Pemuda Tersesat dan Lelaki Tua Pemarah - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Peladang. Foto: Tulus Wijanarko

Kanma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 September 2022

Kamis, 29 September 2022 07:43 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pemuda Tersesat dan Lelaki Tua Pemarah

    Menceritakan tentang seorang pemuda yang tersesat di tengah jalan hingga ia menemukan suatu kampung yang hanya didiami oleh satu orang, yaitu seorang lelaki tua. Konon kampung itu terkenal mashyur karena sesuatu.

    Dibaca : 307 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siang itu, tibalah aku di sebuah kampung kecil yang tidak ada satu pun penduduk tinggal kecuali seorang lelaki tua berjanggut putih mengambai sampai ke bawah.

    “Wahai lelaki tua, tahukah engkau di mana aku sedang berada?”

    “Engkau melangkah ke sini, tapi engkau tidak tahu ke mana. Aku terheran mendengar pertanyaanmu, wahai anak muda. Jelas saja engkau sedang berada di kampung naga grrek. Aku heran mengapa engkau tidak tahu tentang kampung ini, padahal kampung ini masyhur di kalangan pelancong.”

    “Aku bukan pelancong hingga aku tidak tahu masyhuran kampung ini. Beritahukan apa yang membuat kampung ini masyhur?”

    “Aku.”

    “Aku tidak mengerti, tolong jelaskan lebih lanjut padaku.”

    “Aku tidak ada waktu, aku harus pergi mengelilingi lapang kembali.”

    Aku sama sekali tidak mempunyai gambaran dengan apa yang dia ceritakan kepadaku. Untuk apa dia mengelilingi lapang, toh bukan Ka ‘bah yang senantiasa orang muslim kelilingi.

    Aku memutuskan masuk lebih dalam ke kampung ini, kampung dengan bangunan yang banyak sekali, tapi nihil penduduknya, kecuali lelaki tua itu saja.

    “Ke mana orang-orang selain dirimu pergi?”

    “Mereka bukan orang merugi, tentu saja mereka pergi.”

    Lagi-lagi pertanyaan muncul di kepalaku tentang apa yang ia maksud dengan orang-orang selain dirinya yang bukan orang yang rugi. Apakah dia—Lelaki tua itu termasuk orang-orang yang rugi?

    “Sudahlah aku mau menyelesaikan tugasku!” Amarahnya memuncak ketika menjawab pertanyaanku lagi. Baiklah aku tidak akan bertanya lagi padanya, takut dimarahi lagi.

    Ada-ada saja kakek ini, padahal aku sudah tidak malu untuk bertanya agar tidak tersesat lagi di jalan.

    Di ujung jalan, aku melihat lapang yang kecil, bahkan lebih kecil dari lapang bola basket. Lalu kakek itu melakukan sesuatu, sepertinya sedang berdoa setelah itu berjalan mengelilingi lapang persegi panjang itu sekali, lantas ia beristirahat di sebuah batu besar.

    Ia membuka kasutnya dan merogoh saku untuk mengambil sesuatu—kain putih. Kemudian ia membalikkan kedua sepatunya itu, dibilaslah sepatu itu dengan kain yang sudah dibasahi oleh air dari botol minumnya hingga bersih kembali.

    Selesai bersih, dia memakai kembali sepatu itu dan melanjutkan lagi mengelilingi lapang.

    Aku pun tersadar dan bergegas pulang tak lupa berpamitan kepadanya: “Wahai lelaki tua, aku mau pulang.”

    “Pulanglah, kau tidak perlu memberitahu aku. Namun, apa yang membuatmu ingin pulang?”

    “Akhirnya engkau penasaran juga. Intinya aku sudah mendapat semua yang aku inginkan, Terima kasih wahai lelaki tua.”

    Dia tidak menjawab lagi seruanku, sementara aku tetap melanjutkan pulang.

     

    Ikuti tulisan menarik Kanma lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.