Gambaran Dehumanisasi dalam Sastra dan Firman

Sabtu, 17 Juni 2023 15:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Manusia adalah mahluk paling mulia. Meskipun demikian manusia bisa jatuh menjadi mahluk tidak mulia. Bagaimana gabarannya dalam sastra ? Ikuti terus.

Nenek moyang kita orang Indonesia memiliki keunggulan dalam bidang sastra. Mereka mewariskan tradisi sastra yang lumayan tua dan lumayan kaya.  Mereka mampu belajar dan menyerap sastra yang dominan pada masanya. Terutama sastra dari India. 

Meskipun mengimpor dari sana, mereka tidak sekedar menerjemahkan atau menjiplak.  Alih alih menjiplak mereka mengolah lagi cerita impor seperti Ramayana dan Mahabarata.  Tokoh, setting dan alur jadi sedikit berbeda. 

Kedua wiracerita itu menjadi sangat Jawa.  Saking kentalnya rasa lokalnya orang Jawa di masa lalu percaya cerita itu terjadi di Jawa, bukan di India.  Di Dieng ada sungai bawah tanah yang dinamai gangsiran Aswotomo.  Ini adalah nama anak Begawan Durno.

Konon Ketika perang besar Baroto yudo sudah selesai dan Kurowo sudah kalah,  Aswotomo masih  melawan. Dia menggali tanah untuk membuat terowongan yang menembus ke dalam benteng Pendowo Limo. Dia lalu menyerang dan berhasil menewaskan banyak tokoh kunci.  Terowongan yang digali Aswotomo itulah yang dinamai gangsiran Aswotomo oleh orang Jawa.

Gambaran tokoh memang banyak persamaannya dengan India.  Karena memang nenek moyang mengimpornya dari sana.  Meskipun demikian gambaran tokoh secara fisik dengan boneka sudah berbeda dengan India.   Boneka kulit alias wayang kulit Jawa memiliki gaya khas Jawa yang sangat berbeda dengan lukisan India.

Buto dan monyet

Dalam pandangan saya tokoh tokoh buto alias raksasa dan juga tokoh tokoh monyet adalah metafora dari dehumanisasi.   Buto alias raksasa adalah gambaran orang yang dikuasai oleh nafsu angkara murka.  Buto belum tentu bertubuh tinggi besar.  Ada tokoh Cakil yang bertubuh kecil. Ada juga buto perempuan Bernama Sarpokenoko.  Dia adalah adik dari Rahwono sang raja Alengko yang zalim.

Satu hal yang sama adalah wajah mereka yang selalu sangar.  Tingkah laku mereka selalu kasar. Dan perbuatan mereka yang selalu menzalimi liyan.  Mereka tidka pernah berbuat baik.  Bahkan digambarkan kalau mereka suka memangsa manusia.  Tentu ini adalah metafora. Bukan berarti memakan daging manusia beneran.

Gambaran menarik lain di cerita wayang adalah monyet. Ini juga metafora dari kaum yang belum mengenal peradaban dan hanya menuruti ketamakannya.  Tokoh monyet ini bervariasi.  Ada yang jadi raja seperti Subali dan Sugriwo. Dua saudara yang bermusuhan berebut tahta dan Wanita. Ada Anoman yang jadi jendral pasukan monyet.  Bahkan setelah tua Anoman ini menjadi pendeta dengan gelar Begawan Mayangkoro.

Kisah Subali dan Sugriwo yang saudara kandung tapi bermusuhan karena berebut tahta dan wanita ini adalah metafora ketamakan. Mereka lebih mengutamakan keuntungan pribadi daripada persaudaraan.

Boneka wayang raksasa dan monyet itu juga digambarkan menyeramkan. Wajah mereka merah atau hitam. Mata mereka tajam melotot.  Mulut mereka lebar dan memiliki gigi taring tajam.

Itu juga metafora dari kelakuan dan sifat mereka.  Itu adalah perlambang sifat manusia yang tidak punya kasih sayang di hati mereka.  Hati mereka keras, kasar dan kejam.

Mata melotot adalah gambaran sifat kejam dan hanya melihat kesalahan liyan. Mulut lebar adalah gambaran bahwa yang keluar hanyalah kata kata kasar, gibhah dan kata kata negatip.  Tidak ada kalimat kasih sayang, tidak ada kalimat positif. Tidak ada kebaikan yang diproduksi oleh mulut mereka.

Dengan kata lain buto dan ketek itu adalah lukisan dari dehumanisasi. Kemeorosotan derajat manusia.  Merosot dari derajat manusia yang khur menjadi monster.  Manusia adalah mahluk yang memberi kebaikan buat liyan. Monster hanya fisiknya berujud seperti manusia tapi hatinya gelap dan sakit. Perbuatannya selalu menzalimi dan merugikan liyan.

Gambaran di dalam AL Qur’an

Sekarang mari kita bandingkan dengan firman Alah dalam Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an ada ayat yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dalam keadana sebaik baiknya tapi kemudian merosot menjadi sangat rendah, kecuali yang beriman dan beramal soleh.

Dalam surat At Tin disebutkan:

 

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

(At Tin ayat 4,5 dan 6)

 

Bagaimana dengan gambaran monyet atau kera. Adakah gambaran serupa? Mari kita cermati.

 

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina” (QS. Al A’raf: 166).

 

“Dan engkau telah mengetahui tentang orang-orang dari kalian yang melanggar batasan Allah pada hari Sabtu, maka kami katakan para mereka: ‘jadilah kalian kera-kera yang hina’” (QS. Al Baqarah: 65).

 

Ternyata ada manusia yang dijadikan kera oleh Allah swt. Mereka adalah orang orang yang melampaui batas.

Penutup

Pelajaran dari Al Qur’an dan dari sastra sudah cukup. Bahwa manusia sejatinya berderajat tinggi. Tapi ada yang turun derajatnya menjadi kera.  Pilihannya terserah Anda.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua