x

Gambar oleh Frantisek_Krejci (https://pixabay.com/id/photos/kemiskinan-hitam-dan-putih-emosi-4561704/)

Iklan

Ratna Nisrina Puspitasari

Pengajar di SMP Negeri 1 Doplang
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Jumat, 4 Agustus 2023 15:47 WIB

Nestapa di Balik Telepon

Selama hidup di desa ini, Parto tak pernah terpikirkan harus mengalami kondisi seperti ini. Menanggung beban dan malu tanpa paham bagaimana cara menghapusnya. Dirinya tak paham sambungan sore itu adalah malapetaka yang menghantui hari-hari tuanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Matahari bangun dari peraduan di kala Parto dengan langkah rapuhnya membawa cangkul di bahu. Langkahnya yang ringkih tak mampu mengejar udara pagi yang saling berhembus, berkejaran dengan langkah kaki. Mata sayunya menatap jalan dengan hampa. Ia menyusuri jalanan dengan penuh rasa hampa, tampak dari sorot matanya yang redup.

Selama hidup di desa ini, Parto tak pernah terpikirkan harus mengalami kondisi seperti ini. Menanggung beban dan malu tanpa paham bagaimana cara menghapusnya. Dirinya tak paham sambungan sore itu adalah malapetaka yang menghantui hari-hari tuanya. Suara lirih yang memanjakan telinga seolah menyihir jiwanya. Sapaan ramah dari nomor telepon tak dikenal memperdaya ia dan sang istri, Suminah.

Parto dan sang istri mengira bahwa Tuhan telah menolong mereka melalui deringan telepon pagi itu. Mereka menganggap uluran tangan dari sang penelepon adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Malaikat yang mereka anggap sebagai juru selamat atas masalah-masalah yang terjadi. Masih ingat di ingatannya, suara perempuan itu mendayu-dayu, memikat bagai sihir.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ia tak sanggup menolak uluran tangan yang ditawarkan oleh sang penelepon. Ia sangat butuh bantuan itu secepat mungkin. Tak pernah terpikirkan akan menjadi seperti ini. Kalau waktu bisa diputar, tak akan pernah ia menerima tawaran itu. Bahkan, tak akan sudi ia mengangkat telepon pagi itu. Sungguh telepon pembawa sial yang seumur-umur tak akan pernah ia terima kalau bakal seperti ini.

Ia hanya memikirkan sang istri yang tiap hari selalu menangis. Hampir gila dengan segala teror yang terjadi. Ia khawatir jika sang istri sampai depresi. Apalagi mulut tetangga tak bisa ia atur sesuka hati. Ada saja omongan menyakitkan yang keluar dari mereka. Sang istri sampai tak berani keluar rumah, sekedar pergi ke masjid saja sampai malu dan takut.

Pagi ini saja, sang istri sudah menangis sesegukan di meja makan. Air mata sang istri membuat Parto porak poranda, sudah kesekian kali ia menyaksikan sang istri menangis. Makanan yang tersaji di atas meja mendadak tak menarik untuk disantap. Parto mengambil teko di atas meja, dituangkannya air ke dalam gelas kaca. Ia teguk segelas air sampai kandas. Sambil menghelas napas, ia rengkuh bahu sang istri.

“Bu, sudahlah… kita hadapi apapun yang terjadi.”

“Aku sudah tak sanggup Pak, kita sudah kehilangan muka. Semua tetangga sudah tahu,” jawab Minah sambil sesenggukan.

“Aku tahu Bu, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Kita cari jalan lain, pasti ada jalan keluarnya.”

“Jalan yang seperti apa Pak? Bapak sendiri sudah tahu, kita jadi bahan gunjingan warga satu desa. Tak ada yang tak tahu masalah kita, aib kita sudah diobral ke mana-mana. Lama-lama aku edan Pak!” tangis Suminah makin histeris.

“Sabar Bu…sabar…nyebut sama yang punya hidup, kita masih punya Tuhan,” ujar Parto sambil memalingkan muka, tak sanggup melihat air mata sang istri.

Ia sadar betul  ini semua salahnya.  Jika saja ia mau bertanya pada orang lain, mungkin tak seperti ini jadinya. Parto sungguh kesal dengan dirinya sendiri, ia marah pada dirinya. Kalaupun pantas, ia ingin memaki-maki segala keputusan yang dengan lancang meluncur dari mulutnya.

Kini, ia semakin kesal dengan ulah para tetangga yang sesuka hati membicarakan keluarganya. Mereka tak paham kabar berita yang beredar, namun dengan lancang bicara sesuka hati. Padahal, tak sekalipun apa yang menimpa Parto dan Suminah merugikan orang lain. Justru tetangga yang tak tahu kebenarannyalah yang memperburuk keadaaan ia dan sang istri.

Hingga detik ini pun Parto tak mau bercerita pada anak-anaknya. Selain takut membebani, dirinya khawatir jika martabat anak-anaknya ikut tercoreng. Untunglah anak-anak Parto tinggal jauh darinya sehingga tak perlu terusik dengan kabar yang dihembuskan para tetangga.

Keadaan makin memburuk tatkala kondisi Suminah semakin tak terkendali. Sang istri kerap melamun, terkadang juga tanpa alasan melempar gelas, piring, atau segala benda yang ada di sekitarnya. Parto semakin bingung dengan keadaan yang ada.

Puncaknya, ia menemukan sang istri tergeletak tak berdaya bersimbah darah selepas ia pulang dari berladang. Darah tampak menggenang di lantai dapur rumahnya. Seketika air mata turun dari matanya. Rupa-rupanya sang istri sengaja menyayat tangannya, hingga darah mengucur begitu saja. Tanpa pikir panjang, teriakan Parto menggelegar sore itu, mengundang para tetangga yang langsung bergegas membawa Suminah ke rumah sakit.

***

Namun, sepandai-pandai ia menyimpan bangkai pasti suatu saat akan tercium juga. Itulah yang terjadi hari ini. Tanpa disangka masalah yang disembunyikan Parto mengemuka begitu saja di depan anak-anaknya.

Peristiwa yang dialami Suminah sore itu mau tak mau membawa kedua anaknya yang tinggal jauh darinya datang. Parto tak kuasa menyembunyikan masalah yang menimpa dirinya hingga menyebabkan sang istri tergeletak tak berdaya di ruang perawatan. Dalam hati bersyukur bahwa nyawa sang istri masih terselamatkan.

“Pak sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ibu sampai ingin bunuh diri?” tanya Ardi, salah satu putranya yang datang sehari setelah peristiwa sore itu.

“Ibumu ngga kuat jadi bahan omongan tetangga tiap hari, mungkin ibumu tertekan. Dan akhirnya malah seperti ini…, jawab Parto tak tahan menahan kesedihan yang ada di hatinya. Tak sadar air matanya sudah menetes begitu saja.

“Pak, aku minta tolong ceritakan dari awal, sebenarnya masalah Bapak apa sampai-sampai jadi bahan omongan tetangga. Tolong jangan ada yang ditutupi Pak,” mohon Ardi dengan hati-hati, sedih sekaligus penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya.

Setau dirinya, selama ini tak pernah ada kabar mengkhawatirkan tiap ia berkabar dengan keduanya, baik melalui telepon maupun pesan singkat. Setidaknya sampai ia mendapat telepon Parto sore itu yang membuat dirinya panik bukan kepalang.

Mendapat pertanyaan seperti itu, mau tak mau Parto menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya. Ia tak kuasa menutupinya lagi. Tanpa terlewatkan sedikitpun ia menceritakan awal mula petaka yang terjadi pada dirinya.

“Ya Tuhan… ini ulah pinjaman online ilegal Pak,” celetuk Ardi selesai mendengar cerita yang terlontar dari Parto.

“Padahal Bapak hanya telat sebentar, tapi entah kenapa para tetangga juga ikut dikirimi pesan, katanya bapak diminta segera bayar karena sudah jatuh tempo. Itu pun sudah Bapak bayar pada akhirnya, namun tetangga sudah terlanjur tau. Dan ternyata malah jadi bahan gunjingan para tetangga di mana-mana. Ibumu sampai ketakutan keluar rumah,” ujar Parto menambahkan.

“Sebenarnya buat apa Bapak sampai pinjam segala?” tanya Ardi ingin tahu.

“Biasa…buat biaya pupuk sama tanam, ngga untuk aneh-aneh. Kebetulan sisa panen kemarin belum juga terjual, jadi Bapak terpaksa cari pinjaman dulu. Toh sebenarnya ngga begitu banyak yang Bapak pinjam.”

“Ya Tuhan…Bapak kan bisa pinjam aku saja Pak kalau memang sedang butuh,” ujar Ardi seraya memegang tangan Parto.

“Bapak ngga ingin merepotkan kamu dan anak-anak Bapak, selama Bapak bisa usaha sendiri Bapak lebih senang. Kamu kan juga punya keluarga sendiri, pasti juga punya kebutuhan yang haru dipenuhi. Terlebih Bapak juga ngga menyangkan sampai seperti ini jadinya.”

“Ya sudah Pak… bapak yang sabar saja. Tapi aku minta jika Bapak memang perlu sesuatu bilang saja ke aku. Sebisa mungkin aku akan bantu Pak, jangan dipikirkan sendiri,” ujar Ardi dengan pilu. Ardi berjanji akan lebih peduli dengan orang tuanya. Terkadang karena jarak yang memisahkan, ia tak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi orang tuanya lebih suka mandiri daripada minta bantuan anak-anaknya.

Mendengar segala cerita Parto, hati Ardi seakan bertambah pilu. Orang tuanya hanyalah korban dari oknum-oknum yang ingin mengeruk keuntungan dari korbannya. Jika sudah seperti ini kerugian yang ditanggung bukan hanya sekedar materi namun juga kerugian morel karena nama baik orang tuanya sampai tercemar. Terlebih kondisi tersebut menyebabkan ibunya sampai terguncang dan berusaha bunuh diri.

Ardi curiga jika sang bapak tanpa sengaja memberikan akses data pribadi ketika mengakses pinjaman online ilegal. Wajar bila para tetangga mendadak tau. Kemungkinan data pribadi yang tersimpan di handphone Parto telah diakses oleh oknum yang menghubungi Parto tempo hari. Ia tak dapat menyalahkan Parto, ia hanya jengkel dengan ulah oknum tersebut yang memperdaya orang lain dengan cara seperti itu.

Ardi hanya dapat berpesan kepada Parto untuk lebih hati-hati dan tak sungkan lagi untuk bertanya atau minta bantuan kepada dirinya maupun sang adik. Ia tak mau keluguan dan ketidaktahuan orang tua nya dimanfaatkann oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Kini ia hanya dapat berdoa semoga kondisi sang ibu lekas membaik, sembari berharap kejadian buruk tak kembali dialami kedua orang tuanya maupun orang lain.

Ikuti tulisan menarik Ratna Nisrina Puspitasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu