Makna Tanda pada Iklan Rokok Djarum Coklat; Analisis Semiotika Segitiga Makna Charles Sanders Pierce - Analisis - www.indonesiana.id
x

Wida Cahya Puspita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Juli 2022

Selasa, 5 Juli 2022 16:02 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Makna Tanda pada Iklan Rokok Djarum Coklat; Analisis Semiotika Segitiga Makna Charles Sanders Pierce

    Memahami makna dari tanda-tanda yang ada pada iklan romok Djarum Coklat

    Dibaca : 319 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Iklan selalu memiliki pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang ditampilkan dalam sebuah iklan menampilkan tanda-tanda yang memiliki makna. Iklan merupakan bagian dari bentuk komunikasi yang divisualisasikan melalui berbagai konsep tanda atau makna. Tanda–tanda tersebut tersusun di dalam sebuah struktur teks iklan dan memiliki makna tertentu. Makna dari tanda-tanda itu dapat dilihat dan ditentukan dengan menggunakan pola-pola interpretasi terhadap tanda. “tanda (sign) adalah sesuatu yang secara fisik dirasakan oleh pikiran kita; merujuk kepada sesuatu yang lain dari tanda itu sendiri dan tergantung atas pengakuan dari penggunaan itu sendiri bahwa hal itu adalah tanda”.

    Iklan sebagai sebuah objek semiotika, mempunyai perbedaan mendasar dengan desain yang bersifat tiga dimensional, khususnya desain produk. Iklan, seperti media komunikasi massa pada umumnya, mempunyai fungsi komunikasi langsung (direct communication function), sementara sebuah desain produk mempunyai fungsi komunikasi yang tidak langsung (indirect communication function). Oleh sebab itu, di dalam iklan aspek-aspek komunikasi seperti pesan (message) merupakan unsur utama iklan, yang di dalam sebuah desain produk hanya merupakan salah satu aspek saja dari berbagai aspek utama lainnya (fungsi, manusia, produksi). Sebuah iklan selalu berisikan unsur-unsur tanda berupa objek (object) yang dikatakan; konteks (context) berupa lingkungan, orang atau makhluk lainnya yang memberikan makna pada objek; serta teks (berupa tulisan, symbol, dan gambar) yang dapat memperkuat makna.

    Sementara itu, Charles Sanders peirce adalah seorang filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional. Peirce terkenal karena teori tandanya. Didalam lingkup semiotika, Peirce sebagaimana dipaparkan Lechte (2001: 227), sering kali mengulang-ulang bahwa tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi orang. (Sobur, 2003: 40)

    Bagi Peirce, Tanda “is something wich stands somebody for something in some respect or capacity”.Sesuatu yang digunakan tanda agar tanda itu berfungsi, oleh Peirce disebut ground. Konsekuensinya tanda (sign atau representament) selalu terdapat dalam hubungan triadic, yakni ground, object, dan interpretant. (Tinarbuko, 2010: 41).

    Dan makna tanda pada iklan roko djarum coklat menurut analisis semiotika segitiga makna charles sanders pieree ini ada pada 

    Iklan rokok yang berdurasi 30 detik yang menampilkan suatu gambaran tentang berbagai aktivitas-aktivitas yang dilakukan orang maupun sekelompok orang dengan bebas dijalanannamun tetap tidak lupa kalau mereka adalah manusia.

    Pada gambar pertama,Terdapat seorang bapak bapak yang berteriak dari dalam mobil meneriaki orang orang disekeliling yang dilewatinya karena ia kesal dengan kemacetan yang sedang ia rasakan dijalanan itu. 

    Dan juga terdapat pemuda bersepeda motor yang sedang menyauti bapak bapak didepannya.

    Ini menjelaskan bahwa Djarum coklat ingin menunjukkan sesuatu yang beda dari biasanya walau dalam kondisi apapun namun menyenangkan dan Djarum coklat mengajak konsumen untuk ikut merasakannya.

    Pada tanda kedua, Terdapat Sekumpulan pemuda bernyanyi dan berjoget menikmati musik pada siang hari bersama kerumunan orang lainnya di atas mobil sambil menikmati kemacetan dijalanan. Ini menjelaskan bahwa Djarum coklat dapat dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan hingga membuat konsumen larut dalam kenikmatan dan dapat juga menyatukan konsumen dalam melakukan kebersamaan.

    Hal itu merupakan analisis dalam menggunakan analisis Semiotika dari Charles Sanders Peirce, dengan menerapkan teori segitiga makna (Sign, Object, Interpretant).

    Ikuti tulisan menarik Wida Cahya Puspita lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.