Novel Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sapardi Djoko Damono. Ilustrasi tulisan Novel Hujan Bulan Juni

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 16 September 2022 18:27 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Novel Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni

    Sebuah novel yang ditulis maestro sastra secara unik. Kisah percintaan yang terhalang berbagai rintangan, dan diakhiri secara mengharukan.

    Dibaca : 1.362 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Andai saja saya seorang kritikus sastra, novel Hujan Bulan Juni ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik. Misalnya, sudut pandang pengarang yang “keluar-masuk” dalam cerita; karakter tokoh-tokohnya; metaforanya; simbolnya; personifikasinya; gaya bertuturnya; dan lain-lain. Sebab novel karya maestro sastra ini memang ditulis secara berbeda dibanding karya novel pada umumnya – bahkan dibanding novel lain Sapardi sendiri. Isinya memang kisah percintaan biasa, tapi bagaimana hal itu disampaikan atau ditulis, novel ini punya keunikan tersendiri. Bagi para pengkaji semiotika atau psikologi sastra, novel ini menyediakan “bahan” yang cukup banyak untuk diteliti  lebih mendalam..

    Tapi, karena saya hanya pembaca biasa, maka cuma bisa membuat semacam ikhtisar versi saya saja. Novel yang terdiri dari lima bab ini dicetak pertama kali pada Juni 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama. Isinya adalah kisah percintaan antara Sarwono, dosen antropologi di Universitas Indonesia dengan Pingkan, dosen Bahasa Jepang, di universitas yang sama. Sarwono, orang Jawa, sedangkan Pingkan  keturunan campuran Jawa dan Tonsea (Minahasa). Pingkan adalah adik Toar, sahabat Sarwono sejak SMA di Solo. Jadi Sarwono dan Pingkan sudah saling mengenal sejak lama. Sarwono juga mengenal baik keluarga inti Pingkan. Kini mereka bekerja di universitas yang sama, meski beda jurusan.

    Suatu kali Sarwono ditugaskan  untuk menyusun MOU antara tempatnya bekerja dengan  Universitas Sam Ratulangi di Manado. Sarwono mengajak Pinkan sebagai guide-nya Kemudian, ketika masih di Manado, oleh Eric Patiasina, Kaprodinya, Sarwono mendapat tugas lain  ke Gorontalo, tepatnya ke Universitas Negeri Gorontalo. Di sana Sarwono juga harus menyusun rencana MOU antara UI dan Universitas Negeri Gorontalo yang berencana membuka dan mengembangkan program studi. Hubungan Sarwono dan Pingkan pun semakin mendalam.

    Ketika tugas sudah selesai, Sarwono kembali ke Jakarta lebih dulu. Sementara Pingkan oleh kerabat ayahnya diminta untuk tinggal di Manado beberapa hari lagi, menyambangi kampung ayahnya di Tonsea. Sarwono setuju saja pulang duluan, membiarkan Pingkan memasuki ruang yang tidak akan bisa ditemuinya di Solo, termasuk mencari tahu apa makna kata “Pingkan” bagi orang Manado.

    Selama di Manado, Pingkan ditemani oleh Benny, sepupuya. Juga ada Tante Henny. Pernah suatu kali, Benny menanyakan posisi Sarwono nanti dalam keluarga besar mereka. Juga posisi Pingkan. Juga anak mereka, seandainya nanti mereka akhirnya memiliki keberanian untuk kawin.

             “Kamu berani kawin sama dia?” tanya Benny wakti itu.

             “Berani? Maksudmu?

              Benny tidak menjawab tetapi menggerakkan tangannya seperti seorang yang sedang mengenakan jilbab.

              “Memangnya kenapa kalau aku pakai jilbab?”

    Benny waktu itu tampaknya tidak punya nyali berbicara terus-terang, dan segera Pingkan melanjutkan, “Kamu ini suka nonton CNN, ya?”

    Benny tidak juga menjawab, hanya menatap sepupunya itu dengan sorot mata yang sulit sekali ditebak ke mana maunya. Namun, Benny yakin seyakin-yakinnya bahwa Pingkan pasti memahami maksudnya.

                                                                              ***

    Sarwono yang sudah di Jakarta sangat rindu pada Pingkan. Bahkan ia sampai sakit demam. Yang makin membuat Sarwono pusing dengan dirinya sendiri adalah kabar bahwa Pingkan pernah dekat dengan seorang mahasiswa Jepang yang belajar sejarah masa pendudukan Jepang di program Pascasarjana. Namanya Katsuo, dari Kyoto. Laki-laki yang populer di kalangan cewek kampus itu sudah lulus dan kabarnya mengajar di sebuah universitas di Kyoto. Pingkan sama sekali tidak pernah menyinggung hubungannya dengan orang Jepang itu, tetapi Sarwono pernah diberi tahu jauh sebelumnya bahwa Unvesitas Kyoto adalah tempat belajarnya nanti.

    Pingkan akhirnya kembali ke Jakarta. Sarwono menjemput di bandara. Kali ini Pingkan ditemani oleh dua orang tantenya dan Benny. Tapi mereka harus segera pulang ke Solo untuk membicarakan rencana perkawinan Toar. Pingkan agak kecewa Tante Henny tidak ikut, karena ada urusan di Manado. Selama di Manado, Tante Henny yang mengurusnya. Bahkan Tante Henny yang baik hati itu pernah berterus terang agar Pingkan nanti selesai belajar di Jepang pulang saja ke Manado, mengajar di UNSRAT.

              “Beasiswanya didapat lewat UI, Tante, jadi harus langsung kembali mengajar si sana,: jawab Pingkan waktu itu.

               “Tetapi kalau kau kawin dengan orang UNSRAT kan ada alasan pindah kemari,” katanya mendesak. “Pak Tumbelaka yang ganteng itu, yang ketemu kamu ketika Sarwono ceramah, bilang sama Tante senang kalau bisa menjadi menantu Tante. He he he.”

    Pingkan tidak menjawab sama sekali mesklipun selalu menunjukkan perhatian sungguh-sungguh pada apa pun yang disampaikan Henny. Tidak pernah terbayang oleh Pingkan untuk bekerja di Manado. Tidak di Solo. Dia langsung merasa nyaman berada di tengah-tengah keruwetan lalu-lintas Jakarta yang dikuasai motor.

    Pingkan bersama dua Tentenya dan Benny ke Solo dengan kerta api. Sarwono menyusul dengan pesawat. Ketika di Solo itulah Sarwono meyakini bahwa cintanya kepada Pingkan adalah takdir dan bukan sekadar nasib. Takdir tidak bisa diubah, katanya selalu pada dirinya sendiri. Nasib tergantung kepada usaha manusia. Tampaknya ia merasa tidak pernah berusaha tetapi dianugerahi oleh Sing Ngecet Lombok, begitu orang Jawa menyebut Tuhan.

            “Nah, Ping, Toar sudah mau kawin. Kapan giliranmu?”

             “Giliranku? Sama siapa?” katanya sambil menjambak Sarwono.

    Rombongan dari Manado itu hampir serentak menoleh kepada Sarwono dan Pingkan, kemudian tersenyum dan kemudian bicara pelan-pelan di antara mereka. Sarwono sedang menggembala mereka ke Keraton Kasunanan waktu itu.

              “Sar, ini kan dah jam setengah 12, Jumat. Pergi sana kamu ke Mesjid Gedhe. Nanti telat lho. Yen kowe telat, dongamu ora bakal ditampa. Naik becak yang tadi dipakai aja, biar cepat,” kata Pingkan.

    Ketika Sarwono meninggalkan rombongan, keluarga Pingkan segera bicara satu demi satu kepada Pingkan tentang hubungannya dengan Sarwono. Kalau nanti kalian kawin, anak-anakmu mau ikut siapa? Beberapa lama Pingkan berpikir.. Pingkan diam saja, tidak ada gunanya menjawab pertanyaan yang dianggapnya ketinggalan kereta itu. Tetapi apa ada yang ketinggalan kereta kalau dianggap berkaitan dengan agama? Meskipun cara mikirnya mundur beberapa abad, tetap saja yang berkaitan dengan agama dianggap tidak lekang. Tetap fresh.

    Ketika masih di keraton, sebelum meninggalkan rombongan, Pingkan sempat berkata kepadanya: Sar, kalau perkawinan kita jadi masalah, lebih baik nanti kamu ke Jepang aja nyusul aku, ya. Kita nikah di Kyoto. He he he. Yang melegakan Sarwono. Bukan keinginan untuk nikah di Jepang, tetapi kenyataan bahwa Pingkan telah menyatakan keinginan itu. Dan itu penting. Atau kita tidak usah pulang saja,. Kerja di sana, kata Pingkan melanjutkan. Kamu kan antropolog jagoan, pasti laku di jepang. Sarwono benar-benar ingin menghapus kalimat yang terakhir itu. Moga-moga bukan itu keinginan Pingkan. Ia tidak ingin tinggal di mana pun kecuali di negeri yang menyenangkan karena selalu geger ini.

    Sebelum ikut berangkat ke Surabaya bersama kerabatnya, Pingkan berpesan agar Sarwono datang ke rumahnya untuk berbincang dengan ibunya. Sang ibu kemudian bercerita bahwa tante-tante itu membawa amanat kaumnya agar membujuknya mengawasi anak perempuannya, khawatir kalau jatuh ke tangan si Jawa itu alias Sarwono. Mereka sudah terpengaruh dosen UNSRAT yang ternyata ingin menikahi Pingkan. Bahkan kalau bisa sebelum Pingkan berangkat ke Jepang. Tapi rupanya Bu Pelenkahu, ibu Pingkan,  tidak sepakat dengan kasak-kasuk keluarga Manado itu. Ini takdir, Aku mensyukuri takdir, kata Sarwono kepada dirinya sendiri – meskipun belum benar-benar yakin bahwa kasak-kusuk itu akan sepenuhnya mengalami kegagalan.

               “Apa kamu benar-benar ingin mengawininya, Sar?” tanya Bu Pelenkahu dengan lugas.

               “Iya, Bu, benar,” jawab Sarwono dengan lugas juga.

    Sarwono diam beberapa detik, lalu mencium tangan Bu Pelengkahu. Ia harus segera melaporkan segalanya kepada keluarganya. Singkatnya, Pak Hadi dan Bu Hadi (Ayah dan Ibu Sarwono) setuju saja atas pilihan Sarwono.

                                                                         ***

    Kisah selanjutnya adalah kabar bahwa Pingkan harus segera berangkat ke Jepang. Jadwalnya dimajukan beberapa bulan dari rencana semula. Ini karena Pinkan diminta menjadi mentor rombongan mahasiswa Jepang yang akan berkunjung ke Indonesia. Tapi Sarwono khawatir Pingkan menghilangkan rasa sepinya dengan mahasiswa Jepang yang di Kyoto itu. Itu sebabnya ia diam. Pingkan memecahkan senyap itu dengan menarik tangan Sarwono.

          “Sar, janji nemenin ke Uniqlo, kan? Sekarang aja, ya, Aku traktir kamu nrar.”

           “Double sip! Pas laper.” Sarwono memang merasa lapar, makanan di kampus tidak lagi menimbulkan selera. Itu-itu saja pilihannya. Ke mal juga mungkin bisa membantu melupakan masalah Sontoloyo Jepun itu --- moga-moga.

    Dalam hal hubungannya dengan Sarwono, Pingkan kadang-kadang juga merasa dirinya cengeng. Ketika di manado dia pernah diam mendadak dan ingin menangis ketika dengan tampang menjengkelkan Tante Keke membujuknya untuk meninggalkan Sarwono. Untung segera dia bisa menahan perasaaaanya. Sebagai sarjana yang mempelajari kebudayaan asing, dan diajari untuk menghargai pendapat kaum lain, Pingkan tidak bisa menerima sikap semacam itu.

    Akhirnya, tiba saatnya Pingkan harus berangkat ke Jepang. Bu Pelenkahu dan Sarwono mengantarnya ke bandara. Lagi-lagi Sarwono merasa khawatir soal pertemuan Pingkan dengan Katsuo.  Apalagi sekarang ia sudah menunggu Pingkan di Kyoto. Ia simpatik, kata Pingkan suatu kali ketika Sarwono iseng-iseng menyinggung namanya.

    Selama kepergian Pingkan, Sarwono berusaha menyibukkan diri dengan penelitian. Ia ditugasi dan kadang juga menuntut ditugasi Kaprodi untuk ikut dalam setidaknya dua penelitian sekaligus. Kegiatan itu diperlukannya selain untuk mengisi rekeningnya di bank, juga moga-moga bisa membantu sejenak melupakan Pingkan. Sementara di Jepang Pingkan juga sibuk menyiapkan 20 mahasiswa yang akan ke Indonesia selama beberapa minggu untuk mengikuti berbagai kegiatan, sambil mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia.

                                                                           ***

    Hampir enam minggu lamanya Sarwono keliling Indonesia melaksanakan tugas yang ditimpakan Prodi kepadanya. Ia merasa bahagia meskipun diam-diam dirasakannya ada yang mulai tidak berses dengan tubuhnya. Ia perlu uang. Itu jelas. Tetapi ada lain lagi yang lebih jelas, ia berusaha sebaik-baiknya untuk melupakan Pingkan, tidak untuk melepaskannya, katanya selalu kepada diri sendiri, 

    Dan Pingkan, melaksanakan tugasnya di Kyoto penuh kegembiraan. Dia benar-benar menikmati tugasnya sebagai mentor mahasiswa yang bersih-bersih tampangnya, yang bahasa Indonesianya terdengar menggelikan. Dengan Katsuo dia selalu bercanda tentang itu.

                                            ***

    Ketika sampai di Jakarta lagi, Sarwono menaruh kopernya di kos-kosan lalu langsung cabut ke kampusnya. Ia memang sudah janji demikian kepada Patiasina. Baru saja membenamkan diri di sofa program studi, didengarnya lagi Kaprodi sahabatnya itu,

            “Sar, kamu sakit!”

             Siapa bilang aku tidak sakit? Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa bilang aku sakit? Aku cuman capek! Cuapek!”

    Patiasina melihat gelagat yang tak beres dengan sahabatnya itu. Diantarkan Sarwono ke Pusat Kesehatan Mahasiswa. Setelah memeriksa, dikatakannya kepada Patiasina bahwa Sarwono harus istirahat.

                  “Berapa lama, Dok?” tanya Kaprodi itu.

                   “Seminggu, sepuluh hari Pak.” Doker itu kemudian membisikkan sesuatu kepada Patiasina.

    Sarwono kemudian memutuskan untuk pulang dulu ke Solo. Biar ada yang ngurus. Tanpa tahu apa yang telah diputuskan rekannya, Patiasina mengatakan hal yang sama. Tidak ada pilihan kalau demikian. Besok akan diserahkannya segala yang telah dikerjakannya selama ini. Terus langsung berangkat ke Solo.

    ***

    Dalam bercerita, Sapardi memilih sudut pandang orang ketiga yang “serba hadir”.(omniscient point of view).  Di sini pengarang seakan tahu segalanya. Ia dapat  menciptakan apa saja yang diperlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkan. Pengarang bisa mengomentari kelakuan para pelakunya dan dapat berbicara langsung dengan pembaca. Di sini pengarang serba tahu apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada dalam pikiran pelakunya. Sudut pandang ini sering juga disebut sebagai sudut pandang “dia”-an yang serbatahu.

    Sebagai contoh, misalnya, Sapardi bisa tahu dan menuliskan kata hati Pingkan seperti ini: Ia melamarku, katanya dalam hati. Ia mencintaiku, ya si Meneer ini ternyata mencintaiku. (hlm 31). Lalu, masih di halaman yang sama, Pingkan dilukiskan berkata seperti ini: Kurang ajar memamg si Meneer ini, bikin pengumuman rupa-rupa yang belum jelas perkaranya, gerutu Pingkan dalam hati. Contoh-contoh semacam itu dan sejenisnya  muncul banyak sekali dalam novel ini. Misalnya saja, Sapardi menggambarkan dengan detail lamunan Pingkan tentang pemuda tampan bernama Matindas yang sedang dalam pengembaraan dan pertempuran di daerah yang hampir dikuasai oleh Laskar Bolaang Mongondow. Di dalam lamunan ini bahkan Sarwono ikut terlibat di dalamnya (hlmn 53-54).

                                                                         ***

    Sapardi, melalui Sarwono dan Pingkan, sering sekali menyebut kata “Ronin” dalam berbagai kesempatan dan maksud. Maka “Ronin”, setidaknya menurut saya,  menjadi semacam simbol. Menurut kamus, simbol adalah sesuatu yang berarti atau mengacu pada sesuatu yang berdasarkan hubungan nalar, asosiasi, konvensi, kebetulan ada kemiripan.... tanda yang dapat dilihat dari sesuatu yang tak terlihat. Simbol sesungguhnya selalu berada di dekat kita dan merupakan ungkapan (kata-kata) atau benda-benda – yang tidak memunculkan diri, paling tidak dalam konteks terttentu – tetapi memiliki hubungan yang mengandung makna dan perasaan. Misalnya, kata home (yang berbeda dengan house) bernuansakan kehangatan dan rasa aman serta adanya hubungan pribadi antar keluarga, teman-teman, dan tetangga. Bendera Amerika merupakan simbol kebangsaan dan patriotisme (Webster). Dalam kesusastraan, simbol bisa berupa ungkapan tertulis, gambar, benda, latar peristiwa, dan perwatakan yang biasanya digunakan untuk memberi kesan dan memperkuat makna dengan mempersatukan arti keseluruhan.

    Untuk pertama kali, Sapardi menyebut kata “ronin” pada halaman 11-12 dengan kalimat seperti ini: “Ia suka sakura yang hanya mekar seminggu di awal musim semi, dan langsung gugur bagaikan ronin yang dipenggal kepalanya oleh samurai yang dikhianatinya”

    Selanjutnya, di halaman yang sama, kata “ronin” ini muncul berkali-kali. Misalnya, dalam kalimat: “Bukan, Pingkan bukan ronin, katanya jauh di dalam pikirannya yang beberapa minggu ini sudah dikendalikannya gara-gara ada keputusan Dekan untuk mengirim Pingkan menggantikan Wati yang gagal berangkat lantaran dilarang suaminya. Tidak ada perempuan ronin. Ia lega dengan gagasannya sendiri. Oke, tetapi itu di Jepang, siapa tahu di Minahasa ada perempuan ronin? Ia memaksa dirinya sendiri merasa geli dengan pikirannya yang brilian itu.”

    Sarwono tampak takut sekali dikhianati cintanya oleh Pingkan. Padahal, Pingkan pernah menjelaskan bahwa kalau ada ronin, tentu ada sebab yang sudah seharusnya diterima. Tetapi, katanya, orang Jepang tidak suka sikap tidak setia semacam itu, dan oleh karenanya kalau ketemu tuannya, samurai yang dianggap telah melakukan desersi itu harus dipenggal kepalanya.

                   “Ah, bohong ‘kali,” kata Sarwonmo pada suatu hari ketika Pingkan mencoba menjelaskan manusia jenis apa ronin itu. Gadis itu kemudian terpaksa menjelaskan maksudnya dengan panjang lebar bahwa ronin itu samurai yang tak punya tuan karena tuannya mati, atau meninggalkan tuannya dan karenanya dijuluki ksatria gentayangan – hidupnya bagaikan ombak yang tidak jelas wujud dan wataknya. Kalau tuannya mati dalam perang atau duel, samurai harus melakukan harakiri – kalau tidak, ia akan menanggung malu seumur hidupnya.

    Ketika pertama kali mendengar berita Pingkan akan berangkat ke Jepang melanjutkan studinya, Sarwono tampak manarik-narik dagunya sendiri yang tidak berjanggut dan berbisik. “Lha sekarang aku merasa jadi samurai yang akan dfitinggalkan anak buahnya yang akan berangkat menjadi ronin.”

             “Sar, kamu ini sudah sekolah tinggi-tinggi tapin otakmu masih juga ngelesot di bawah pohon sawo kecil di halaman keraton itu.”

    Sapardi juga membat beberapa metafor dan personifikasi. Salah satu contoh yang mudah saja: “Perjalanan beberapa hari menyusur pantai utara Sulawesi telah mengubahnya menjadi laki-laki yang telah bergeser dari kebebasan mutlak seorang lajang menjadi sosok yang rasanya hanya merupakan bagian dari sepasang burung merpati yang sudah ditakdirkan jodohnya meskipun keduanya berasal dari hutan yang berlainan.” Maka, “sepasang burung merpati” menjadi metafor untuk “sepasang kekasih” (hlmn 62). Kemudian, pada halaman berikutnya, dituliskan; “Keduanya juga paham bahwa masing-masing hutam memiliki jenis pohon yang berbeda perangainya, yang menyediakan jenis makanan dan tata cara makan yang berlainan.” (hlmn 63). Maka “Jenis pohon yang berbeda perangainya” menjadi personifikasi Sarwono dan Pingkan yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda. .

                                                                             ***

    Ada juga cara penggambaran yang menarik. Sapardi memang selalu ingin “mencoba” cara baru dalam berkekspresi.  Ceritanya, ketika mereka sampai di Gorontalo, Ahmad, yang sekarang menjadi profesor dan anggota DPR Pusat, menerima kedua dosen muda itu sebagai pasangan suami-istri, meskipun belum resmi. Persis usai salat subuh mereka sampai di Gorontalo, langsung dibawan ke hotel.

    Oleh Ahmad mereka diminta istirahat saja, nanti ketemu lagi dengan orang kampus waktu makan siang. Pingkan bilang tidak akan sarapan, pilih tidur saja sampai siang. Sarwono ikut-ikut. Masing-masing membayangkan apa yang sedang dilakukan teman sekamarnya, tetapi lama-lama terlelap juga.

    Dan mereka pun bertemu  di Negeri Antah-berantah yang pernah mereka kenal ketika bareng-bareng menonton film animasi yang kata Pingkan, bagusnya ampun-ampunan. Mungkin untuk menggambarkan dialog mereka dalam dunia Antah-berantah itu, ada satu bagian (hlmn 39) yang isinya tek-tok dialog, tapi nama tokohnya hanya disingkat alias diambil nama depannya saja. Tanpa narasi atau keterangan apa pun. Jadi P (untuk Pingkan) dan S (untuk Sarwono). Hasilnya (sebagian saya kutipkan) seperti ini:

    P: Sebenarnya apa maumu?

    S; Mauku? Apa?

    P; Lha ya, sebenarnya apa maumu?

    S; Kamu dong yang bilang dulu apa maumu.

    P; Kamu kan pinter, kesayangan Pak Rambut.

    S: Kamu kan pinternya pinter, mau sekolah ke Jepang.

    P: Senang ya mau aku tinggal pergi.

    S: Gundhulmu.

    P: Walah jadi zadul juga lu di sini

    S; Ini Tanah Airmu, ya.

    P: Siapa bilang? Ini Gorontalo. Bangun! Bangun!

    S: Bukannya Woderland?

    P: Negeri Peri!

    S; Halo, Alice. Apa kabar?

    P; Sori, aku bukan Alice.

    S: Lha siapa?

    P: Fiona, Si Putri Tidur.

    S: Alhamdullah. Perkenalkan, aku Shrek.

    P: Ga mau! Kamu Buto Galak!

    S: Sumpah, aku gak galak.

    Dan seterusnya sampai 5 (lima) halaman. Siapa pengarang Indonesia yang berani menulis dialog antar-tokoh dalam novel seperti itu – meskipun terjadi di dunia Antah-berantah-- kalau bukan penulis sekelas Sapardi Djoko Damono? Tak sampai di situ, Saparti kemudian melanjutkan kisahnya pada bagian berikutnya (hlmn 44-45) dengan tulisan panjang (satu setengah halaman buku) tanpa satu pun tanda baca (koma atau titik koma). Yang ada hanya titik di bagian akhir tulisan panjang itu. Berani Anda melakukan itu?


                                                                            ***

    Ending novel ini cukup mengharukan. Suatu kali, bersama Karsuo dan rombongan mahasiswa Jepang yang berkunjung ke Indonesia selama liburan muism panas, Pingkan mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Rencananya Piongkan akan menjadi guide rombongan mahasiswa itu. Ketika menuju ruang baggage claim, dia mendapat kabar dari Toar, kakaknya, bahwa Sarwono sedang dirawat di rumah sakit. Pingkan meminta Katsuo mengurus para mahasiswa itu sendiri selama di Jakarta. Sebab dia harus segera berangkat ke Solo.  Begini Sapardi melukiskannya:

    Bu Pelenkahu memeluknya di pintu rumahnya, dan memerintahkan agar Pingkan segera menyiapkan diri ke rumah sakit. Keduanya tidak banyak bicara di becak. Ibunya hanya samar-samar mencoba menjelaskan bahwa sudah seminggu Sarwono di rumah sakit menjalani perawatan intensif karena menderita paru-paru basah. Pikiran Pingkan dengan cekatan menghubung-hubungkan hal itu dengan cerita Patiasina tentang flek di paru-paru laki-laki yang dicintainya itu.

             “Aku tidak tahu persis apa sakitnya, hanya diberi tahu Bu Hadi bahwa cairan di paru-parunya disedot.”

    Pingkan tidak mau melanjutkan penyelidikannya dan membiarkan rasa ingin tahunya terbuka nanti di rumah sakit saja setelah bertemu dengan Sarwono. Baru kali ini dia merasa becaknya dikayuh sangat perlahan seperti ingin menunda pertemuannya dengan laki-laki itu. Sampai di rumah sakit yang buru-buru menemuinya adalah Bu Hadi. Pak Hadi tidak tampak. Dipeluknya Pingkan sambil dibisikkannya bahwa dokter melarang siapa pun menengok Sarwono sebab masih dalam kondisi kritis. Bu Hadi tidak menangis, malah meminta Pingkan untuk tenang. Tidak apa-apa Ping, semoga. Kedua ibu itu terdengar mengucapkan basa-basi dan setelah tenang duduk di ruang tunggu Bu Hadi mengeluarkan lipatan koran yang sudah agak lecek dari tasnya.

                “Pingkan, Sarwono memberikan koran ini, katanya agr segera diserahkan kepada kamu.”

    Sangat hati-hati Pingkan membuka lipatan itu dan segera dilihatnya tiga buah sajak pendek di salah satu sudut halamannya.

    Demikianlah maka Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarnya.       

    Tiga Sajak Kecil:

     

    /1/

    Bayang-bayang hanya berhak setia

    Menyusur partitur ganjil

    Suaranya angin tumbang

     

    Agar bisa berpisah

    Tubuh ke tanah

    Jiwa ke angkasa

    Bayang-bayang ke sebermula

     

    Suaramu lorong kosong

    Sepanjang kenanganku

    Sepi itu, mata air itu

     

    Diammu ruang lapang

    Seluas angan-anganku

     

    Luka itu, muara itu

     

    /ii/

    Di jantungku

    Sayup terdengar

    Debarmu hening

     

    Di langit-langit

    Tempurung kepalaku

    Terbit silau

    Cahayamu

     

    Dalam intiku

    Kau terbenam

     

    /iii/

    Kita tak akan pernah bertemu:

    Aku dalam dirimu

     

    Tiadakah pilihan

    Kecuali di situ?

    Kau terpencil dalam diriku

                                                                       TAMAT

    • Atmojo adalah penulisa yang meminati bidang filsafat, hukum, dan seni.

    ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.