x

Foto ini di ambil sebelum Pandemi Covid-19, kurang lebih 3 tahun yang lalu saat pembelajaran fisika di laboratorium fisika

Iklan

Iwan Kartiwa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Senin, 30 Januari 2023 19:34 WIB

The School Founder Sejati Bukanlah Pejabat, Tapi Para Guru dan Tendik

Di sebuah sekolah tentu selalu dikenal dan dikenang para school founder (pendiri sekolah) yang merintis dan membesarkan institusi pendidikan. Mereka tidak harus pejabat yang bewenang. Tapi pendiri sekolah sejati adalah para guru dan tenaga kependidikan di lapangan yang secara nyata berjibaku dari waktu ke waktu. Merekalah yang mengurus dan memajukan sekolah secara telaten serta penuh kesabaran.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Iwan Kartiwa, Kepala SMAN Situraja Kabupaten Sumedang

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita mengenal istilah the founding fathers. The Founding Fathers adalah mereka para pendiri bangsa yang sangat berjasa meletakan fondasi bernegara sehingga bangsa tegak berdiri hingga saat ini. Nama Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Soepomo, Sutan Syahrir dan lain-lainnya adalah para founding fathers bangsa ini. Kiprah dan kontribusi mereka terhadap negara diakui semua pihak, tidak akan hilang dari catatan sejarah bangsa ini sampai kapanpun.

Demikian halnya pada tatanan kehidupan persekolahan. Di sebuah sekolah tentu akan dikenal dan dikenang pula para the school founder (pendiri sekolah) yang merintis dan membesarkan sebuah sekolah. The school founder tidak harus menyebut nama pejabat bewenang saja yang telah memberikan keputusan dan tanda tanganya demi lahirnya sebuah sekolah. Namun, sangat pantas apabila the school founder ini disematkan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang di lapangan berjibaku dari waktu ke waktu. Mereka mengurus dan memajukan sekolah tersebut secara telaten serta penuh dengan kesabaran.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalau mengukur jerih payah dan pengorbanan yang telah mereka lakukan, tidak sebanding kalau hanya dihargai dengan gaji/penghasilan yang mereka peroleh setiap bulannnya. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya disertai doa tulus serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kiranya hanya mampu membalas jasa-jasanya tersebut.

Sebagai guru dimana pun kita bertugas, di setiap sekolah akan selalu muncul kisah dan cerita orang-orang hebat di sekolah tersebut. Orang-orang hebat ini adalah para guru dan tenaga kependidikan yang sebagian besar waktu, tenaga, perhatian, bahkan harta atau penghasilannya didedikasikan dan dikontribusikan untuk sekolahnya tersebut.

 Karena kecintaan dan tanggungjawabnya kepada sekolah, the school founder dari sisi waktu bekerja, berangkat lebih pagi, rela pula pulang lebih sore bahkan sering pula sampai larut malan dan menginap di sekolah. The school founder jumlahnya tidak banyak, hanya segelintir orang guru dan tata usaha. Mereka dari hari ke hari terus berpikir dan memikirkan apa yang dapat dilakukan serta apa yang terbaik untuk diberikan kepada sekolahnya tersebut. Oleh sebab itu setiap bagian dari subsistem sekolah tidak akan luput dari perhatian mereka.

Subsistem pengelolaan sekolah setidaknya tertumpu pada empat aspek penting yang terdiri dari kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana dan hubungan masyarakat. Oleh sebab itu pada jenjang satuan pendidikan SMA/SMK/sederajat keempat aspek ini dijabat oleh seorang penanggungjawab setingkat wakil kepala sekolah.

Dari keempat aspek tadi kita dapat membayangkan bagaimana guru dan TU pada saat awal sebuah sekolah berdiri. Para school founder tersebut benar-benar mencurahkan semua perhatian, tenaga, waktu dan biaya (mungkin modal sendiri) untuk merintis, mengembangkan dan memajukan keempat aspek tadi. Berikut gambaran-gambaran umum kiprah para school founder dalam keempat aspek tadi.

Pertama, aspek kurikulum. Pada awal-awal sekolah berdiri tidak sedikit fasilitasnya belum lengkap. Untuk membuat jadwal mengajar guru misalnya, the school founder sering mengalami peristiwa “bongkar pasang”(gonta-ganti) jadwal mengajar hingga dilakukan berhari-hari sampai larut malam. Hal ini terjadi untuk memfasilitasi berbagai kepentingan guru yang berbeda-beda khususnya guru yang tempat tinggalnya jauh, atau yang sudah sakit-sakitan.

Berbeda dengan saat ini jadwal mengajar guru dapat diformat dengan berbagai aplikasi komputer yang mendukung sehingga lebih cepat dan akurat. Hal ini berbeda dengan sebelumnya dimana pembuatan jadwal mengajar dibuat secara manual.

Contoh lainnya dalam hal penggandaan soal untuk ulangan semester misalnya, the school founder harus bergabung bekerjasama memutar duplo (mesin penggandaan) dan menyiapkan masternya, sekaligus mendistibusikan dan mem-packing-nya. Pekerjaan manual yang benar-benar perlu ketelitian, kesabaran dan pengorbanan yang harus dilakukan diawal-awal sekolah berdiri.

Kedua, dalam aspek kesiswaan. The school founder pada awal sekolah berdiri juga sering terlibat untuk mencari calon siswa. Mereka berkeliling mencari calon siswa dari satu kampung ke kampung lainnya yang terdekat dengan sekolah. The school founder juga harus sabar membujuk dan merayu orang tua agar mau menyekolahnya anak-anaknya di sekolah mereka. Lambat laun jumlah siswa makin banyak dan sekolah makin dikenal luas oleh berbagai lapisan masyarakat.

Ketiga, aspek sarana dan prasana. Para school founder pasti merasakan bagaimana minimnya sarana dan prasarana pada awal-awal sekolah berdiri. Selain jumlah siswa yang sedikit, fasilitas sekolah juga mungkin alakadarnya dan tidak seberapa, mungkin hanya baru ada satu ruang kelas dan satu ruang guru. Menghadapi kondisi ini the school founder tentu tidak berdiam diri, segera melakukan berbagai daya dan upaya agar fasilitas sekolah makin bertambah baik kuantitas maupun kualitasnya. Berbagai usulan proposal dibuat dan dilayangkan kepada instansi terkait. Perlahan namun pasti berbagai penambahan fasilitas itu terjadi. Sekolah mulai memliki banyak ruangan, sekolah sudah dipagar, daya listrik bertambah, fasiltas internet ada, dan lain sebagainya semakin melengkapi setiap kebutuhan sekolah.

Keempat, aspek hubungan masyarakat (humas). The school founder adalah pihak yang pertama merintis akses dan jejaring kerjasama dengan pihak luar sekolah. Berbagai bentuk kerjasama dan koordinasi dengan pihak eksternal terus dikembangkan dan ditingkatkan. Mereka telah merintis kerjasama dengan pihak perguruan tinggi, perusahaan, aparat setempat, orang tua dan pihak lainnya yang berkepentingan.

Sebelumnya sekolah hanya entitas kecil di sebuah daerah tanpa memiliki kemampuan berrelasi dan berinteraksi dengan instansi lain. Namun, berkat jasa the school founder, sebuah sekolah makin eksis dan makin dikenal banyak pihak.

Itulah sekelumit kisah dan jerih payah the school founder dalam membangun dan memajukan sekolah. Oleh sebab itu apabila ada pihak tertentu yang kemudian mengklaim dirinya merasa paling berjasa terhadap kemajuan sebuah sekolah, maka dapat dikatakan klaim tersebut tidaklah bijakasana.

Mengapa demikian, karena maju dan berkembangnya sebuah sekolah memang tidak mungkin dihasilkan oleh proses yang instan, namun semua itu kembali dan didasari oleh sejarah pengorbanan dan jerih payah para perintisnya. Mereka itulah para perintis dan pendiri sekolah (the school founder). Wallahu a’lam bish-shawabi ( والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ ).

 

Ikuti tulisan menarik Iwan Kartiwa lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini