x

Jokowi

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Minggu, 9 Juli 2023 12:12 WIB

Terhapusnya Jejak Kaki Pak Jokowi di Pulau Buton

Apakah pak Jokowi berani datang ke pulau Buton sekali lagi? Karena pak Jokowi sudah menyakiti dan melukai hati rakyat Buton. Penantian rakyat Buton selama 32 tahun mengharapkan kedatangan pak Jokowi, ternyata sia-sia dan hampa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak terasa waktu telah berlalu dengan begitu sangat cepatnya. Sekarang sudah 10 bulan berlalu, sejak untuk pertama kalinya pak Jokowi datang berkunjung ke pulau Buton, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 27 September 2022. Pak Jokowi adalah presiden RI kedua yang telah datang ke pulau Buton. Presiden yang pertama kali datang ke pulau Buton adalah pak Harto. Pak Harto datang ke pulau Buton pada tahun 1990.

Kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton sejatinya sudah sangat ditunggu-tunggu oleh rakyat Buton selama 32 tahun. Rakyat Buton mengharapkan kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton akan mampu merubah nasib aspal Buton, dan juga nasib mereka. Permohonan rakyat Buton kepada pak Jokowi hanya satu. Wujudkanlah hilirisasi aspal Buton sesuai dengan janji pak Jokowi. Karena aspal Buton adalah harapan satu-satunya bagi rakyat Buton untuk dapat hidup sejahtera di masa depan.

10 bulan sudah berlalu, dan kelihatannya pak Jokowi sudah melupakan janjinya untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Oleh karena itu pak Jokowi perlu diingatkan kembali, dengan menyimak dan memperhatikan rekam jejak digital pak Jokowi ketika berkunjung ke pulau Buton pada tahun 2022 yang lalu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengutip berita dari www.setneg.go.id tanggal 27 September 2022, dengan judul “Potensi Aspal di Buton Besar, Presiden Jokowi Putuskan Impor Aspal”. Antara lain, pak Jokowi juga mengatakan: “Pengolahan aspal harus dikerjakan oleh Kabupaten Buton melalui berbagai skema kerja sama, baik dari BUMN, maupun Swasta”.

Pernyataan pak Jokowi ini kelihatannya masih bias. Seolah-olah masih tergantung di awang-awang dan terbang di angan-angan. Dan belum putus, tuntas, dan selesai makna yang diucapkannya. Seandainya saja, pak Jokowi menginstruksikan untuk bekerja sama dengan BUMN, mohon pak Jokowi mengatakan dengan jelas dan tegas, BUMN yang mana? Mengapa pak Jokowi tidak berani terang-terangan?. Dan ada kesan, seolah-olah sengaja mengambangkan keadaan, atau menutup-nutupi sesuatu misteri. Mengapa pak Jokowi tidak mengatakan secara spontan dan lugu untuk bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero), sebagai sebuah perusahaan BUMN terbesar, yang selama ini sudah memproduksi aspal minyak dari kilangnya di Cilacap, Jawa Tengah?

Dan seandainya saja, pak Jokowi menginstuksikan untuk bekerja sama dengan Swasta, mohon pak Jokowi mengatakan dengan jelas dan tegas, siapa-siapa saja nama-nama perusahaan-perusahaan pengimpor aspal yang seyogyanya harus bertanggung jawab dan menangani aspal Buton. Mengapa pak Jjokowi harus takut dan sungkan untuk menyebutkan nama-nama perusahaan-perusahaan pengimpor aspal ini satu per satu? Bukankah mereka sudah mengeruk keuntungan yang sangat luar biasa besar dari aspal impor selama 43 tahun lebih?

Seharusnya pak Jokowi berani menginstruksikan kepada PT Pertamina (Persero) dan perusahaan-perusahaan pengimpor aspal ini untuk berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan pemegang Ijin Usaha Penambangan (IUP) untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Mengapa hal ini tidak berani pak Jokowi katakan? Apakah ada alternatif lain yang lebih baik dan bijak? Apakah sekarang sudah terlambat untuk mengatakannya? Dan bukankah lebih baik terlambat mengatakannya, daripada tidak sama sekali?   

Akibat dari pak Jokowi takut atau sungkan untuk menyebutkan nama-nama perusahaan-perusahaan BUMN dan Swasta yang harus bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Buton untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton, maka sampai sekarang ini, setelah 10 bulan kemudian sejak kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton, jejak kaki kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton sudah terhapus. Seolah-olah pak Jokowi tidak pernah datang dan menginjakkan kakinya di pulau Buton. Karena tidak ada sesuatu yang tersisa, dan telah pak Jokowi perbuat untuk aspal Buton selama berada di pulau Buton. Mirisnya lagi, nasib aspal Buton masih tetap sama dengan nasib aspal Buton ketika pak Harto datang ke pulau Buton pada tahun 1990. Jadi pak Jokowi datang ke pulau Buton untuk tujuan apa?

Apakah pak Jokowi berani datang ke pulau Buton sekali lagi? Karena pak Jokowi sudah menyakiti dan melukai hati rakyat Buton. Penantian rakyat Buton selama 32 tahun mengharapkan kedatangan pak Jokowi, ternyata sia-sia dan hampa. Sangat disesalkan sekali, pak Jokowi sudah lupa dengan janjinya untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Mengapa janji suci itu begitu sangat mudah dilupakan? Padahal kalau pak Jokowi paham, janji itu adalah utang. Dan utang itu akan diminta pertanggung jawabannya. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Tetapi bubur masih bisa dimakan, asalkan diberi bumbu dan telur sebagai penyedapnya. Hati dan perasaan rakyat Buton sudah terluka. Apakah masih bisa diobati? Apakah masih ada kesempatan kedua bagi pak Jokowi? Bukankah jejak kaki pak Jokowi selama berada di pulau Buton sudah terhapus? Apakah masih ada pelipur lara untuk rakyat Buton? Apakah pak Jokowi sudah ingat kembali dengan janjinya untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton?

Janji itu adalah utang. Dan utang itu akan diminta pertanggung jawabannya. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Masak sekarang ada orang mau membayar utang, ditolak? Seandainya saja pak Jokowi masih mempunyai niat baik, dan nyali untuk membayar utang janji mewujudkan hilirisasi aspal Buton, tangan rakyat Buton masih terbuka lebar. Urusan dunia harus diselesaikan di dunia saja. Janganlah sekali-kali urusan dunia dibawa-bawa sampai ke akhirat. Karena apabila sudah sampai di akhirat, tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.

Sejatinya, urusan mewujudkan hilirisasi aspal Buton adalah sangat mudah. Tetapi mengapa menjadi begitu kompleks? Apakah ini penyebabnya masalah tehnis, ekonomis, atau politis? Rakyat Buton sudah menanti kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton selama 32 tahun. Tetapi kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton tidak meninggalkan jejak bekas kaki sama sekali. Jadi kalau seandainya rakyat Buton harus menunggu kedatangan presiden baru 5 tahun lagi, rasanya tidak akan ada masalah. Asalkan jejak kaki presiden baru itu nanti akan tertancap dalam di bumi Wolio. Dan sekaligus juga tertancap dalam di setiap hati rakyat Buton.

Pak Jokowi, jangan main-main dengan janji akan mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Karena janji itu adalah utang. Dan utang itu akan diminta pertanggung jawabannya. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Mumpung sekarang masih ada waktu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler