dan baris kedua merupakan bentuk konsekuensi untuk pernyataan pada baris pertama. Jumlah kata dalam satu baris berbeda-beda antara 2 sampai 6 kata.

    Dalam buku Ensiklopedi Sastra Indonesia (2000) dikatakan bahwa gurindam adalah puisi lama yang terdiri dari 2 baris dalam 1 bait, bersajak a-a. Kalimat baris pertama menyatakan perbuatan dan baris kedua menyatakan akibat yang timbul dari perbuatan itu.

    Salah satu tuah gurindam berisi sebuah nasihat berkaitan dengan kehidupan. Tuah tersebut didasarkan pada ajaran agama, sehingga dapat dijadikan sebagai tuntunan. 

    Membaca Petuah Gurindam Nasirudin

    Penyair yang menulis secara konsisten tentang Gurindam pun langka ditemui. Maka, menemukan Gurindam ditulis dan dibacakan oleh penyair Nasirudin di kanal youtube melalui tautan https://www.youtube.com/watch?v=2m7RdUv85cY rasanya bahagia.

    Lewat Gurindam Kalbu yang ditulis dalam 12 pasal – ada yang menggunakan istilah 12 ayat—Nasirudin,  Penyair kelahiran Tegal 18 Agustus 1967 ini memberikan sejumlah petuah bijak.   Petuahnya mencakup tentang:  adab mengucapkan salam (pasal 1), perlunya bersilaturahmi (pasal 2), bersedekah (pasal 3), kebaikan (pasal 4), sopan santun dalam pergaulan (pasal 5), memohon doa restu orang tua (pasal 6), pentingnya menuntut ilmu, (pasal 7), aksi kreatif (pasal 8), larangan curang (pasal 9), mendidik dengan hati (pasal 10), hidup sehat (pasal 11), berdemokrasi (pasal 12).

    Selengkapnya isi Gurindam Kalbu yang ditulis oleh Kepala sekolah di SMP Negeri Jakarta ini dapat dibaca pada kutipan berikut.

    1

    Bila bertemu ucapkan salam,

    Agar persaudaraan semakin dalam.

     

    2

    Kalau ingin persaudaraan terjaga,

    Tali silaturahmi harus dijaga.

     

    3

    Barang siapa selalu bersedekah,

    Hidupnya bahagia  penuh berkah.

     

    4

    Barang siapa menanam kebaikan,

    Hidup sejahtera penuh kedamaian.

     

    5

    Kalau engkau selalu sopan,

    Tentu disuka dalam pergaulan.

     

    6

    Mohonlah restu pada orang tuamu,

    Niscaya lurus lapang jalanmu.

     

    7

    Barang siapa menuntut ilmu,

    Tentu terang jalan hidupmu.

     

    8

    Kalau hidup penuh kreasi,

    Kelak engkau raih prestasi.

     

    9

    Barang siapa berbuat curang,

    Timbangan amalmu akan berkurang.

     

    10

    Bila mengajar dengan hati,

    Tentu muridmu akan menghormati,

    11

    Bila ingin sehat dan kuat,

    Seimbangkan kerja dan istirahat.

     

    12

    Jika ingin mencapai mufakat,

    Musyawarah jalan menuju sepakat.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.