x

Pixabay

Iklan

Em Fardhan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Rabu, 17 Mei 2023 09:00 WIB

Senyum Aurora

Sebuah cerpen moral fantasi

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

       Kontes malam ini berjalan sangat ramai dan megah. Gegap gempita dari berbagai hadirin menggema luar biasa. Lampu-lampu kristal, ornamen berlian dan zamrud, serta musik instrumen komposer ternama bersatu padu menjadi komposisi yang sempurna.

Di balik panggung muncul peri-peri anggun berpakaian gemerlap. Sayap mereka bercahaya. Rambut mereka bertaburan bintang-bintang paling indah. Saat mereka satu persatu muncul, makin gemparlah para hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan dan siulan paling paripurna.

Tahun ini adalah kontes yang kesekian kali di seluruh kerajaan peri. Kontes paling bergengsi yang berjalan sudah hampir satu abad lamanya. Kontes yang membuat siapa siapa wakilnya, akan membuat kerajaan tersebut terangkat dan disegani oleh kerajaan lain.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setelah melalui audisi yang sangat ketat, terdapatlah lima nama dari lima kerajaan peri di dunia yang terpilih.

Pertama, ada Amara, si manis dari kerajaan Eldoria. Kedua, ada Elara si kulit eksotis dari kerajaan Serindale. Ketiga, ada si rambut emas Aria, dari kerajaan Verindian. Keempat ditempati peri bersuara indah, Seraphina dari kerajaan Aveloria. Dan terakhir, si pemilik lesung pipit dari kerajaan Solara, Aurora.

 

Lima nama peri dari wakil lima kerajaan di atas bukanlah nama-nama peri biasa, tetapi peri yang sangat terkenal dengan senyum paling menawan di kerjaan masing-masing. Ya, ini adalah kontes dunia, kontes siapa peri yang memiliki senyum paling menawan.

 

Ada tiga juri yang akan menduduki singgasana yang akan memilih pemenangnya. Kesemuanya adalah peri laki-laki.

 

Pertama, ada si dingin Ezra. Kedua, ada si macho Maximus. Dan terakhir, ada si kekar Lucius. Mereka bertiga adalah tiga juri dunia peri yang sudah punya integritas dalam kontes itu. Konon, untuk menjadi juri kontes—yang diwajibkan hanya peri laki-laki itu—harus melewati persaingan yang cukup berat. Ada darah, air mata, dan nyawa yang mesti diperjuangkannya. Namun, ada satu hal yang wajib mereka miliki: yakni Mata Suci. Mata yang tidak bisa tersihir oleh godaan macam apapun. Mata yang bisa melihat kejujuran sedalam apapun. Dan Mata yang mampu menolak sihir ilusi bagaimanapun. Dan ketiga juri ini telah mempunyai Mata Suci yang luar biasa tajamnya.

 

Kontes pun dimulai. Lima peri wanita mulai mengepakkan sayapnya satu persatu. Berkeliling di depan panggung sembari tersenyum. Karena ini adalah kontes untuk melihat senyum paling menawan, maka setiap kontestan wajib memperlihatkan senyum paling menawan dari mereka.

 

Tak butuh waktu lama, para penonton yang awalnya sangat ramai itu perlahan tumbang satu persatu. Tenang, itu sudah biasa dan sewajarnya. Karena mereka yang tumbang tak cukup kuat menahan sihir senyum memesona dari para kontestan. Beberapa yang masih punya ketahanan menahannya, mereka hanya akan berperilaku seperti orang gila. 

 

Nanti di akhir acara, para juri akan menyadarkan mereka dengan kekuatan sihir Mata Suci mereka. Sehingga para hadirin akan sembuh seperti sedia kala.

 

Sedangkan juri, akan tetap tegar duduk di kursinya karena memang mereka memiliki Mata Suci, yang mampu meredam sihir pesona dari para kontestan.

 

Setelah berjalan cukup lama. Usai para kontestan memperlihatkan senyum paling menawan yang dimiliki masing-masing peri. Kini, tibalah pengumuman itu. Rupanya ketiga juri cukup lama berdialog yang cukup alot, hanya demi memilih satu pemenang diantara peri-peri itu.

 

Terutama si Ezra, ia tidak setuju dengan keputusan kedua rekannya. 

 

"Ia memiliki senyum palsu. Tidak tulus," kata Ezra kepada kedua rekannya. Ketika kedua rekannya akhirnya memilih satu nama.

 

"Ayolah. Dia benar-benar menawan, bagaimana mungkin kau melihatnya palsu. Apakah kekuatan Mata Sucimu itu sudah memudar," balas Lucius kepada Ezra. 

 

Ezra menatap Lucius sesaat. Merasa direndahkan. Namun, kemudian ia diam ketika Maximus ternyata sependapat dengan Lucius.

 

"Benar. Kau tahu. Aku adalah juri paling senior di antara kalian. Tentu aku punya Mata Suci dan pengalaman lebih unggul. Aku setuju dengan pendapat Lucius. Wanita itu senyumnya luar biasa," timpal Maximus.

 

Ezra tak bisa berkata-kata, meski dalam hatinya ada yang mengganjal. Ia yakin bahwa Mata Sucinya telah menangkap kebenaran—bahwa senyum peri yang dipilih kedua rekannya sebagai pemenang itu hanya senyum kepalsuan. Namun, karena kalah senior dengan kedua rekannya dan tentu kalah suara. Ia akhirnya diam saja.

 

Apa boleh buat. Dua suara lawan satu, ia terpaksa setuju.

 

Kemudian ketiga juri menyatukan kekuatan Mata Suci mereka, untuk menyadarkan para hadirin. Setelah sadar, para hadirin bertepuk tangan dan bersiul lagi lah mereka.

 

Namun, kemudian suasana hening, ketika pembawa acara, si Ibanez memberitahukan bahwa sebentar lagi pemenang akan diumumkan.

 

Ketiga juri terbang ke arah podium, siap untuk mengumumkan siapa pemenangnya. Sayap-sayap mereka yang megah dan kokoh, membuat para hadirin takjub juga. Para juri itu juga adalah peri yang terpilih.

 

Hadirin yang telah disadarkan oleh ketiga juri kini menanti harap-harap cemas. Suasana yang awalnya sangat ramai kini berubah tegang. Perlahan lampu sorot terlihat berkedip-kedip. Lalu disusul musik menegangkan. Membuat rasa penasaran para hadirin menjadi sempurna. 

 

Maximus sebagai juri senior membuka suara, "Para hadirin semua. Jujur saja, kami bertiga cukup kesulitan memilih pemenang dalam kontes tahun ini. Dikarenakan kelima kontestan adalah peri-peri yang terpilih. Tentu mereka adalah peri dengan senyum terbaik di kerajaan masing-masing."

 

Disusul Lucius, "Benar kata Maximus. Kami bertiga bahkan hampir saling mem/ bunuh hanya demi memilih satu pemenang."

 

Kemudian tawa hadirin pecah. Mereka sudah tahu bahwa juri ini mempunyai selera humor yang tinggi. Ia berkata begitu hanya bercanda, untuk mencairkan suasana.

 

Sedangkan Ezra terlihat tersenyum kecut. Ia harus berpura-pura setuju dengan keputusan dua rekannya.

 

"Baiklah tanpa menunggu lebih lama lagi. Kami bertiga akan mengumumkan siapa peri terbaik di tahun ini yang menjadi pemenang kontes senyum paling menawan," ujar Lucius sembari melirik kedua rekannya agar bersiap.

 

Sedangkan kelima peri tak kalah tegangnya. Sayap mereka semakin berpendar tak beraturan menandakan rasa gugup mereka.

 

"Yang akan menjadi pemenang dalam kontes kali ini adalah ...."

 

Musik dan lampu bersatu padu melahirkan ketegangan yang memuncak.

 

"Si pemilik lesung pipit, peri Aurora dari kerajaan Solara!!!" Kompak ketiga juri berteriak.

 

Bergemuruhlah suasana. Hadirin yang memang sejak awal mendukung Aurora berteriak semakin histeris. Juri-juri saling pandang dan tersenyum kepada Aurora. Sedangkan Aurora sendiri terkejut bukan main. Tak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi pemenang dalam kontestan tahun ini. 

 

"Silahkan pemenang memberikan satu dua patah kata atas kemenangannya. Sekali lagi kita berikan tepuk tangan yang paling megah kepada Aurora!!!" Seru Ibanez, si pembawa acara. 

 

Bergemuruhlah lagi dari segala penjuru.

 

Aurora terbang memutar sesaat, lalu terbang menuju podium untuk mengambil piala simbol kemenangan. 

 

Setelah menerima piala lambang kemenangannya, Aurora mengucapkan beberapa kata yang anggun dan mampu membuat para hadirin terutama pendukungnya makin kagum.

 

Selesailah acara itu dengan lancar. Ditutup dengan acara tarian para peri-peri yang indah.

 

Namun, Ezra, diam-diam punya rencana kepada Aurora. Kalau orang lain, bahkan kedua rekannya yang memiliki Mata Suci pun tak percaya, ia ingin Aurora sendiri yang mengetahui bahwa senyumnya itu adalah palsu belaka.

 

***

       Aurora begitu bahagia malam ini. Wajahnya yang memang sudah cantik terlihat makin sempurna karena hatinya sedang bahagia, menjadi pemenang kontes tahun ini.

 

Saat ia hendak bersiap pulang ke kerajaannya dengan keluarganya , tiba-tiba ada satu sosok terbang ke arahnya.

 

Sosok itu adalah Ezra.

 

"Apakah kau tidak punya malu membawa piala kemenangan yang bukan hakmu, Nona?"

 

Kaget lah Aurora dan keluarganya, begitu menyadari tiba-tiba Ezra hadir dan berkata seperti itu.

 

"Apakah maksud Anda tuan juri?" Berkatalah Aurora sembari mendelik penasaran.

 

"Aku tahu senyum yang kau tampilkan di acara tadi itu adalah palsu. Tidak benar-benar senyum tulus."

 

Suasana hening sebentar. Lalu kemudian ayah Aurora, Orion bersuara. Ia merasa tersinggung.

 

"Apa maksudmu, Tuan Juri. Putriku sudah menjadi pemenang, ia terbukti memiliki senyum yang paling menawan, kalian para juri juga lah yang memutuskan, bukan? Lalu, kenapa sekarang menemui kami dan berkata seperti itu?"

 

Ezra tersenyum kecil, ia menimpali perkataan Orion, "Maaf Tuan Orion. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung. Yang memilih putrimu, Aurora, sebagai pemenang bukanlah aku, tapi kedua rekanku. Aku tidak setuju seperti mereka, karena yang aku lihat memang senyum Aurora tidak tulus. Aku hanya berkata apa adanya."

 

Mereka saling lirik-melirik. Suasana tegang lagi.

 

"Tenang. Aku tidak akan menuntut apa-apa. Para peri penyelenggara pun sudah setuju bahwa Aurora adalah pemenangnya, hanya saja kalau kalian ingin membuktikan bahwa ucapanku ini benar, ikutlah ke kerajaanku. Kau akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya," kata Ezra panjang lebar.

 

"Tidak. Aku dan putriku tidak ada waktu buat ke sana, setelah ini kami akan punya banyak kesibukan," jawab Orion sembari menatap putrinya, seolah memberi sinyal bahwa ia harus mengikutinya.

 

Namun, jawaban Aurora tidak sama dengan Orion.

 

"Baiklah. Aku ikut denganmu Tuan Ezra. Aku bukanlah peri pengecut dan penakut. Aku ingin tahu juga, kenapa kau bisa menilai bahwa senyumku adalah senyum palsu," jawab Aurora dengan penuh kepastian.

 

Setelah Auorora meyakinkan Orion, akhirnya Aurora pun diijinkan ikut ke kerajaan Ezra.

 

.

 

Ezra bukanlah anak raja. Ia hanya anak peri biasa. Namun, sejak kecil ia punya kecerdasan dan semangat belajar yang tinggi. Hingga ia mendapatkan beasiswa dari kerajaan untuk sekolah peri ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga ia akhirnya terpilih menjadi satu dari tiga juri kontes ternama di dunia peri.

 

Ezra membawa Aurora ke kerajaannya. Kerajaan Ezra bernama Thundoria. Kerajaan kecil yang masih sangat primitif diantara kerajaan-kerajaan lain. Maka itulah, kerajaan ini tidak begitu familiar. Namun, berkat jasa Ezra yang akhirnya menjadi juri di kontes dunia peri, perlahan kerajaannya disegani oleh kerajaan lain. Raja kerajaan Thundoria tentu sangat berterima kasih dengan Ezra atas itu.

 

Setelah melewati medan yang cukup sulit, karena kerajaan Thundoria sangat terpencil, akhirnya pada pagi harinya, tepat saat sang fajar menampakkan diri, Ezra dan Aurora sampai juga.

 

Ezra sangat terkenal di kerajaannya. Wajar, karena berkat dia lah kerjaan Thundoria diperhitungkan dan diakui eksistensinya oleh kerajaan lain.

 

Begitu sampai di gerbang masuk kerajaan Thundoria, Ezra disambut dengan sangat antusias oleh peri-peri lainnya. Mereka memeluk bahkan mencium dengan perasaan kagum Ezra itu. Semua mengelu-elukan Ezra bak pahlawan saja.

 

Aurora hanya diam saja dari tadi. Ia terus mengikuti ke mana Ezra terbang.

 

Aurora di sini merasa tidak dihargai. Ia sudah pergi ke banyak kerjaan, semua tahu dan kenal dia. Banyak yang terpesona dengan dirinya. Namun, di sini. Di kerajaan kecil dan pelosok ini, ia seperti tidak dikenal dan dihargai. 

 

Ada rasa tersinggung sebenarnya, tetapi sekaligus juga penasaran.

 

"Tak usah heran, Nona. Di sini berbeda dengan kerajaan lain. Jadi, tidak usah heran kamu yang seorang peri ternama bahkan baru saja memenangkan kontes bergengsi itu tidak dikenal di sini," kata Ezra kemudian kepada Aurora seolah mampu menebak kebingungan Aurora.

 

Aurora melirik Ezra. Tersenyum kecut diledek seperti itu.

 

"Aku mau membawamu ke suatu tempat, yang akan membuktikan bahwa senyum kamu selama ini sebenarnya tidak jujur."

 

"Ke mana, Tuan?" Penasaran juga Aurora. "Ke kerajaanmu? Menemui Raja kerajaan Thundoria?" terka Aurora.

 

"Bukan."

 

"Lalu?"

 

"Ke pasar desa," jawab Ezra santai.

 

Aurora mendelik bingung. Keningnya berkerut.

 

"Ke pasar? Buat apa?"

 

"Tak usah banyak tanya. Ikut saja nanti kamu akan tahu sendiri, Nona."

 

Karena penasaran, akhirnya ia menurut saja. Hanya mulutnya yang terlihat mencebik menandakan ia tengah kesal.

 

"Sekarang coba beli makanan," ujar Ezra begitu mereka sampai di tengah pasar.

 

Suasana pasar tidak begitu ramai, mungkin karena masih terlalu pagi. Di pasar banyak barang-barang dan makanan yang asing bagi Aurora. Makin heran lah Aurora dengan kerajaan ini.

 

Lebih aneh lagi, banyak pembeli yang hanya senyam-senyum saja, lalu kemudian tinggal ambil barang dan pulang.

 

Aurora kemudian menghampiri ke salah satu penjual makanan. Lalu mengambil satu dan bersiap membayar. Ia merogoh berlian yang sangat indah dari balik bajunya dan siap diberikan. Terlihat sedikit tersenyum simpul, terbesit dalam hatinya ingin menunjukkan sebuah barang yang ia bawa adalah barang berharga yang hanya peri bangsawan saja yang memilikinya.

 

"Aku ambil satu, Tuan. Ini ambilah, tak perlu kasih kembalian," ujar Aurora sembari menyodorkan berlian yang indah sebagai mata uangnya.

 

Penjual tampak bingung. Sedangkan Ezra hanya tersenyum.

 

"Di sini, hal seperti itu tidak berguna, Nona Aurora. Mata uang di sini berbeda dengan kerajaan lain," tukas Ezra pelan. Mencoba menjawab kebingungan Aurora.

 

"Berbeda? Lalu dengan apa aku membelinya."

 

"Dengan senyuman saja, Nona." Terdengar penjual tadi bersuara. Sebelum Ezra menjawab pertanyaan Aurora.

 

"Dengan senyuman?" lirik Aurora yang sedikit kebingungan.

 

"Ya, benar. Hanya cukup dengan senyuman," tegas Ezra.

 

Kerjaan Thundoria memang sangat unik. Ia tidak memiliki mata uang sebagaimana kerajaan lain yang ketika membeli sesuatu harus dengan emas, berlian, batu mulia, atau sejenisnya. Namun, mata uang di Thundoria adalah senyuman. Yah, senyuman.

 

"Baiklah. Mudah sekali kalau begitu," ucap Aurora senang.

 

Lalu ia tersenyum. Bahkan kemampuan senyum yang ia tampilkan di kontes, ia tunjukkan saat ini.

 

"Maaf, Nona. Senyum Anda tidak berlaku," jawab penjual itu dengan santai.

 

Ezra hanya tersenyum kecil sambil terus mengawasi.

 

Sedangkan Aurora kaget, tak menyangka. Bagaimana bisa senyumnya yang bahkan menjuarai kontes dunia itu tak berlaku di sini?

 

"Katamu cukup dengan senyum, aku sudah tersenyum kenapa masih tidak berlaku?" Suara Aurora agak meninggi. Ia mulai emosi, merasa dipermainkan dari tadi.

 

Penjual menjawab, "Benar, Nona. Senyum memang mata uang di sini, tapi yang berlaku adalah senyum penuh kejujuran, bukan senyum kepalsuan."

 

Meledaklah tawa Ezra yang tadi hanya mengamati saja. Sedangkan Aurora Kini terlihat marah.

 

Aurora bergegas meninggalkan tempat itu. Ia terbang ke suatu pohon tua yang sangat besar, tak begitu jauh dari tempat itu. Ia kemudian menangis. Tersedu-sedu.

 

"Benar, kan, kataku?" Tiba-tiba Ezra sudah berada di sampingnya.

 

Aurora masih terus menangis. Hatinya berkecamuk. Bercampur antara rasa marah dan malu.

 

"Nona Aurora. Apa yang kamu lakukan selama ini memanglah baik. Namun, tetap saja itu tidak asli, hanya imitasi. Aku tahu Tuan Orion bukanlah orang tuamu sesungguhnya, melainkan pamanmu. Orang tuamu sudah tiada sejak kau kecil bukan?"

 

Aurora menatap Ezra sesaat. Ia tak mau mengelak banyak hal, karena ia tahu, tahu bahwa apa yang dikatakan Ezra benar. 

 

Ia selama ini menutupi luka hatinya bahwa ia sebenarnya merindukan kasih sayang ayah dan ibu kandung. Bukan orang lain, bahkan pamannya sendiri sekalipun. Hati kecilnya menangis pedih sebenarnya, iri dengan peri lain yang hidup utuh bersama keluarga kandungnya.

 

Yah, ia baru menyadari. Bahwa berpura-pura tersenyum sepanjang hidupnya bukanlah senyum yang benar-benar jujur. Senyum itu hanya ia gunakan untuk menutupi luka masa kecilnya. Luka yang sangat menyakitkan. Namun, ia tak tahu bahwa senyum untuk menutupi luka ternyata bukanlah sebuah kejujuran.

 

"Nona …." Suara Ezra membuyarkan keheningan yang tercipta. "Luka tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan berpura-pura baik-baik saja, Nona."

 

Aurora menatap lekat mata Ezra. Mencoba menyelami apa maksud perkataannya.

 

"Apa maksudmu, Tuan?"

 

"Luka tidak sepenuhnya sembuh hanya karena ia tutupi dengan merasa baik-baik saja. Hanya dengan mencoba tersenyum dan bertopeng riang selama ini. Padahal, kenyataannya luka itu masih mengendap di lubuk hati yang paling dalam," tukas Ezra.

 

Aurora diam, tahu bahwa perkataan itu adalah untuk dirinya. Ia mulai menyadari.

 

Lalu Ezra menceritakan kisah panjang. Kisah tentang kerajaannya yang pernah diserang kerajaan lain. Hingga akhirnya banyak kehancuran yang terjadi. Peri-peri kecil banyak kehilangan saudara, orang tua, dan temannya. Namun, akhirnya mereka kini bisa bangkit kembali. Bukan dengan merasa baik-baik saja, tapi benar-benar sembuh yang nyata.

 

"Kamu tidak sendiri, Nona Aurora, aku pun dari kecil telah kehilangan orang tua," berkata Ezra sembari tersenyum.

 

Aurora merasa simpati. Apalagi setelah mendengar cerita panjang tentang kerajaan Ezra tadi.

 

"Lalu, bagaimana cara kalian bangkit dan sembuh dari luka-luka itu kalau tidak dengan merasa baik-baik saja, Tuan?"

 

Ezra melirik Aurora sekilas. Lalu menerawang cakrawala.

 

"Hanya dengan keberanian memaafkan dan menerima. Hanya itu obat untuk sembuh dari luka, Nona. Selama kita belum bisa memaafkan dan menerima, kita akan terus terlukai sepanjang hayat, bahkan ketika kita tutupi dengan sebuah senyuman terindah sekalipun."

 

Aurora menyimak dengan serius apa yang dikatakan Ezra 

 

"Nona, kebahagiaan itu bukanlah hidup yang tanpa luka, karena dunia ini adalah tentang dualitas. Hitam dan putih akan saling berpasangan, hidup tanpa luka adalah sebuah kemustahilan. Namun, ketika kita telah mampu menerima dan memaafkan segala yang telah terjadi dalam hidup kita itu, kita akan bisa bahagia. Bahagia yang sebenarnya, bukan bahagia palsu, merasa baik-baik saja padahal dalam lubuk hati tersimpan luka yang nyata."

 

Semilir angin menggoyang dedaunan sekitar dan menyapu sayap mereka dengan lembut. Seolah ingin ikut mendengarkan Ezra berkata.

 

Aurora kemudian tersenyum. Mulai mengerti apa maksud Ezra. Kali ini bukan senyum yang merasa baik-baik saja hanya demi menutupi luka, tapi senyum yang sebenarnya senyum. Senyum tulus yang baru pertama ia rasakan. Ia mulai mengerti apa arti bahagia yang sebenarnya.

 

"Nah, sekarang senyummu baru laku untuk membeli di pasar," celetuk Ezra tiba-tiba.

 

Aurora mendelik menatap Ezra, kemudian mendekat dan tangannya hendak memukul, tapi Ezra terbang duluan. Aurora mengejar, tampaknya ia gemas sekali dengan candaan Ezra itu.

 

Mereka terlihat saling kejar-kejaran dan tertawa-tawa bahagia sekali pagi hari ini.

 

***

 

End.

 

Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB