Jadilah Salju yang Mencair. Bersihkan Dirimu dengan Dirimu Sendiri - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh wal_172619 dari Pixabay

Ardianingtyas Ardianingtyas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Agustus 2022

Selasa, 16 Agustus 2022 12:15 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jadilah Salju yang Mencair. Bersihkan Dirimu dengan Dirimu Sendiri

    “Jadilah salju yang mencair. Bersihkan dirimu dengan dirimu sendiri”. Kalimat tersebut adalah kutipan dari kalimat mutiara Maulana Jalaludin Rumi, seorang sufi yang terkenal dari Persia pada abad ke 13. Apa maknanya? Sila baca terus.

    Dibaca : 516 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Maulana Jalaluddin Rumi adalah seorang pujangga, penyair muslim, juga seorang sufi yang berasal dari Persia yang memiliki pemikiran yang hebat. Karya sastranya abadi hingga saat ini. Ada sebuah kata mutiaranya yang menurut saya cukup menggelitik untuk dianalisa, yaitu “Jadilah salju yang mencair. Bersihkan dirimu dengan dirimu sendiri”. Apakah makna yang bisa kita gali?

    Mari kita awali dengan memaknai salju. Salju merepresentasikan musim dingin, musim dimana kehidupan melambat, beristirahat, bahkan cenderung menarik diri untuk terus di dalam rumah. Aktivitas manusia tidak melakukan ekspansi usaha di musim dingin, kegiatan-kegiatan juga terbatas karena cuaca tak mendukung. Tak hanya manusia, hewan juga beradaptasi untuk bisa bertahan hidup di musin salju. Kesimpulannya musim dingin melambangkan stagnasi, berhenti, hibernasi.

    Salju berasal dari elemen air yang membeku, tidak mengalir, tidak memberikan kehidupan. Berbeda dengan ketika wujudnya masih berupa air, air bersifat mengalir, terus bergerak dan bersifat menghidupkan. Unsurnya sama namun memiliki sifat yang berbeda.

    Apa yang terjadi ketika salju meleleh menjadi air? Biasanya salju meleleh adalah tanda musim semi telah tiba. Ketika musim semi tiba kehidupan kembali dimulai. Daun-daun gugur kembali tumbuh. Sungai mulai mengalir. Suasana menjadi hangat, ceria, semangat untuk bergerak kembali hadir. Burung-burung mulai meninggalkan sarangnya, berkicau menyambut matahari.

    Ketika salju meleleh menjadi air, maka air dengan sifatnya yang menghidupkan akan membasuh dan menghangatkan salju lainnya yang belum meleleh. Ketika “salju membasuh salju lainnya” pertanda kehidupan dan dinamika dimulai lagi. Disini ada sebuah peristiwa dimana air menemukan kembali perannya. Yaitu dia memberikan kehidupan dan energi bagi semesta alam. Air tak lagi berwujud salju yang kokoh dan angkuh tapi tak berguna. Layaknya manusia, manusia yang sukses adalah dia bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Bukan seorang manusia yang ego dan mementingkan dirinya sendiri. Dia terus bergerak memberikan kontribusi terbaiknya bagi masyarakat.

    Salju yang mencair bisa juga dikonotasikan dengan manusia yang kembali menemukan jati dirinya sendiri. Tak lagi memakai topeng sosial yang menjadikan dirinya angkuh dan kehilangan fitrahnya. Dengan demikian dia kembali menyongsong kehidupan baru yang sesuai dengan tujuan untuk apa manusia itu diciptakan. Yaitu menjadi khalifah di muka bumi, yang memakmurkan bumi. Bukan sebaliknya menjadi biang kerusuhan dan keonaran yang mengacaukan sendi-sendi kehidupan.

    “Bersihkan dirimu dengan dirimu sendiri”, ini bisa diartikan bahwa semua manusia pada awalnya diciptakan dalam fitrah yang suci. Namun dalam perjalanan hidupnya adakalanya nafsu, keinginan akan kekuasaan, kehormatan menjadikannya jauh dari fitrah tersebut. Namun dia masih ada kesempatan untuk kembali lagi kepada fitrah sebagaimana dahulu awal dia diciptakan, tentunya dengan taubat, usaha dan ikhtiar. Kesempatan untuk berubah lebih baik selalu ada selama nafas masih dikandung badan. Mencari secercah hidayah, kemudian bertekad untuk menjaga cahaya hidayah itu tetap dalam jiwanya, hingga tiba masanya nanti Tuhan memanggilnya untuk kembali.

    Ikuti tulisan menarik Ardianingtyas Ardianingtyas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.