Ketika Murid dan Guru Menyatu - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 1 November 2022 11:22 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Ketika Murid dan Guru Menyatu

    Murid dan guru menyatu dalam satu pribadi. Maksudnya menjadi pembelajar mandiri. Seorang yang mampu belajar mandiri. Dia mampu mengembangkan dirinya sendiri. Bagaimana kiat mengembangkan anak Anda menjadi pembelajar mandiri?

    Dibaca : 1.391 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketika Murid dan Guru Menyatu

     

    Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Murid gurunè pribadi, guru muridé pribadi (Sosrokartono).  Sebagai murid gurunya adalah dirinya sendiri, sebagai guru muridnya adalah dirinya sendiri.  Ini adalah kata mutiara yang sangat terkenal dari Sosrokartono, seorang tokoh dari Jawa Tengah.  Dia adalah kakak dari Kartini, sang pahlawan perempuan.  Sosrokartono adalah seorang polyglot, seorang yang menguasai banyak bahasa dengan baik, termasuk beberapa bahasa asing.  Apa maksud kalimat bijak dari Sosrokartono?  Mari kita bahas.

     

    Saya meyakini bahwa maksud kalimat tersebut adalah anjuran agar  kita mengembangkan kemampuan belajar mandiri.  Ketika kita menjadi murid maka sesungguhnya sang guru adalah diri kita sendiri, maksudnya mengembangkan kemampuan belajar mandiri.  Sebagai guru, maka muridnya adalah dirinya sendiri. 

     

    Membaca adalah bagian utama dari belajar. Jadi seorang pembelajar mandiri harus banyak membaca.  Selain itu bisa juga observasi alias mengamati, bertanya, berdiskusi dan menulis untuk mengikat makna dan mengembangkan gagasan.  Itulah saya yakin maksud Sosrokartono.

     

    Ini adalah sebuah gagasan yang visioner, yang mendahului jamannya.  Sosrokartono hidup di akhir abad ke sembilan belas dan awal abad ke duapuluh.  Di dunia pendidikan baru akhir akhir ini di kenal konsep belajar mandiri, cara belajar siswa aktif, active learning, student – centered learning dll.  

     

    Pada intinya cara ini bertujuan menghidupkan pikiran anak dan murid agar kreatif, aktif, tidak hanya sekedar pasif mendengarkan paparan guru.  Tentu saja masih ada peran guru sebagai pembimbing, fasilitator, tutor, coach atau apalah namanya.  Namun guru bukan sebagai satu satunya sumber ilmu.  Guru berperan sebagai pemberi motivasi, pemandu, pengarah, pemberi saran dan masukan.  Tapi capaian ketrampilan, kompetensi sepenuhnya tergantung aktivitas murid sendiri.   Dan semuanya ini bisa dilakukan oleh pribadi mandiri. 

     

    Jadi peran guru dan murid menyatu dalam seorang individu.  Inilah tujuan sejatinya sistem pendidikan di banyak negara maju dan mereka sudah berhasil menerapkannya. 

     

    Indonesia masih ketinggalan.  Masih banyak sekali murid yang pasif.  Saya meyakini akarnya adalah di keluarga.  Pendidikan keluarganya masih belum maksimal mengembangkan kreativitas anak anaknya.  Karena itu para orang tua seharusnya mengevaluasi lagi metoda pendidikan keluarga mereka.  Temukan cara mengembangkan kreativitas anak anaknya.  Idealnya orang tua menguasai bahasa Inggris agar bisa dengan mudah memahami metodanya yang kebanyakan berasal dari Barat. 

     

    Orang tua idealnya mengembangkan dialog dua arah dengan anak. Bercerita juga sangat berpengaruh untuk membangkitkan curiosity (rasa ingin tahu) anak.  Selain cerita para nabi, kisahkan juga para tokoh penting.  Cerita bisa membangkitkan motivasi dan minat anak anak.

     

    Maka orang tua sebaiknya mengembangkan kemampuan story telling untuk memotivasi anak anaknya.  Tentu saja ceritanya dipilih, disesuaikan dengan sasaran pembelajaran di keluarga.  Tentunya pilih cerita yang bisa menginspirasi, memotivasi, membangkitkan karakter baik seperti keimanan, keuletan, kejujuran, kemandirian,  dsb.  Jangan cerita yang memberi nilai bagus pada kelicikan, keculasan dsb.  Kalau anak memiliki karakter positif tersebut maka dia akan menjadi independent learner yang bisa menjadi guru buat dirinya sendiri.  Dia mampu belajar secara mandiri.

     

    Satu hal yang lebih penting daripada isi dan gaya omongan orang tua adalah menyatunya kata dan perbuatan orang tua.  Jika orang tua ingin anak anaknya rajin ibadah solat puasa dll maka orang tua harus memberi contoh.  Kalau hanya kata kata saja tanpa contoh maka akan sia sia saja, sebagus apapun omongan orang tua. Anak anak lebih banyak belajar dari contoh dan kebiasaan daripada dari omongan.   

     

    Satu hal lagi adalah fasilitas IT.  Ini adalah sarana pendukung pengembangan diri yang sangat bermanfaat. Sayangnya kebanyakan orang Indonesia hanya memakai sebagai hiburan saja.  Makanya bimbing dan motivasi anak anak untuk menguasai bahasa Inggris agar mampu berkomunikasi dan mencari ilmu di dunia maya.  

     

    Stephen Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People menuliskan bahwa sifat pertama yang dimiliki mereka adalah proaktif.   Ini akan bisa dicapai jika anda sudah berhasil mengembangkan pendidikan keluarga yang mendorong kreativitas anak anak. Jika mereka sudah menjadi pembelajar mandiri mereka akan memiliki sifat proaktif.  

     

    Semoga Anda berhasil membangun kemampuan anak anak Anda menjadi  menjadi ‘independent learner’.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.