x

Sumber ilustrasi: zogri.artstation.com/

Iklan

Em Fardhan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 21 Mei 2023 17:01 WIB

Pergulatan di Kereta Senja

Aku terbangun oleh tepukan kondektur kereta api. Ia akan memeriksa tiket. Kuedarkan pandangan mencoba memahami situasi. Lenyap sudah visual kehdiupan pedesaan. Aku kini berada di kereta lagi. Tiba-tiba aku sadari bapak yang memakai jas di sampingku. Aku tengok tempat duduknya kosong. Kutanyakan ke kondektur, dia malah terlihat bingung. Katanya: Mana ada di kereta gini penumpang pakai jas? Lagian kursi itu kosong dari tadi!

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

      Setelah peluit kondektur dan bel kereta berbunyi, kereta perlahan berjalan. Makin lama makin cepat. Ini adalah perjalananku naik kereta lagi menuju kampung halaman setelah hampir lima tahun belakangan. Yah, cukup lama aku tidak pulang, terakhir sekitar lima tahun yang lalu.

Lima tahun sudah aku merantau ke Jakarta, kota metropolitan itu. Dan berdomisili di sana dengan istri dan anakku. Kota padat dengan irama yang taktis dan bergegas. Orang-orangnya pun bak robot yang jauh berbeda dengan orang kampung. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Aku sendiri pun sebenarnya jenuh luar biasa. Menjalani rutinitas sehari-hari yang itu-itu saja. Bangun pagi, kadang sempat sarapan kadang tidak, berangkat kerja dengan terburu-buru, belum bergulat dengan asap dan kemacetan. Pulang sore dengan letih lalu memeluk malam tanpa makna mendalam. Begitu terus dan terus, sampai terkadang berpikir apa tujuan hidup ini sebenarnya? Apakah akan terus hidup berhias kebosanan?

Terkadang sempat terpikir ucapan Seno Gumira Ajidarma itu. Ia pernah berkata dalam salah satu karyanya: "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

Jujur saja. Kata itu cukup menohok hatiku dan meninggalkan bekas di sana. Namun, aku seperti tak berdaya melawan kenyataan yang kini menempatkan aku di takdir seperti itu.

Sebenarnya dulu cita-citaku sejak kecil adalah menjadi peternak dan petani. Sangat asik membayangkan hidup di pedesaan yang tenang tanpa perlu memikirkan kesemrawutan kota. Namun, kemudian setelah usai kuliah, aku dituntut keadaan dan juga gengsi sosial, lalu terdamparlah aku di kota metropolitan itu sampai sekarang. Untuk beralih menjadi petani atau peternak, aku tidak punya cukup skil dan nyali yang cukup untuk itu. Kebutuhan demi kebutuhan lebih mengambil alih dan pada akhirnya impian sejak kecil harus aku kubur dalam-dalam.

Aku sudah tidak pulang cukup lama bukan karena aku tidak mau pulang, tetapi karena tidak ada alasan yang cukup untuk membuatku bergairah kembali ke tempat kelahiranku, Yogyakarta. Terlebih setelah kedua orang tuaku tiada, bertambahlah enggan aku untuk pulang.

Namun, semingguan ini aku didera rasa rindu yang sangat. Berkali-kali aku bermimpi tentang masa kecilku. Di sungai dekat rumahku yang biasa tempat aku memancing ikan gabus. Atau tegalan belakang rumahku yang biasa aku berburu burung-burung dengan ketapel usai pulang sekolah.

Kenangan indah itu terus mengusikku melalui mimpi, sehingga kuputuskan cuti kerja dan terjadilah perjalanan ini. Aku pamit kepada istri dan anakku. Tak kuijinkan mereka ikut, karena selain aku ingin napak tilas kenangan masa lalu sendirian, juga karena ada kesibukan istriku yang tidak bisa ditinggalkannya.

Kereta melaju menembus senja yang muram. Kuedarkan pandangan ke sekitarku, penumpang-penumpang tak begitu ramai. Tak ada separuhnya penumpang di gerbong ini.

Perhatianku terhenti ketika melihat seorang suami istri tengah berdiri di kursi agak depan dan seorang anak kecil tengah terlelap dalam kursi. Aku tersenyum. Aku selalu simpati dengan pengorbanan orang tua kepada anaknya seperti itu. Ia merelakan kenyamanan dan ketenangannya terusik hanya demi bisa membuat anaknya senang.

Tanpa sadar mataku menghangat, makin ingat lagi kenangan bersama kedua orang tuaku.

Ketika aku kecil, setiap malam bapak atau ibu menggendongku dari depan tv. Setengah mengantuk aku menggeliat perlahan tapi membiarkan badan kecilku direngkuh dengan kasih sayang dan dibawa mereka masuk ke kamar.

Ah, andai mereka masih hidup. Tentu kepulanganku ini akan menjadi sangat bermakna.

Sedangkan kedua kakakku, kini tengah menjalani hidup masing-masing di kota masing-masing pula. Sibuk dengan keluarganya. Kami hanya sesekali berkabar lewat ponsel, dan sudah tiga lebaran ini kami tidak bertemu.

Sekali lagi. Karena alasan sibuk dengan urusan masing-masing. Padahal sebenarnya, ikatan emosional lah yang tak lagi sama.

Rumah masa kecilku sudah dijual. Dan entah siapa yang menempati sekarang.

Rasanya kenangan indah itu masih terjadi kemarin. Bau harum bumbu yang menguar dari dapur ketika ibu memasak. Suara burung perkutut klangenan bapak, dan suara ribut kedua kakakku yang entah lagi ngomongin apa. Semua masih sangat jelas terekam dalam ingatan, dan tak akan pernah aku ijinkan untuk hilang.

Bahkan, kalau saja aku diberi kesempatan oleh Tuhan dengan satu doa yang langsung terkabul, aku hanya minta satu hal itu: ingatan segala kenangan itu jangan pernah hilang, sampai aku menua nanti.

Aku spontan mengusap mataku yang mulai basah ketika seorang menyadarkan lamunanku.

"Kenapa, Mas?" tanyanya.

Aku tengok. Seorang bapak paruh baya memakai jas lengkap dengan dasinya. Pakaian yang sebenarnya aneh di pakai saat di kereta menurutku. Tapi tak aku hiraukan, siapa tahu itulah style-nya. Aku sudah lama tidak begitu suka ikut campur masalah sepele urusan orang lain. Bapak itu duduk di kursi seberang dari tempatku duduk. Aku sendirian, ia pun sendirian.

"Tidak apa-apa, Pak," jawabku lirih sembari tersenyum kecil. Dia ikut tersenyum, lalu kemudian sibuk dengan ponselnya lagi.

Aku rogoh ponsel dan headset dari tas kecil punyaku. Aku setel musik Ebiet G. AD yang berjudul Ayah, sekedar mengobati kerinduanku padanya. Dulu lagu-lagu Ebiet adalah lagu kesukaan bapak. Selepas Asar, bapak suka memutar lagu-lagu Ebiet sembari membersihkan kandang burung usai seharian kerja di sawah.

Mengalun indah suara emas penyanyi balada itu. Kuambil termos kecil dari tas ransel, kubuka dan kuhirup bau wedang jahe. Yah, aku sengaja menyuruh istriku untuk membuat wedang jahe ini saat di rumah tadi sebagai bekal, sekedar untuk menyempurnakan momen nostalgiaku kali ini. Dulu, ketika masih di kampung, setiap malam ibu sering membuat wedang jahe dengan jahe yang dibakar dan gula Jawa. Lalu kami sekeluarga menikmatinya sembari ngobrol-ngobrol di ruang televisi.

Kereta melaju dengan lancar membelah senja yang semakin muram sebab malam mulai mengambil alihnya. Kuminum wedang jahe sembari melihat pemandangan luar. Tampak pemandangan berkelebat silih berganti. Rumah-rumah penduduk, persawahan, ruko-ruko, sampai beberapa pohon-pohon yang rimbun.

Suara musik yang aku putar mengalun indah di telinga. Aku memejamkan mata, begitu menikmati bait demi bait lirik lagu, sampai kemudian aku mulai terlelap tak sadarkan diri lagi.

 

***

       Aku sadar tatkala kereta kurasakan berguncang dengan hebat. Aku kaget, lalu membuka mata. Lalu mendadak lampu di gerbong mati.

Di luar sana aku bisa melihat dengan jelas lewat jendela sebuah kabut yang sangat tebal. Di dalam sini terang, tapi seolah di luar sana tengah memasuki senja. Bukankah hari sudah malam? 

Belum genap aku menyadari apa yang tengah terjadi, tiba-tiba lampu gerbongku menyala kembali. Dan … mataku hampir dibuat melompat karena. Bagaimana tidak, gerbong ini telah berubah menjadi sebuah pemandangan yang entah bagaimana aku menggambarkannya.

Gerbong telah berubah menjadi seperti serupa dunia dalam dongeng. Ada danau, persawahan, pegunungan, itik-itik yang berjajar lengkap dengan penggembalanya. Burung-burung indah berterbangan ke sana sini dan beberapa makhluk kecil bersayap yang pernah tonton di film pun terlihat berkeliaran.

Kuusap-usap mata untuk memastikan bahwa penglihatanku tidak bermasalah, tetapi berkali aku usap pemandangan di sekitarku tetap tidak berubah. Dunia dongeng yang begitu indah dan memesona.

Aku berkeliling ke sekitar yang tampak luas tak bertepi itu. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya keindahan.

Mataku tak henti-hentinya mengagumi pemandangan indah itu. Di ujung sana, kulihat senja memancarkan cahaya kuning keemasan. Pendarnya terlihat teduh di mataku. Mega-mega berwarna jingga itu berarak pelan menambah kesyahduan suasana.

Aku melanjutkan berkeliling sampai kemudian aku terhenti di sebuah rumah sederhana yang tidak asing bagiku. Rumahku!

Yah, benar, tidak salah lagi. Itu rumahku. Aku melangkah ragu-ragu, tapi akhirnya rindu yang kemudian mulai merayu membuatku melangkahkan juga kaki ini ke rumah itu.

Mataku menghangat. Kulihat sosok bapak di samping rumah tengah membersihkan kandang burung perkututnya. Gurat wajahnya masih tegar dan ototnya masih sekekar dulu, meski rambutnya mulai banyak ditumbuhi uban. Aku ingin sekali menyapa, tapi entah kenapa suaraku seperti tersendat di tenggorokan tak mau keluar.

Aku melangkah lagi. Masuk rumah. Terlihat dengan jelas bagaimana letak kursi rotan dan televisi itu masih bertempat persis sama seperti dulu. Dari dapur aku mendengar suara orang yang tengah sibuk. Itu pasti ibu. Benar saja, kulihat ibu yang memakai daster kesayangannya tengah mengulek bumbu dan kemudian memasukkannya ke wajan. Harum bumbu seketika menguar memanjakan hidungku.

Aku beralih ke samping rumah. Tergeletak di sana sebuah kail pancing kesayanganku seolah menggodaku untuk digunakan lagi. Kemudian aku melanjutkan langkah ke depan rumah. Kedua kakakku terlihat tengah sibuk berdebat tentang tanaman sembari sesekali saling lempar tanah.

Aku ingin sekali menyapa mereka semua, tapi tidak bisa dan tampaknya mereka tak melihat kehadiranku.

Kemudian guncangan aku rasakan lagi.

Kini aku berada di sebuah jembatan kayu dengan sungai di bawah aliran jernih dan ikan-ikan koi. Di ujung sana aku lihat rumah masa kecilku. Kali ini kedua orang tuaku dan kedua kakakku tampak menyadari keberadaanku dan kemudian melambaikan tangan mereka ke arahku. Di ujung lain yang berlawanan ada rumahku di Jakarta dengan istri, anakku, bosku di kerjaan, serta teman-teman bahkan Pak Wagiman OB di tempat kerjaku pun ada. Mereka melambai-lambai kan tangan ke arahku.

Kini aku berada di tengah-tengah antara mereka. Dan seolah kedua belah pihak menuntut aku untuk memilih salah satunya.

Di tengah kebingungan tiba-tiba dari hulu sungai aku melihat seorang memakai perahu kayu tengah menuju ke arahku. Siraman senja kuning keemasan membuat sosok itu terlihat seperti siluet. Lalu perlahan mendekat dan berhenti tepat di bawah jembatan tempat aku berdiri.

Setelah dekat, aku baru bisa melihat dengan jelas sosoknya. Sosok bapak yang tadi aku kenal memakai jas itu.

"Kamu harus membuat pilihan, Dimas. Mau selamanya terjebak di sini atau kembali ke dunia kenyataan," ujarnya kemudian begitu ia tiba di dekatku.

Aku kaget. Bagaimana ia tahu namaku? Bukankah kami tidak pernah berkenalan?

"Sebenarnya aku tengah di mana?" tanyaku tiba-tiba. Seolah meluncur saja secara spontan. Dan memilih mengabaikan saja kenapa ia tahu namaku.

"Kamu tengah berada di dunia imajiner. Dunia pertengahan yang tercipta dari imajinasimu sendiri."

"Dunia imajiner?"

Lelaki berjas itu hanya mengangguk.

Aku baru mendengar ada dunia seperti itu.

"Kalau misalkan aku memilih rumah dan keluarga kecilku di masa lalu, apa yang terjadi?" tanyaku kemudian.

"Kamu akan terjebak di sini selamanya. Dan tidak akan pernah kembali. Kamu kemungkinan bisa bahagia, tapi kebahagiaan itu semu, bukan kenyataan."

"Apakah yang salah dengan semu? Kalau nyatanya aku bisa bahagia," tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum. Masih jelas kulihat dari sini, rumah dan keluarga masa kecilku di ujung sana, dan rumahku di Jakarta beserta istri anak dan teman-temanku di ujung satunya. Mereka semua seperti tengah menungguku memutuskan sebuah pilihan.

Kulihat bapak berjas itu menatapku lekat. Lalu kemudian mengalihkan pandangan ke hilir sungai. 

"Anak muda. Memang tak ada yang salah dengan semu. Namun, ketahuilah, meski itu bisa membuatmu senang, pada akhirnya tetap tidak akan membuatmu puas. Kenyataan memang seringkali berwajah garang dan tidak ramah, tapi itulah kenyataan. Satu-satunya hal yang bisa membawa kepada keaslian."

Aku masih tidak mengerti dibalik kata-kata berfilosofis itu. Benar-benar tidak paham.

"Anak muda aku ingin sedikit bercerita kepadamu."

Lalu lelaki itu menceritakan kehidupannya. Masa kecilnya, ambisinya, dan kemudian ia mengalami terjebak dalam dunia imajiner sepertiku kala ini. Kemudian ia memilih untuk berada dalam hidup imajinernya dan kemudian ia mengatakan bahwa ia terjebak selamanya tak bisa keluar lagi.

"Aku kira pilihan itu bisa membuatku bahagia, tetapi ternyata tidak. Kini aku menyadari bahwa seindah apapun sebuah kepalsuan, ia tetaplah kepalsuan, tak akan pernah menjadi kenyataan. Kau lihat sendiri, aku sekarang terjebak di sini, tersesat dan tak tahu lagi arah jalan pulang." Lelaki itu terlihat mengembuskan napas panjang.

"Kau masih punya kesempatan, Anak muda. Pilihan ada di tanganmu sekarang."

Aku menoleh ke ujung di mana keluargaku masa kecil dan kemudian keluargaku di masa kini sekali lagi. Aku terpejam sesaat. Keputusan yang berat. Namun, melihat nasehat lelaki itu aku punya sedikit keberanian untuk memutuskan pilihan.

Aku melambaikan tangan kepada bapak ibu dan kedua saudaraku. Tersenyum manis kemudian berkata kepada lelaki di sampingku, "Aku memilih kenyataan dan berdamai dengan masa lalu, Pak."

Is tersenyum. Seolah mengucapkan selamat bahwa keputusanku ini sudah benar.

"Berdamailah dengan masa lalu dan terimalah masa kini. Lanjutkan perjalananmu betapapun beratnya. Kenyataan hanya bisa kau hadapi ketika kau sudah bisa memahami dan memadukan antara ketakutan dan keberanian, antara kepastian dan ketidakpastian. Jangan pernah tak nyaman dengan ketakutan dan ketidakpastian, karena itu adalah bagian dari hidup. Yang namanya bagian, itu harus ada, anak muda. Tidak boleh hilang. Justru hal itulah yang membuat jiwa manusia lebih matang dan dewasa."

Ia terus berkata-kata yang sejujurnya tak begitu aku mengerti sepenuhnya. Aku hanya mengangguk-angguk mencoba meresapi apa yang ia katakan.

"Sekarang kembalilah," katanya kemudian sembari mendekatiku dan menepuk-nepuk tanganku.

"Mas, Mas, bangun, Mas …."

Aku tergagap. Seolah baru saja terlempar dari dari tempat yang sangat jauh.

Kulihat seorang petugas kereta, tepatnya Kondektur, ia menepuk-nepuk bahuku. Kuedarkan pandangan. Mencoba memahami situasi. Aku kini berada di kereta lagi. Di luar sana tampak pemandangan rumah-rumah penduduk yang ramai saling berkelebat silih berganti.

Kondektur itu meminta tiketku untuk dicek. Lagi pengecekkan tiket rupanya. 

Tiba-tiba aku sadari bapak yang memakai jas. Aku tengok tempat duduknya kosong.

"Pak, bapak yang memakai jas di kursi itu ke mana?" tanyaku kepada Kondektur.

"Bapak memakai jas? Nggak ada, Mas. Mana ada di kereta gini penumpang pakai jas. Lagian kursi itu kosong. Baik, Terima kasih, Mas. Selamat malam dan selamat beristirahat kembali. Saya mohon diri," ucapnya kemudian kemudian berlalu.

Aku hanya bisa bengong bak sapi ompong sembari melihat kursi di seberangku yang tadi ada seorang bapak memakai jas duduk di situ.

Kereta terus berjalan membelah pekatnya malam. 

Aku raih ponsel. Kirim chat kepada istri, mengabarkan sesuatu.

Di stasiun terdekat, aku akan turun dan merubah arah tujuanku. Aku berubah pikiran. Aku tidak jadi ke kampung halaman tapi akan berkunjung ke tempat kakak-kakakku tinggal.

Lelaki berjas itu seperti menyadarkanku. Bahwa kehidupan yang sebenarnya bukanlah masa lalu, tapi saat ini, detik ini. 

Itulah yang harus aku jalani dan syukuri keberadaannya. Aku ingin menikmati semua yang aku punya, sebelum ia menjelma jadi sebuah kenangan yang sangat berharga.

 

***

 

End.

 

 

 

 

 

 

       

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler