Wanita yang Menangis di Waktu Senja - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Gadis. Karya Victor Mendoza dari Pixabay.com

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Jumat, 19 Agustus 2022 15:04 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Wanita yang Menangis di Waktu Senja

    Suara itu terdengar seperti erangan luka dari jiwa terdalamnya. Serak dan lemah, tetapi penuh kesakitan.

    Dibaca : 308 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada kesekian kalinya, wanita itu terus mengusap-usap matanya yang basah membanjiri pipi halusnya. Berkali-kali ia usap dengan telapak tangannya, sehingga telapak tangannya yang seputih pualam itu terlihat basah berkilat-kilat saat ditimpa lampu merkuri di senja ini.

     

    Sejak tadi aku terus mengamatinya. Salah satu dari kelemahanku adalah melihat wanita yang menangis, sungguh tidak tega rasanya. Namun, jika harus ikut campur yang entah apa masalahnya juga takut dibilang lancang. Maka, jalan yang paling aman adalah hanya mengamati saja.

     

    Kusesap kopi di depanku sekali lagi. Kutengok jam di tangan hampir memasuki pukul enam sore. Kuamati sekitar, kedai ini masih cukup ramai.

     

    Kutengok lagi wanita bergaun putih dengan rambut tebal bergerai indah itu. Wajahnya yang manis tapi terlihat pucat itu sungguh menjadi tontonan yang menarik sejak tadi. Bergantung berbagai pertanyaan dalam benakku untuk menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi dengan perempuan itu. Di putus pacar? Di rampok? Kehilangan sahabat? Di usir orang tua tiri? Atau mungkin melihat kekasihnya berselingkuh? Entahlah yang pasti itu sesuatu yang tidak mengenakkan dirinya sehingga membuat ia bersedih.

     

    Sampai kemudian tatapan kami bertemu, aku berpaling sebentar, lalu memandangnya lagi. Sedikit kikuk karena aku kepergok olehnya tengah mengawasi.

     

    "Belum pernah melihat wanita menangis, Mas?" serunya kepadaku dengan nada sarkas.

     

    Aku gelagapan.

     

    Suara itu terdengar seperti erangan luka dari jiwa terdalamnya. Serak dan lemah, tetapi penuh kesakitan.

     

    "Eh, enggak, Mbak," jawabku sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

     

    "Lalu kenapa sejak tadi melihat saya? Naksir? Dasar lelaki tidak bisa melihat wanita sedikit saja wanita. Melihat wanita lain, matanya sudah jelalatan. Setelah wanita itu di dapatkan, barulah di buang dan di campakkan." Dia terus berbicara. Entah berbicara denganku atau memang dengan dirinya sendiri, maksudku, menceritakan kisahnya secara tidak langsung.

     

    Karena sudah terlanjur ketahuan, aku mendekat saja sekalian.

     

    "Boleh duduk?" ijinku.

     

    Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.

     

    "Maaf, kenapa wanita secantik Anda bisa menangis?" tanyaku. Ini ucapan jujur, tapi mungkin terdengar bualan dan rayuan gombal khas buaya.

     

    "Oh, begini cara lelaki? Manis benar." Dia hanya melirikku acuh tak acuh. Nada sarkasnya mengisyaratkan kepadaku untuk menebak bahwa wanita ini bersedih pasti gara-gara seorang lelaki.

     

    "Di putus pacar?" tebakku kemudian tanpa permisi.

     

    Dia mendelik.

     

    "Itu resiko, Mbak. Orang yang bercinta, harus bersiap juga untuk terluka," kataku asal sembari merogoh saku dan mengambil sebatang rokok.

     

    "Sebelum berbicara bijak, bisakah menghargai orang lain dengan tidak merokok di sembarang tempat? Semprotnya.

     

    Bergegas aku memasukkan lagi rokok ke saku.

     

    "Perkenalkan, saya Bima. Arya Bima." Aku menyodorkan tangan bermaksud berkenalan agar suasana tidak canggung lagi.

     

    "Intan, Intan Kinasih," jawabnya acuh tanpa membalas jabatan tanganku.

     

    Dengan perasaan malu, kutarik lagi tanganku yang hanya menggantung di udara.

     

    "Boleh aku tanya sesuatu?" ujarnya tiba-tiba.

     

    Aku mengangguk kecil.

     

    "Apakah yang diinginkan lelaki dari seorang perempuan? Jawab jujur!" ketusnya.

     

    Aku berpikir sebentar. Mencoba merangkai jejak pengetahuanku akan wanita dan sejuta kisah tentangnya. Lalu aku petik dan aku genggam.

     

    "Mungkin, kenyamanan?" kataku tak yakin.

     

    "Hanya itu? Omong kosong? Lalu bagaimana dengan kecantikan, keseksian?" berondongnya.

     

    Aku yang lelaki normal sebenarnya mengamini bahwa memang kebanyakan lelaki menginginkan seorang wanita karena faktor itu. Namun, di sini aku sedang tidak ingin menunjukkan itu. Setidaknya tidak di hadapan wanita yang patah hati, seperti wanita yang ada di depanku.

     

    "Tidak setiap lelaki memandang itu, Mbak," kataku, "ada juga lelaki yang mencintai tulus dengan tidak menilai fisik yang rata-rata lelaki gilai."

     

    "Omong kosong!" tukasnya denga ketus.

     

    Aku menghela napas. Bagi wanita yang terluka karena lelaki, pasti di matanya semua lelaki sama saja. Sama-sama banjingan.

     

    Ketika aku hendak memberi argumen lain, sekilas aku melihat bekas sayatan di tangannya.

     

    "Kenapa?" tanyaku kepadanya sembari menunjuk pergelangan tangannya.

     

    "Oh, tidak. Hanya kenang-kenangan kecil," ucapnya dengan nada lemah. Dari nada bicaranya kulihat tidak semarah tadi, kini perlahan ia malah menjadi murung lagi.

     

    "Oh …."

     

    Waktu semakin berjalan, tanpa sadar langit sudah menjadi gelap. Aku tersadar kalau masih ada urusan lagi.

     

    "Mbak, saya pamit duluan, ya, masih ada urusan. Terima kasih atas perkenalannya. Apa pun yang terjadi dengan Mbak, semoga mendapat jalan keluar, " pamitku kepada wanita itu.

     

    Wanita itu tidak menjawab, hanya menatap sayu kepadaku. Seperti hendak menyampaikan sesuatu tetapi entah apa. Mungkin minta tolong, tapi mungkin lain kali, aku tengah terburu-buru.

     

    Aku bergegas ke arah kasir. Membayar pesananku dan sekalian pesanan wanita itu. Aku tidak bisa membantu menghibur kesedihannya, setidaknya bisa membantu membayarkan pesanannya.

     

    "Berapa, Mas? Sekalian sama pesanan di meja nomor 13, ya," kataku ketika tiba di depan kasir. 

     

    "Nomor 13?" Tidak ada meja nomor 13, Mas, di sini?"

     

    Kini gantian aku yang bingung.

     

    "Yang diduduki wanita itu, lho, Mas," seruku meyakinkan sembari menengok dan menunjuk ke arah wanita tadi duduk.

     

    Tapi ternyata kosong. Tidak ada siapa-siapa.

     

    Aku terhenyak. Bulu kudukku seketika meremang luar biasa.

     

    Selanjutnya perlahan mataku menjadi berkunang-kunang. Sebelum benar-benar menjadi gelap, masih kutangkap samar-samar suara Mas kasir tadi melanjutkan bicaranya, "Pasti Mas diganggu sama hantu wanita itu. Dulu sewaktu hidup dia pelanggan setia di sini, Mas. Dia tewas bunuh diri dengan menyilet lengannya. Konon kabarnya, karena ditinggal kawin sama pacarnya dan dia dalam kondisi hamil. Dulu dia memang paling suka duduk di meja nomor 13, tetapi setelah kejadian itu meja nomor 13 kini kami hilangkan."

     

    Tamat.

     

    ***

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.