x

Iklan

Bryan Jati Pratama

Penulis Indonesiana | Author of Rakunulis.com
Bergabung Sejak: 19 Desember 2022

Kamis, 2 Februari 2023 20:28 WIB

Fenomena Legalisme Autokratik dalam Novel Animal Farm

Secuil kisah tentang para penghuni peternakan binatang ini mengajarkan apa yang kita kenal sekarang sebagai autocratic legalism, kondisi di mana penguasa menggunakan cara yang “seolah-olah” demokratis demi melanggengkan kekuasaan yang dimilikinya. Misalnya dengan merevisi atau membuat Undang-Undang yang secara substansi berseberangan dengan cita-cita demokrasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam mengkritik kekuasaan, tidak ada novel yang segamblang Animal Farm. Aroma politik terasa sangat kental dalam novel bergenre fabel karangan George Orwell tersebut. Meski novel ini ditulis pada era Perang Dunia II, kondisi dalam novel tersebut masih saja terasa relevan dengan keadaan masa kini.

Alkisah, pada suatu malam yang ganjil di Peternakan Manor milik pak Jones, seekor babi tua bernama Mayor mengumpulkan semua binatang penghuni peternakan dan menceritakan mimpinya yang tidak kalah ganjil. Dia bermimpi, di suatu hari nanti para binatang dapat merdeka dari manusia serta dapat menentukan nasibnya sendiri. Dia merasa selama ini binatang hanyalah menjadi korban penindasan dan eksploitasi oleh manusia. Cerita itu begitu berpengaruh terhadap Snowball dan Napoleon, dua babi muda yang idealis. Keesokan paginya, Mayor ditemukan mati.

Tak lama kemudian, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan pak Jones atas peternakan Manor digulingkan oleh para binatang yang dipimpin oleh Snowball dan Napoleon. Di awal pemerintahan mereka berdua, disepakati pasal-pasal anti manusia. Dituliskanlah pasal-pasal tersebut di dinding lumbung yang dikenal sebagai 7 perintah, di antaranya :

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

1. Apa pun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh;

2. Apa pun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman;

3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian;

4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang;

5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol;

6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain;

7. Semua binatang setara.

 

Nama peternakan pun diubah menjadi Peternakan Para Binatang “Animal Farm” yang menjadi judul dalam novel satire ini.

Namun, sebuah cita-cita demokratis yang dimimpikan Mayor perlahan mulai dilupakan. Semangat demokrasi yang digaungkan saat pemberontakan para binatang perlahan hilang menjadi ambisi tiran di mana pemimpin selalu benar. Masalah mulai timbul karena peternakan itu mempunyai dua pemimpin, Snowball dan Napoleon. Keputusan antara keduanya yang seringkali berbenturan menjadikan peternakan itu arena perebutan kekuasaan. Melalui skenario adu domba yang penuh fitnah dan akal picik, Napoleon menang.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan di peternakan para binatang tidak kunjung membaik. Napoleon makin otoriter. Para binatang diperintahkan untuk bekerja lebih keras, bangun lebih pagi, dan jatah makanan mereka dipotong sementara para babi bermalas-malasan serta mendapatkan jatah makanan lebih banyak. Ketika diprotes oleh binatang lain, para babi selalu menemukan dasar hukum yang melegitimasi apa yang mereka lakukan.

 

"Comrades!" he cried. "You do not imagine, I hope, that we pigs are doing this in a spirit of selfishness and privilege? Many of us actually dislike milk and apples. I dislike them myself. Our sole object in taking these things is to preserve our health. Milk and apples (this has been proved by Science, comrades) contain substances absolutely necessary to the well-being of a pig. We pigs are brainworkers. The whole management and organisation of this farm depend on us. Day and night we are watching over your welfare. It is for YOUR sake that we drink that milk and eat those apples." 

-Squaler

 

Misalnya ketika para babi tidur di ranjang, salah satu binatang memprotes bahwa itu bertentangan dengan 7 perintah, tulisan di dinding lumbung tersebut ternyata bertuliskan “Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang dengan seprai”. Dan para babi beralasan sesuai dengan pasal tersebut berarti para babi boleh tidur di ranjang sepanjang tanpa menggunakan seprai. Begitu juga ketika para babi mabuk-mabukan dengan whiskey, pasal nomor 5 ternyata bunyinya “Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol secara berlebihan”. Dan para babi meyakinkan para binatang lain bahwa konsumsi alkohol mereka tidak berlebihan.

Terakhir, ketika Napoleon membunuh beberapa ekor binatang karena dituduh bersekongkol dengan Snowball –sebenarnya mereka dibunuh karena mengkritik kebijakan Napoleon. Para binatang pun tidak terima dan lagi-lagi Squaler, babi paling gemuk, juru bicara Napoleon meyakinkan mereka bahwa pasal nomor 6 adalah “Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain tanpa alasan”. Dan memang begitulah yang tertulis di dinding lumbung –karena sebenarnya di suatu malam secara diam-diam tulisan di dinding tersebut telah di modifikasi oleh Squealer.

Seluruh pasal telah diubah demi kepentingan Napoleon dan para babi. Hingga lama-kelamaan perilaku mereka menyerupai manusia. Mereka berpakaian, mabuk-mabukan dan berjalan dengan dua kaki. Bahkan berbisnis dengan manusia. Kali ini tidak terdengar protes dari para binatang, karena di dinding rumah itu bunyi pasal 7 adalah “Semua binatang setara, tetapi beberapa ada pula yang lebih tinggi dari yang lain.” Penindasan dan eksploitasi yang dilakukan Napoleon jauh lebih parah daripada apa yang dilakukan oleh pak Jones. Dan karena tulisan di tembok rumah itu, tidak ada pemberontakan. Napoleon –seolah-olah– tidak melanggar apapun.

Kisah ini diakhiri dengan tragis ketika para binatang tidak lagi mampu membedakan yang mana babi dan yang mana manusia.

Secuil kisah tentang para penghuni peternakan binatang ini mengajarkan apa yang kita kenal sekarang sebagai autocratic legalism, kondisi di mana penguasa menggunakan cara yang “seolah-olah” demokratis demi melanggengkan kekuasaan yang dimilikinya. Misalnya dengan merevisi atau membuat Undang-Undang yang secara substansi berseberangan dengan cita-cita demokrasi.

 

"The animals believed every word of it. Truth to tell, Jones and all he stood for had almost faded out of their memories. They knew that life nowadays was harsh and bare, that they were often hungry and often cold, and that they were usually working when they were not asleep. But doubtless it had been worse in the old days. They were glad to believe so. Besides, in those days they had been slaves and now they were free, and that made all the difference, as Squealer did not fail to point out." 

- George Orwell, Animal Farm

 

Cirinya gampang dilihat, yaitu pelemahan setiap komponen yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi kekuasaan. Di Indonesia, ada tiga komponen utama pengawas kekuasaan. Pertama, adalah oposisi. Tanpa oposisi fungsi balance and control tidak tercapai dalam penyelengaraan pemerintahan khususnya dalam hal penerapan kebijakan publik. Pemerintahan yang tanpa oposisi akan kehilangan keseimbangan. Dan sepanjang sejarah, otoritarianisme lahir dari ketidakseimbangan semacam itu. Itulah mengapa fungsi terpenting dari oposisi adalah mencegah otoritarianisme. Kedua, lembaga negara pengawas kekuasaan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi dan Mahkamah Konstitusi. Ketiga, tentunya adalah masyarakat. Tanpa masyarakat yang aktif dalam mengawal demokrasi, keadilan hanyalah menjadi cita-cita belaka. 

Dengan keadaan saat ini, kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana kondisi ketiga komponen tersebut. Jangan sampai karena tanpa oposisi, pemangkasan kewenangan pengawas kekuasaan, dan pengebirian hak-hak sipil, kita mendatangkan musibah yang sama yang menimpa Peternakan Para Binatang.

 

Ikuti tulisan menarik Bryan Jati Pratama lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler