Pemuda Tersesat dan Pemuda yang Taat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pengusaha. Sumber foto: esqtraining.com

Kanma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 September 2022

Jumat, 30 September 2022 19:50 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pemuda Tersesat dan Pemuda yang Taat

    Menceritakan pemuda tersesat yang diperintahkan ayahnya untuk menemui pemuda yang sangat taat kepada Tuhannya

    Dibaca : 423 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Hey, Marli. Mengapa engkau membawaku ke tempat kumuh seperti ini?”

    “Tuan muda, sungguh ayah Anda telah memerintahkan saya untuk membawa Anda ke tempat-tempat yang sudah saya siapkan, saya punya otoritas untuk mengantar Anda ke sini, lantas jangan lah Anda mencoba memprotes apa yang sudah direncanakan. Tolong jangan banyak mengeluh”

    “Banyak bicara juga.”

    Tempat kumuh ini jauh sekali kondisinya dengan rumahku, bahkan rumah berbahan kayu itu mungkin bisa saja hancur bila aku menabraknya, sedang rumahku, bahkan mobil sekali pun enggan menghancurkannya. Namun, sesuai apa yang dikatakannya, aku harus mengikuti apa yang dikatakan pembantu tuaku ini—si Marli.

    Perjanjianku dengan ayahku, apapun caranya, harus terpenuhi. Meski ke ujung dunia pun, aku akan turuti kemauannya, lantas tidak ada yang salah bila aku mengeluh sedikit dengan apa yang aku alami. Toh, Tuhan juga tidak pernah melarang.

    “Apa yang harus aku lakukan di daerah ini, Marli?”

    “Ada seorang pemuda yang sangat taat kepada Tuhannya, ia tinggal di balik rumah kecil itu. Tugas Anda hanyalah menemui lalu mengobrol dengannya, sedang saya akan mencari tempat tinggal untuk menunggu Anda menyelesaikan tugas

    Hingga saat itu tiba, tolong hubungi saja saya dengan ponsel Anda, nanti saya akan beritahukan Anda tentang tempat saya tinggal sementara di mana.”

    “Tidak ada yang perlu ditanyakan, aku akan langsung menemui pemuda itu, kau bisa pergi sekarang juga.”

    Toh ini tugas gampang, bahkan aku tidak perlu membuat Marli menunggu seharian penuh agar aku menyelesaikan tugas gampang ini, bahkan aku yakin sebelum dia beres menyelesaikan administrasinya di hotel, pastilah aku selesai dengan tugasku.

    Wahai pemuda yang tidak aku ketahui namanya, sambutlah aku dengan segala keagungannya.

    Aku pun berjalan, menyeret langkah, menuju rumah kecil itu. Bau menyengat mulai menyerang hidungku hingga aku tidak sanggup mendekati rumah kecil itu. Aku pun kembali ke tempat semula, memikirkan cara tentang bagaimana aku dapat masuk ke sana.

    Harusnya tadi membawa sapu tanganku, agar dapat menghapus bau itu dari hidung, lantas aku tidak mau seharian menghabiskan waktu hanya untuk masuk ke sana. Aku pun menyobekkan kaos putihku untuk dapat menutupi hidung.

    Nah, kan! Benar saja, aku dapat mendekati rumah itu tanpa harus menghisap bau yang teramat itu kembali. Aku penasaran dengan pemuda yang ada di dalam rumah ini, tentang seberapa kotornya dia akan tampak nantinya.

    Kuketuk pintu itu, namun tidak ada jawaban yang menyahut. Lantas, aku teriakan saja dia: “Wahai pemuda, aku tahu engkau berada di dalam, biarkan aku masuk.” Dan aku terus mengulang perkataanku, tetap saja nihil jawaban darinya.

    Aku pun kesal, sehingga terpikir amarah sekelebat, yaitu menendang pintu itu. Benar saja, baru satu kali ditendang, pintu untuk sudah terbuka untukku.

    Pertama yang aku lihat adalah seorang pemuda yang tengah melakukan suatu ritual, dia tidak melakukan ibadah dari agama-agama yang aku kenal. Ini jauh berbeda. Sebab aku mempunyai rasa hormat tinggi, aku menunggunya membereskan ritual yang tengah ia lakukan.

    Satu hal yang tidak aku sangka adalah ternyata pemuda ini tidak berhenti sedari tadi, dari matahari berada di atas kepala hingga tertelan bumi. Dia masih belum selesai menyelesaikan ritualnya. Aku yang sudah bosan, bertanya kepadanya:

    “Hingga kapan engkau menyelesaikan ritualmu?”

    Di tengah-tengah ritual, dia masih melakukan ritual, tapi mulutnya mulai terbuka, dan berkata: “Saya tidak tahu siapa Anda, namun jika Anda menunggu saya menyelesaikan ibadah saya, saya akan jawab sia-sia saja.”

    “Kenapa?”

    “Karena seluruh hidup saya adalah ibadah, tentu tidak akan berhenti.”

    Setelah itu dia kembali khusyuk melakukan ritual.

    Aku paling kesal dan tidak suka saat seseorang tidak mengacuhkanku, meski hal ini bertentangan dengan nilai yang aku anut, aku menarik pemuda itu hingga berada di hadapanku.

    “Beritahukan aku tentangmu, wahai pemuda.”

    “Lebih sopan bilamana Anda memperkenalkan diri Anda terlebih dahulu, sebelum melakukan hal yang tidak sopan kepada orang lain, lalu meminta orang itu melakukan sesuai kehendak Anda.”

    Aku terpukul mendengarnya.

    “Maafkan aku. Namaku Banyu, aku ditugaskan oleh ayahku untuk menemuimu.”

    “Saya tidak kenal dengan ayah Anda. Ada apa gerangan, beliau memanggil Anda kemari?”

    “Entahlah. Namun, setelah melihatmu, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan.”

    “Silakan, tapi tolong dipercepat. Saya takut Tuhan marah kepada saya, karena memalingkan diri dari-Nya.”

    “Baiklah. Pertama, mengapa engkau tidak membersihkan rumahmu? Kedua, mengapa engkau tidak membersihkan badanmu? Ketiga, mengapa engkau tidak pernah keluar dari rumahmu? Keempat, mengapa engkau terus melakukan perintah Tuhanmu padahal menyiksa dirimu? Kelima, mengapa engkau tidak pergi keluar mencari pekerjaan untuk mendapat tempat layak agar dapat beribadah di tempat yang nyaman?”

    “Itu saja. Baiklah saya akan menjawabnya sekaligus. Saya adalah anak yang ditinggal kedua orang tua, karena mereka pergi berperang, lantas seorang wanita berumur 30-an datang kepadaku dan memperkenalkan agama ini, ia menyuruhku agar seluruh hidupku adalah ibadah. Dan beginilah akhirnya, aku yang sekarang.”

    “Mengapa engkau tidak berdoa kepada Tuhanmu, agar diberikan kelayakan dalam hidup?”

    “Diberikan nafas saja saya sudah syukur, tidaklah sopan meminta lebih dari itu.”

    “Hentikan saja ibadahmu jika tidak ingin beroda, biarkan dirimu sendiri mencapai kelayakan pribadi.”

    “Sudah kubilang, hidupku seluruhnya adalah ibadah.”

    Aku yang sudah terlalu kesal, segera berdiri dan meninggalkan tempat itu dan pemudanya. Ada-ada saja dia itu, sudahlah aku tidak mau memikirkannya lagi. Lebih baik aku menemui Marli dan kembali pulang.

     

    Ikuti tulisan menarik Kanma lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.