Resensi Novel Klasik A.A. Navis: Kemarau

Rabu, 3 Mei 2023 07:33 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kemarau merupakan salah satu karya dari sastrawan Indonesia, yaitu A.A Navis. Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1957. Navis memberikan kejutan kepada para pembacanya dengan sindiran tajam tentang persoalan kehidupan beragama. Sindiran tersebut dapat dilihat di novel ini.

IDENTITAS BUKU;

Judul Buku                  : Kemarau

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penulis                        : A.A. Navis

Penerbit                      : Gramedia Widiasarana Indonesia

Tahun Terbit                : 2018

Jumlah Halaman        : 176 halaman

ISBN                             : 978-602-05-0353-0

 

RESENSI BUKU:

Kemarau ini merupakan roman yang menceritakan tentang di sebuah tempat atau desa di daerah Sumatera Barat yang memiliki masalah di musim kemarau. Masalah tersebut dikarenakan padi-padi yang mengering akibat dari air parit yang sudah tak mengalir lagi. Oleh karena itulah mereka meminta bantuan pada dukun untuk menurunkan hujan dan tak ada hasilnya. Lalu, setelah itu mereka ingatlah pada Tuhan dan melakukan sembahyang. Hasilnya pun juga sama. Setelah itu mereka pun pasrah.  

Melihat kondisi yang seperti itu, seakan-akan kisah tersebut merupakan sebuah gambaran dari kebiasaan orang-orang yang sangat malas sekali untuk berusaha. Mereka hanya meminta dan berdoa tanpa ada kerja keras dan usaha yang mendampinginya. Perbuatan tersebut hanyalah perbuatan sia-sia. Memang tak ada salahnya jika kita berdoa, namun harus disertai dengan usaha. Jelas sekali novel ini merupakan sindiran tajam untuk beberapa manusia dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan atau menghadapi cobaan Tuhan.

Selain itu, hadirnya tokoh Sutan Duano merupakan obat atau solusi dalam segala permasalahan yang terjadi. Sutan Duano memberikan ide pada masyarakat tersebut agar permasalahan di musim kemarau ini teratasi. Tapi, para penduduk setempat tak mengindahkan ide tersebut dan menganggap Sutan Duano itu aneh dan gila. Perjuangan Sutan Duano dalam memperbaiki kebiasaan para penduduk setempat sangatlah tak mudah. Dibalik misteri siapa itu Sutan Duano ternyata ia memiliki permasalahan lain akibat dosa-dosa yang telah ia perbuat di masa lalu.

            “Telah ditakdirkan rupanya bahwa mulut manusia semata untuk makan saja, juga untuk bicara. Untuk makan ada hingganya, yakni sampai kenyang. Tapi, untuk bicara manusia takkan ada puas-puasnya. Demikianlah orang-orang di kampung ini telah bicara sepuas hatinya di mana mereka sempat berkumpul. Hanya bicara seorang diri rupanya orang tak mau memakai mulutnya sebab takut kalau dikatakan gila.”

Melihat dari kutipan di atas, terlihat sekali ciri khas dari A.A. Navis dengan satire-nya terhadap manusia yang suka sekali berbicara terutama membicarakan orang lain. Bahkan menurut majalah Sastra Volume 01 Edisi 03 Juli 2002 menyebutkan bahwa A.A. Navis sebagai “Sastrawan Satiris Ulung”. Julukan sebagai Sastrawan Satiris Ulung ini berkaitan dengan sikapnya yang kritis dengan berbagai persoalan kehidupan dan kemasyarakatan. Tak hanya terlihat pada novel kemarau ini, sindiran tajamnya Navis juga terlihat di salah satu cerpennya yaitu Robohnya Surau Kami yang menjadi cerpen terbaik tahun 1955 dari Majalah Kisah.  Cerpen ini juga sudah diterjemahkan ke dalam empat bahasa, yaitu Inggris, Jerman, Perancis dan Jepang.

Sudah banyak karya sastra dalam berbagai bentuk yang telah dihasilkan oleh A.A. Navis dari sejak ia menulis pada tahun 1950. Karya-karyanya meliputi 23 judul buku, lima antologi bersama sastrawan Indonesia lain dan delapan antologi yang terbit di luar negeri. Tak hanya itu, A.A. Navis juga telah menulis lebih kurang 100 makalah dan artikel.

Dari sekian banyaknya karya, A.A. Navis telah meraih sejumlah penghargaan. Selain penghargaan dari cerpen Robohnya Surau Kami sebagai cerpen terbaik, ada pula Saraswati, si Gadis dalam Sunyi dan Cerita Rakyat dari Sumatera barat 2 yang mendapatkan penghargaan untuk Novel Remaja Terbaik dari Unesco/Ikapi pada tahun 1998. Pada tahun 1970, Navis juga mendapatkan penghargaan untuk cerpen terbaik  dari Radio Nederland pada sayembara menulis cerpen Kincir emas, dengan judul Jodoh. Pada tahun 1971, Navis juga memenangkan sayembara cerpen dari majalah Femina dengan judul Kawin. Pada tahun 1988, Navis mendapatkan Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Empat tahun kemudian, Navis lembali mendaptkan penghargaan Hadiah Sastra dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand. Lalu, pada tahun 2000, Navis memperoleh Satya lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.

 

KELEBIHAN BUKU:

Selain mengandung sindiran, novel ini juga mengandung pesan moral yang dapat kita teladani. Salah satunya adalah kutipan berikut ini;

   “Kalau kau sudah besar kelak, kau harus ingat kata-kata Bapak ini. Kalau hatimu disakiti orang, jangan ambil tindakan segera. Pikir dulu. Sudah dipikir, pikir lagi. Yang dipikirkan, apa ada gunanya kita marah itu apa tidak….”

Kutipan tersebut menyiratkan bahwa kita tidak boleh tersulut emosi jika disakiti orang lain. Selain itu, alur ceritanya sangat menarik dan mampu membuat pembacanya tertampar oleh sindiran-sindiran yang diberikan oleh A.A. Navis.

 

KELEMAHAN BUKU:

Bagian penutup yang sangat singkat. Perlu dijabarkan kembali mengenai permasalahan yang terjadi pada akhir kisah.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Puti Endah P.

Podcaster, dari siniar Copoyes Podcast. Penikmat kisah fiksi, film dan menulis.

0 Pengikut

img-content

Keraguan

Sabtu, 2 September 2023 10:40 WIB
img-content

Ulasan Novel Paula Hawkins - Into The Water

Minggu, 21 Mei 2023 17:32 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua