Epos Mahabharata, Telaga Ajaib dan Ujian Yudhistira - Analisis - www.indonesiana.id
x

https://youtube.com/shorts/rQ0kzj1tvv0?feature\x3dshare

Wike Arista

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Juli 2022

Sabtu, 17 September 2022 19:16 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Epos Mahabharata, Telaga Ajaib dan Ujian Yudhistira

    Sastra Wayang, Novel Epos Mahabharata karya Nyomas S.Pendit bab 30.

    Dibaca : 466 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Persatuan antara keadilan dan kebaikan adalah hal yang sangat kuat! Budaya kita seringkali lebih condong kepada salah satunya, dan mengabaikan yang lain. Orang-orang dengan lantang mendesak keadilan namun gagal untuk menunjukkan belas kasih melalui kata-kata dan tindakan mereka. Hal ini membawa kita kepada ketidaknyamanan karena hasrat kita akan keadilan dan kebenaran mulai melebihi kerelaan kita untuk menunjukkan kebaikan kepada orang lain.

    Mempraktikkan kebaikan dan kasih sayang dapat dimulai dengan orang-orang terdekat kita seperti, anggota keluarga, atau orang-orang yang hidup bersama dengan kita. 

    Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, tepatnya pada tahun pengasingan yang kedua belas sudah hampir berahir. Yudhistira dan keempat adiknya berunding, mencari cara untuk melewatkan tahun ketiga belas tanpa dikenali siapa pun. Ketika itu, datanglah seorang brahmana meminta bantuan mereka untuk menangkap seekor menjangan yang melarikan  pedupaan miliknya. 

    Kelima pandawa bersedia untuk menolong brahmana mengejar seekor menjangan membawa kabur pedupaan milik brahmana. Dalam pengejaran itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Lama menunggu Yudistira menjadi cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

    Karena semakin cemas tidak melihat tanda adik-adiknya kembalu Yudhistirapun kemudian menyusul dan menjumpai mereka berempat tegeletak tak bergerahak di tepi telaga. Dihampirinya satu persatu dirabanya tangan, kaki, dahi dan denyut jantung mereka sudah tidak berdetak. Melihat kenyataan yang ada didepan matanya sekarang hatinya sesak dan terpukul, dalam keterpurukan itu dia perlahan-lahan berjalan  kearah telaga ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi, tiba-tiba muncul suara goib dari arah telaga dia mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan suara gaib itu untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, yaksa (suara ajaib) pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

    Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai menjangan dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Yaksa itu puas sekali mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Akhirnya, yaksa itu menghidupkan kembali  Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa. 

    Adil yaitu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya, dalam konteks kepemimpinan berbuat adil artinya memberikan dan melindungi hak seseorang yang memang menjadi miliknya. Yudhistira memilih untuk menghidupkan kembali adik tirinya Nakula, saudaranya yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai. Alih-alih memilih Arjuna yang mahir menggunakan segala senjata atau Bima yang memiliki kekuatanya setara dengan kekuatan seribu gajah Ia malah memilih Nakula adik dari ibu tirinya Dewi Madri. Yudhistira, masih hidup dia anak Kunti yaitu istri pertama ayahnya. Dan dia memilih menghidupkan Nakula untuk menunjukan rasa keadilan terhadap ibu tirinya Dewi Kunti supaya tidak kekehilangan keturunan sama seperti ibunya. 

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Wike Arista lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.