Kata-Kata: Antara Bahasa dan Primat Kebenaran

Rabu, 11 Januari 2023 18:26 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bahasa adalah jembatan dasar perjumpaan antara manusia. Dan kata-kata adalah isi utamanya. Namun, yang ditakutkan hari-hari ini adalah kata-kata yang terhembus nihil. Yang berkeliaran kosong. Tanpa isi. Tiada pemaknaan


Kata-Kata: Antara Bahasa dan Primat Kebenaran

“Hati yang jujur adalah anugerah pertama, kepala yang paham adalah yang kedua”
 
(Thomas Jefferson, 1743 – 1826, Presiden Amerika Serikat ke 3)

 

P. Kons Beo, SVD

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan



Bahasa Jembatan Penghubung


Bahasa adalah jembatan dasar perjumpaan antara manusia. Dan kata-kata adalah isi utamanya. Namun, yang ditakutkan hari-hari ini adalah kata-kata yang terhembus nihil. Yang berkeliaran kosong. Tanpa isi. Tiada pemaknaan.

Tidak pula untuk serius nyatakan satu harapan nan sejuk. Kerekanan jadi ringkih dan bahkan teramat labil. Sebab tebar kata-kata, ya memang sebatas tebar kata melulu. Aspek volutif telah terkikis hinggi tipis.

Orang sudah tak pentingkan lagi apa sebenarnya kabar dari kita dan tentang kita. “Selamat Pagi” , tidak berarti selalu terungkap adanya sebuah harapan dan doa sejuk. Bahwa alam keselamatan sungguh hinggap di keharian di hari itu. Kita telah menuju sesama dengan rangkaian jembatan kata-kata kosong. Sekedar seadanya.

Lukisan si bijak mesti ditangkap penuh serius. Kata-kata jadi bagian bahasa otomatis: tak banyak keluar dari pikiran dan hati, tak pula menyentuh pikiran dan hati dari yang diajak bicara. Jalur komunikasi telah disumpeki inflasi kata.


Komunikasi yang Macet

Terjadi kemacetan di jalanan komunikasi. Sebab kendaraan kata-kata terlalu bikin sesak. Tak ada lagi kata-kata yang mengalir indah dan tepat sasar. Ketika canggihnya teknologi komunikasi kian menanjak, kata-kata coba ditertibkan dalam kategori-kategori yang tepat. Membahasakan kebenaran dan ilmu pengetahuan.

Kategorisasi kata-kata yang tepat tentu membuat manusia dapat terhubung satu sama lain secara tepat pula. Sebab, dari kata-kata itulah lahirlah kesepakatan. Tertangkaplah kebenaran faktual yang diakui dan diyakini bersama. Tetapi, apakah taburan kata-kata sebagai benih, akan menghasilkan buah-buah kesejukan di dalam ladang hati dan pikiran?

Safari kata dan safari kebenaran faktual adalah dua hal yang sering bertolak belakang. Safari kata-kata murni bisa ditangkap sebagai kata-kata belaka. Yang bisa sungguh rabun bahkan (pura-pura) buta pada fakta.


Ketika Forma dan Isi Bahasa tak Terhubung


Kita ambil contoh sederhana saja, namun mudah dipahami. Tataplah penuh saksama di hari-hari belakangan ini. Seputar persidangan tentang babak demi babak kisah tewasnya Brigadir Josua (8 Juli 2022) itu.

Tak mudah bagi Ricky Rizal, misalnya, untuk menatap kebenaran kisah di Duren Tiga itu. Sulit baginya untuk memeluk kebenaran kematian Yosua dengan terus saja melekat pada kata-kata intensional penuh buta yang kontra fakta lapangan. Si Ricky Rizal pasti terjebak dalam kemacetan kata (walau ia berusaha lancar berbicara) jika ia tetap saja berkisah tentang isi kematian Josua dalam forma Sambo.

Kematian Brigadir Josua jadinya 'dipersulit’ dengan dis-connecting kata yang hanya asal tabur. Atau pun sekedar sudah bisa jawabi pertanyaan-pertanyaan apa saja di ruang persidangan itu. Namun semuanya dengan satu persyaratan: tetap berpihak dan bersandar pada kepentingan si Rikcy Rizal sendiri.

Dalam Keseharian?

Tetapi, mari kita masuk ke keseharian kata-kata yang lebih luas. Kata-kata sudah amat sering terlepas dari konteksnya. Setiap orang bisa memakai kata-kata hanya didasarkan pada kepentingan sendiri. Sulit sekali untuk dengan enteng menyapa sesama dengan hasrat jiwa yang penuh kekariban.

Maka, ada benarnya bila harus diyakini bahwa kata-kata yang terpintal dalam bahasa tidak lagi jadi bagian dari pengalaman bersama. Sebab, setiap orang ingin bersuara dari apa yang diyakininya sendiri.

Sejauh bisa disuarakan dengan logika punyaku di situlah orang sudah merasa adanya marwah atau imperium linguistik yang sesungguhnya. Iya, tanpa peduli lagi: apa dan bagaimana sudut pandang sesama?

Hari-hari ini safari kata-kata semakin menjadi-jadi. Sekali lagi, tak perlu konteks bagaimana kata-kata itu tersuarakan. Orang tak mau pusing peduli dengan kebenarannya. Intinya, itu tadi, asal bisa bersuara.

Iklan: Badai Komunikasi dalam Kata?


Yang terparah adalah ketika kata-kata yang sepantasnya rasional dan afektif penuh rasa telah tervirus oleh iklanisme kata yang menderu-deru. Di situ, kata-kata didesak untuk dipaksa masuk. Mesti diwelcome sebagai kepastian dan kebenaran. Bukan kah iklanisasi kata adalah deru gelombang kata-kata yang berulang-ulang dihempaskan? Dan semuanya itu akhirnya dianggap sebagai kebenaran?

Tetapi, kata-kata pun tidak sekedar tentang isi dan pemaknaannya. Kata-kata harus masuk dalam alam situasinya. Ia mesti juga berhadapan dengan cara pengungkapannya. Sebab, tindak dan isi berbahasa tak akan pernah luput dari interpretasi dari sudut pandang yang menangkapnya.

Dalam pengalaman nyata, yang sendiri saya alami, apa yang dikisahkan oleh sekelompok orang dari bangsa tertentu sebagai ‘keberhasilan, prestasi, sudah buat banyak hal luar biasa, menduduki jabatan tertentu, miliki tanggungjawab besar serta banyak hal yang serba hebat, bisa ditangkap oleh kelompok bangsa lain sebagai: kesombongan, anggap diri hebat dan tidak anggap orang lain memang. Aneh tapi nyata memang.


Kata – Bahasa Tetaplah Terbatas

Maka benarlah seperti yang diyakini oleh si bijak, “Kita dihidupi oleh bahasa yang terbatas; kita hidup dengan kebenaran yang tak utuh.” Dan juga, bahwa kita terforma dalam cara yang khas demi mengungkapkan apa yang tersembunyi di sudut hati dan di ruang berpikir.


Apa yang kita anggap baik, belum tentu diterima baik oleh pendengar. Apa yang terselubung dalam intensi yang tulus (aspek volutif) belum tentu ditangkap dengan tulus pula oleh pendengar. Sebab, misalnya, orang masih meributkan lagi bagaimana caranya. Lagak bicara yang terlalu merendahkan dianggap fatal. Penuh cemar, walau ia mengandung isi dan intensi yang baik.


Itulah kiranya dalam keseharian perang kata-kata yang bertolak dari salah paham dan keliru merasa sering sekali terjadi. Sebabnya? Iya itu tadi, kita dihidupi bahasa yang terbatas! Maksud baik namun cara penyampaian yang tak pas, bisa berisiko pada rasa marah yang bisa tikungi dan benamkan akal sehat.

 

Bahasa Nilai-Nilai: Pegangan Pasti bagi Semua

 

Bagaimana pun, tentang nilai-nilai kehidupan semuanya mesti dipadatkan sebagai kebenaran yang mesti dijunjung oleh siapa pun. Tak boleh ada dari siapa pun yang berjuang jadi penguasa bahasa yang tiran untuk satu kepemilikan kebenaran yang mutlak.

Ada bagusnya, biarkan saja orang bicara apa saja (tetapi bukannya seenaknya berkata-kata semaunya). Tetaplah menjadi satu tugas mulia dan benar bagi siapa pun untuk memasukkan isi kata-kata itu dalam forma bahasa yang semestinya.


Dunia sudah pada jenuh akan framing bahasa, pada rasionalisasi yang kental anti kebenaran, pada hedonisme verbal yang penuh kepalsuan. Orang sudah pada capek dengan segala simulasi penuh intrik dari otoritas yang selalu banjir kata-kata Pemberi Harapan Palsu (PHP).

 

Forma Agama dan Isi Agamis yang tak Terkonek

 


Tetapi, yang paling dicemaskan adalah ketika forma agama sungguh menjebak dunia dengan isinya yang tak agamis. Ketika, misalnya, dalam forma agama sengaja dihembuskan kata-kata, dengan sadar penuh kepentingan atau tidak tahu, yang berisi: kebencian, tekanan, serta berbagai variasi kekerasan.

Di sini sebenarnya, harus tetap dibangun lebih banyak lagi kantor pengadilan terhadap (penganut) agama. Sebab agama sudah sering kali dan tetap berlaku tidak adil kepada sesama manusia itu sendiri.

 

Akhirnya

 


Itu semua, sejatinya, disebabkan oleh diskoneksitas (ketidaksesuaian) antara isi kata di dalam forma yang seharusnya. Dan itulah yang sering terjadi. Dan bakal terus berlangsung dalam keseharian. Entah sampai kapan?

Semuanya, jika dimaknai dari kata-kata Thomas Jefferson, sesungguhnya membutuhkan hati yang jujur dan kepala yang paham. Di situlah, kata-kata dan ruang berbahasa sungguh bertakhta. Di singgasananya yang mulia. Atas dasar kebenaran hati dan kebenaran akal budi. Yang merangkul semua keberadaan anak bangsa.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro - Roma

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rikhardus Roden

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler