Rumekso Ing Wengi (part 1) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh HeonCheol LEE dari Pixabay

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 7 Agustus 2022 16:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rumekso Ing Wengi (part 1)

    Aku tak menyangka jika perjalanan ke rumah Doni mesti melewati hutan seperti ini. Ada rasa sesal kenapa aku nekat datang seorang diri, dan ketika pulang, kenapa tadi aku tidak mengiyakan saja ketika di suruh menginap.

    Dibaca : 180 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

           Seharusnya aku dengarkan peringatan Doni, rekan kerjaku, yang berkata bahwa aku lebih baik meneruskan perjalanan pulang esok hari, sehingga aku tak terjebak di hutan seorang diri begini.

     

    Namun, apa daya, nasi telah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Tampaknya aku mesti menyiapkan nyali lebih untuk beberapa waktu ke depan.

     

    Masih kutuntun motor yang entah kenapa tiba-tiba mati. Benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kuedarkan pandangan ke segala penjuru, benar-benar gelap, ditambah lebatnya pohon-pohon besar yang tumbuh begitu rapat sehingga membuat suasana makin begitu mencekam.

     

    Tadi siang sengaja aku datang menjenguk Doni, rekan kerjaku yang beberapa hari izin tidak masuk kerja karena sakit. Beberapa rekan kerja ketika aku ajak untuk ikut menengok, tetapi mereka beralasan sibuk dan hanya menitipkan amplop saja. Akhirnya aku nekat datang seorang diri.

     

    Aku tak menyangka jika perjalanan ke rumah Doni mesti melewati hutan seperti ini. Ada rasa sesal kenapa aku nekat datang seorang diri, dan ketika pulang, kenapa tadi aku tidak mengiyakan saja ketika di suruh menginap.

     

    Angin tiba-tiba bertiup kencang menerpa pepohonan yang tinggi menjulang, membuatnya bergoyang-goyang layaknya raksasa yang siap mencengkeram.

     

    Aku bergidik. Ngeri ....

     

    Masih dengan nyali yang timbul-tenggelam, ku lanjutkan perjalanan. Motor aku tuntun perlahan-lahan. Berharap semoga segera sampai ke desa sebelah dan meminta pertolongan.

     

    Auuu ....

     

    Terdengar suara entah anjing atau serigala dari kejauhan. Sial! Seketika aku teringat perkataan para orang tua bahwa jika ada anjing melolong ada setan yang tengah gentayangan. Bedebah!

     

    Aku mengusap keringat yang sejak tadi bercucuran tanpa henti. Meski angin bertiup cukup kencang, tetapi nyatanya gerah sekali di badan ini.

     

    Aku mencoba merapal doa-doa pengusir setan serta doa-doa penenang hati. Perlahan ketakutanku mulai mereda, tetapi tiba-tiba sebuah suara terdengar.

     

    Blug!

     

    Jantungku hampir melompat dari tempatnya. Setang motor yang aku pegang spontan aku lepas. Jantungku mulai terpacu lagi. Kuedarkan pandangan ke arah suara tadi, pandanganku menajam untuk memastikan benda apa gerangan yang tadi terjatuh, sebab rasanya tidak jauh dari tempatku berdiri. 

     

    Terkadang rasa penasaran itu mampu mengalahkan ketakutan.

     

    Terlihat samar-samar sebuah benda bulat teronggok tidak jauh dari tempatku. Aku perlahan memangkas jarak dengan nyali yang aku paksakan agar lebih bisa melihat dengan jelas benda apakah itu.

     

    Beg! Beg! Beg!

     

    "Tai!" Aku spontan mengumpat. Suara kepakan sayap kelelawar yang datang tiba-tiba mengagetkanku. Sejenak aku mengatur napas, mencoba untuk meredakan ketakutan yang sejak tadi mempermainkanku.

     

    'Jangan takut. Sesungguhnya ketakutan itu hanya ilusi. Otakmu sendiri yang menciptakannya.' Aku mencoba mensugesti diri sendiri.

     

    Perlahan tapi pasti. Aku mulai mendekati benda bulat hitam itu. Karena suasana benar-benar gelap aku masih belum bisa memastikannya dengan jelas.

     

    Hi hi hi ....

     

    Setan alas ra katokan! Tiba-tiba benda hitam yang aku dekati tadi bersuara atau tepatnya tertawa dengan keras. Kini jelas las sudah bahwa itu sebuah kepala manusia. kepala manusia itu bermata merah dan menyeringai dengan begitu mengerikan. Dengan sisa tenaga yang aku punya, spontan berlari lintang pukang. Motor sudah tak aku pedulikan lagi.

     

    Sampai kira-kira 15 menit aku berlari. Napasku kini hampir habis, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas.

     

    Tiba-tiba aku melihat sebuah gubuk kecil dengan penerangan sebuah obor di depan sana. Senyumku membuncah. Aku lega, sudah sampai desa rupanya.

     

    Aku bergegas memangkas jarak ke arah rumah itu. Tentu ingin meminta pertolongan. Apalagi motorku masih tertinggal di jalan hutan sana.

     

    Tok! Tok! Tok!

     

    Aku memberanikan mengetuk pintu kayu bambu itu.

     

    Sepi. Tiada sahutan.

     

    Aku tengok jam di tangan kananku, masih pukul 8 malam, belum terlalu larut, seharusnya penghuninya belum tidur.

     

     

    Aku mengetuk sekali lagi, "Permisi. Assalamualaikum. Kulo nuwun."

     

    Tetap tak ada sahutan.

     

    Begitu aku ingin mengetuk untuk ketiga kalinya, tiba-tiba pintu berderit dan perlahan terbuka.

     

    Tampak seorang Kakek bungkuk dengan berselempangan sarung kumal tengah menatapku lekat.

     

    "Ada apa, Nak?" tanyanya polos.

     

    "Permisi, Kek. Maaf mengganggu malam-malam. Saya bukan orang sini. Saya dari rumah teman di desa Wingosari sana dan dalam perjalanan pulang motor saya mogok. Boleh saya meminta pertolongan, Pak."

     

    "Oh, kemaleman. Silahkan, Nak, silahkan, mari masuk dulu," ujar Kakek itu ramah.

     

    Mau tak mau aku ikut masuk. Sekalian minta air minum, sebab kerongkongan ini terasa begitu kering.

     

    "Silahkan duduk. Maaf gubuk saya kumuh, Nak. Mohon dimaklumi. Sebentar, ya, saya ambilkan minum, sepertinya Anak kehausan," tukas Kakek Tua.

     

    "Tidak apa-apa, Kek. Terima kasih sebelumnya dan maaf sudah merepotkan."

     

    "Ah, jangan sungkan," jawabnya lagi sembari berlalu dan masuk ke pintu belakang.

     

    Sembari menunggu Kakek itu kembali, aku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Entah kenapa suasana di rumah ini tidak membuatku nyaman dan ada bau kurang sedap. Sebenarnya tidak sopan jika mataku jelalatan, tetapi entah kenapa mataku seperti tak bisa diam. Seakan menyelidiki sesuatu yang tidak beres.

     

    Tak berapa lama Kakek itu kembali lagi.

     

    "Ini minum dulu, Nak. Hanya air putih saja dan ubi rebus, maklum orang desa. Mari silahkan dinikmati seadanya."

     

    Aku hanya mengangguk dan segera meraih kendi berisi air itu lalu menuangkannya di gelas dan buru-buru aku minum.

     

    Ah, rasanya lumayan segar. Tenagaku perlahan pulih.

     

    "Mari, Nak silahkan di makan ubi rebusnya mumpung masih hangat, lumayan buat ganjel perut."

     

    Aku mengangguk lagi dan meraih sepotong ubi rebus lalu aku makan pelan-pelan.

     

    Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

     

    "Oh, iya, kita belum berkenalan, Kakek. Saya Damar dari kota sana. Nama Kakek siapa? Lalu di sini tinggalnya dengan siapa, Kek?"

     

    "Oh, iya, Nak Damar. Panggil saya Kakek Suman saja. Saya di sini sendirian saja, Nak. Istri sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Dan anak pun tak punya. Jadi beginilah keadaannya," kata Kakek itu.

     

    Aku jadi merasa prihatin.

     

    "Kek, sebenarnya saya tadi melihat hantu waktu di dalam hutan sana dan motor saya masih di sana. Apakah Kakek bisa bantu atau mungkin tetangga sini?" Aku seketika teringat maksudku datang kemari.

     

    "Pasti hantu gundul pringis, ya, Nak?" tanya Pak Tua itu santai.

     

    "Gundul pringis apaan, Kek?"

     

    "Gundul pringis itu hantu kepala manusia, Nak. Yang tanda kedatangannya menyerupai kelapa jatuh. Lalu jika didekati ternyata berwujud kepala manusia,"

     

    "Benar, Kek, benar. Tadi aku melihat seperti itu." Aku jadi bergidik ngeri membayangkan kejadian tadi.

     

    "Di hutan itu memang sarangnya gundul pringis, Nak. Konon itu piaraan seseorang."

     

    "Piaraan seseorang, Kek?"

     

    "Ya, piaraan seseorang. Ya sudah Anak lebih baik beristirahat saja dan tak usah khawatir akan motor, sebab malam begini tidak mungkin ada orang yang berani lewat sana, bahkan gali sekalipun. Besok pagi-pagi Kakek antar ke sana untuk ambil motormu dan kamu bisa pulang."

     

    "Baik, Kek."

     

    Mau tak mau aku menurut saja. Aku tidak mau peringatan kedua agar tidak meneruskan perjalanan aku langgar.

     

    Aku di siapkan tempat tidur di balai kecil ruang tamu, sedangkan Kakek itu tidur di kamarnya yang berdekatan juga denganku hanya dibatasi sekat geribik bambu saja.

     

    Karena badan sudah terasa letih sekali, aku kemudian perlahan terlelap. Entah terlelap berapa lama yang pasti ini masih cukup malam. Sampai kemudian aku mendengar suara sesuatu terdengar.

     

    Srek! Srek! Srek!

     

    Aku membuka mata perlahan. Aku mencoba menajamkan telingaku.

     

    Srek! Srek! Srek!

     

    Suara itu terdengar lagi. Seperti suara benda tajam yang sedang diasah.

     

    Aku bangkit perlahan dari ranjang. Mencoba mencari asal suara itu. Setelah beberapa lama memastikan, suara itu ternyata berasal dari kamari Kakek Suman.

     

    Aku mencoba mendekat ke arah gedek bambu. Suara itu semakin jelas. Tak salah lagi itu suara pisau atau golok yang sedang diasah.

     

    Ngapain malam-malam Kakek Suman mengasah pisau? Buat kerja esok pagi, kah, di ladang? Namun, bukankah ini masih terlalu malam?

     

    Akhirnya dengan segenap pertimbangan aku mengintip kamar Kakek Suman yang temboknya dari gedek itu.

     

    Astaga! Aku hampir berteriak kalau saja aku tak segera membungkam mulutku sendiri. Betapa tidak, di dalam kamar sana aku lihat Kakek Suman tengah mengasah golok. Bukan, bukan itu yang menjadi sumber kekagetanku, tetapi adalah tengkorak-tengkorak kepala manusia yang dipajang di dinding-dinding kamarnya.

     

    "Sudah 29 kepala, tinggal satu lagi maka sempurnalah ilmuku, he he he," ujar Kakek Suman lirih.

     

    Aku membungkam mulut sekuat mungkin dan menguatkan mental agar tidak jatuh pingsan.

     

    Jangan-jangan para setan gundul pringis itu adalah piaraan Kakek Suman?

     

    Persetan dengan itu. Yang penting aku harus segera pergi dari rumah ini tanpa diketahui Kakek itu.

     

    Aku masih berusaha menguasai diri. Kuhirup napas sebanyak-banyaknya untuk membuatku tenang. Perlahan aku ambil tas ranselku dan beringsut perlahan mendekati pintu.

     

    Hampir tanganku sampai ke pintu tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak.

     

    "Mau ke mana, Nak? Hari belum pagi, kok, sudah mau pergi?"

     

    Bersambung.

    ***

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.