Mengenal Desa Randu Agung Melalui Kegiatan KKN Kolaboratif, Termasuk Persoalan Stunting - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Posko KKN Kolaboratif Kelompok 200

KKN Kolaboratif 200

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Selasa, 2 Agustus 2022 08:21 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Mengenal Desa Randu Agung Melalui Kegiatan KKN Kolaboratif, Termasuk Persoalan Stunting

    KKN Kolaboratif Kelompok 200

    Dibaca : 243 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sabtu, 23 Juli 2022, menjadi tanda pelepasan kegiatan KKN Kolaboratif yang diikuti oleh 13 Perguruan Tinggi (PT) se-Kabupaten Jember. Setidaknya sekitar 2.481 mahasiswa ikut terlibat dalam upacara pelepasan tersebut bersama Bupati sekaligus didampingi Dosen Pembimbing Lapang (DPL) masing-masing kelompok.

    Dalam kegiatan KKN Kolaboratif ini terbentuk 248 kelompok yang kemudian diterjunkan pada masing-masing desa di wilayah Kabupaten Jember selama 35 hari. Terhitung sejak 23 Juli – 26 Agustus 2022 ini diharapkan mahasiswa KKN dapat memenuhi luaran yang telah ditargetkan oleh Pemerintah Kabupaten Jember selaku salah satu inisiator pembentukan KKN Kolaboratif tahun 2022 ini, yaitu berkaitan dengan pendataan tingkat kasus kemiskinan yang ada di Kabupaten Jember. Sehingga dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pemerintah setempat dapat mengetahui secara pasti berapa persentase kemiskinan yang ada di Kabupaten Jember.

    Selain itu, kegiatan ini juga mendorong para mahasiswa KKN agar dapat memberikan sumbangsih dalam menggali potensi desa, mencari problem desa, serta memberikan solusi pemecahan dari masalah tersebut. Adapun dari ratusan kelompok KKN yang terbentuk, salah satu kelompok yang turut ikut serta dalam KKN Kolaboratif ini berasal dari Universitas Jember dan STIKES Bhakti Al-Qodiri yang tergabung dalam satu kelompok 200 dengan lokasi KKN yang bertempat di desa Randu Agung, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember. 

    Desa Randu Agung sendiri terletak di bagian Timur-Utara Jember, tepatnya memiliki waktu tempuh selama satu jam dari alun-alun Jember. Meskipun secara geografis desa ini terletak sedikit di atas ketinggian, tetapi akses jalan menuju desa ini sangat mudah untuk dilalui, bahkan termasuk kendaraan roda empat.

    Secara administratif, Randu Agung terbagi menjadi tujuh dusun, diantaranya Dusun Sumber Malang, Dusun Sumber Tengah, Dusun Sumber Kokap, Dusun Gumuk Serayu, Dusun Mumbul, Dusun Janggleng, dan Dusun Pandian Patemon. Sementara itu dari segi nuansa alam, Randu Agung menawarkan suasana alam yang masih asri. Hal ini dikarenakan wilayah desa yang sebelah kanan kiri diapit oleh persawahan yang melebar luas, sehingga tak heran jika mayoritas masyarakat Randu Agung bekerja pada sektor pertanian.

    Sebagaimana yang diungkapkan melalui penuturan perangkat desa setempat menjelaskan bahwa Randu Agung mempunyai potensi di sektor pertanian, khususnya padi, tembakau, dan jagung. “Sektor utama yang menjadi andalan Randu Agung adalah pertaniannya. Hampir mayoritas penduduk di sini berprofesi sebagai petani padi, tembakau, jagung, dan terong.” Tutur Sunaryo, Kepala Desa Randu Agung saat berbincang santai bersama mahasiswa KKN di balai desa setempat. 

    Di samping itu, para mahasiswa KKN kelompok 200 juga melakukan survei secara mandiri dengan mengelilingi desa, sembari melakukan silaturahmi kunjungan ke masing-masing kediaman para Kepala Dusun Randu Agung. Hasil yang didapatkan pun cukup sama dengan apa yang telah disampaikan oleh perangkat desa sebelumnya. Sementara itu, tak jauh dari apa yang disampaikan oleh Sunaryo, beberapa kepala dusun juga turut mengutarakan hal yang sama ketika dimintai ulasan pendapat mengenai potensi Randu Agung yang dominan ke arah sektor pertanian.

    Stunting masih menjadi perosaalan lama di Desa Randu Agung!

    Meskipun terbilang kuat di sektor pertanian, ternyata pada sisi kesehatan, Desa Randu Agung masih mempunyai persoalan yang perlu diselesaikan, khususnya berkaitan dengan stunting. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), stunting merupakan sebuah kasus yang menimpa anak usia 1000 hari pertama, ditandai dengan rendahnya memori belajar dan tes perhatian, pertumbuhan tinggi lambat dibandingkan anak lain, dan berat badan yang relatif rendah untuk anak di usianya.

    Laporan dari Puskesmas setempat menyebutkan bahwa Randu Agung mengalami lonjakan kasus stunting di periode tahun ini. Setidaknya per Juli ini sebanyak 77 balita terindikasi stunting di Desa Randu Agung dengan rincian 20 balita di antaranya berusia di bawah dua tahun. 

    Berikut data tumbuh kembang anak yang didapat para mahasiswa dari Puskesmas Kecamatan Sumberjambe sebagai berikut: 

    -           Umur 17 bulan: 3 orang

    -           Umur 18 bulan: 2 orang

    -           Umur 19 bulan: 4 orang 

    -           Umur 20 bulan: 2 orang 

    -           Umur 21 bulan: 3 orang 

    -           Umur 22 bulan: 6 orang 

    Dari data stunting tersebut, menurut Mbak Rani pegawai Puskesmas Sumberjambe, terjadinya kasus stunting di Desa Randu Agung disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, berkaitan dengan pola asuh orang tua terhadap anaknya. Mayoritas anak yang terkena stunting ini mendapat pola asuh yang kurang tepat, seperti contoh kurangnya interaksi antara orang tua dan anak. Kedua, merujuk pada kualitas gizi makanan yang diberikan orang tua terhadap anaknya. Dalam hal ini, meskipun kondisi perekonomian warga di desa ini tergolong menengah ke bawah, para orang tua cenderung memberi makanan yang kurang bahkan tidak diperlukan tubuh. Seperti contoh, para ibu muda cenderung tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, melainkan memberikan susu formula.

    Ketiga, yang tidak kalah penting adalah masalah kebersihan lingkungan atau PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat). Kebersihan lingkungan turut andil dalam tingginya kasus stunting karena ketika lingkungan tidak memiliki sanitasi yang baik, maka akan berisiko menimbulkan infeksi pencernaan seperti diare.  

    Dengan temuan persoalan stunting yang dirasa masih cukup tinggi di Desa Randu Agung, diharapkan dengan adanya kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif selama 35 hari ke depan dapat membantu menangani persoalan stunting di desa ini. Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh para kepala dusun. “Kehadiran para mahasiswa di sini sangat diharapkan. Monggo, apapun program kerja yang kalian ajukan akan kami dukung. Moment ini mohon kalian manfaatkan sebaik mungkin, apalagi waktunya cuman 30 hari.” Ucap Bambang Sutejo selaku Kepala Dusun Sumber Tengah, Desa Randu Agung. 

    Informasi selengkapnya mengenai KKN Kolaboratif silahkan kunjungi laman LP2M Universitas Jember dan STIKES Bhakti Al-Qodiri.

    Ikuti tulisan menarik KKN Kolaboratif 200 lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.