x

Dr. Imam Safii (dokpri SSDarindo)

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 24 Agustus 2023 08:31 WIB

Menyebarluaskan Kebaikan Best Practise dengan Metode STAR ala Imam Syafi’i

Salah satu karya ilmiah yang dapat ditulis guru dan bermanfaat adalah Best Practise atau praktik baik. Isinya merupakan kumpulan pengalaman selama pembelajaran. Karya ilmiah dapat ditulis dan disebarluaskan kepada khalayak.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Praktik Baik atau Best Practise merupakan karya tulis yang berisi praktik baik guru dalam melakukan suatu aktivitas pembelajaran yang menggambarkan mengenai bagaimana keberhasilan guru dalam mendesain,  melaksanakan pembelajaran sampai dengan mengevaluasi.

Mengapa guru perlu menyusun Praktik Baik? Melalui Praktik Baik yang disusun, guru dapat mengembangkan profesi berkelanjutan. Tuntutan zaman semakin kompleks. Guru, selain harus mampu mengajar dengan baik juga harus mampu bagaimana mengevaluasi kemudian bagaimana menyebarluaskan kebaikan tersebut.

Menurut Dr. Imam Safi’i, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa S-2 yang sekaligus Dosen Pascasarjana Univiersitas Prof DR HAMKA, menyebarluaskan kebaikan dalam bentuk praktik baik, kebermanfaatannya itu jauh lebih cantik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Kebermanfaatannya akan jauh lebih panjang sehingga akan menjadi amal jariyah. Pada akhirnya kita akan memetiknya nanti menjadi buih-buih amal ibadah kita," jelas Dr. Imam Safi'i.

Dr. Imam mengingatkan, apabila dalam menulis Praktik Baik semata untuk tujuan praktis, terasa agak berat. Namun, akan jauh lebih ringan dan kita akan jauh mendapatkan manfaat yang lebih banyak lebih besar manakala kita ruhanikan.

Praktik baik yang ditulis Guru, dapat disebarluaskan ke seluruh dunia. Caranya  dengan menyebarluaskan karya ilmiah tersebut melalui jurnal-jurnal ilmiah. Jadi, semua orang akan membacanya. Ini tidak hanya pembaca yang berada di Indonesia, tetapi di seluruh dunia bisa mengaksesnya.

Oleh karena itu senantiasa ditekankan dalam artikel Best Practise,  pada bagian abstrak ditulis dalam dua Bahasa. Harapannya pembacanya itu bukan hanya dari Indonesia, tetapi dari luar.

Apa saja keuntungan menyusun Best Practise? Pertama, kita akan dapat menggunakannya sebagai bahan refleksi. Refleksi atas pelaksanaan pembelajaran sebelum berhasil. Apa saja yang menjadi faktor penyebabnya? Kemudian  faktor penunjangnya dan bagaimana rencana aktivitas selanjutnya.

Kedua, melalui Best Practise guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengetahui mengenai apa yang menjadi faktor penyebab kegagalan. Misalnya, dengan temuan itu kemudian mengidentifikasi berbagai macam faktor penyebabnya. Lalu mencari alternatif pemecahannya.

Alih-alih menyusun karya ilmiah itu “mudah” sebuah survei yang diungkap Dr. Imam menyatakan, dari 56 ASN yang disurvei baru ada 3 orang ya mampu menulis karya ilmiah. Ini berarti hanya sebesar 5,35% yang memiliki karya ilmiah Best Practise.  Jumlah 3 guru tersebut menurut Imam, karena memang mau membuat dan bisa membuatnya.  

Apa akibatnya? Kenaikan pangkat dan jabatannya terhambat kemudian banyak guru yang harus berhenti pada jabatan Pembina.  Solusinya? 

 

Metode STAR

Bagaimana cara menyusun Best Practise? Dr. Imam Syafi’i berbagi dengan KKG Gugus III Sukatani Kabupaten Bekasi jawa Barat. Lewat kemasan Pelatihan Kompetensi Guru dalam pengembangan Best Practise, ia menawarkan Metode STAR.

STAR merupakan akronim dari Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi. Apa yang harus kita tuangkan dalam S? Dalam langkah S (Situasi) yang harus dideskripsikan berupa situasi yang menjadi latar belakang terjadinya ataupun timbulnya masalah.  Misalnya rendahnya hasil belajar siswa.

Bertolak dari masalah tersebut, maka kita menemukan tantangan dengan berpikir mencari solusi alternatif.  Mengapa pertama itu menjadi permasalahan dan mengapa itu kok harus diselesaikan apa akibatnya kalau tidak diselesaikan.  

Jika kita memilih model dalam rangka menyelesaikan masalah tadi, tentu akan muncul pemikiran lanjutan berupa aksi. Apa sajakah? Berikutnya berisi tentang langkah-langkah dalam menghadapi tantangan, misalnya langkah awal, membuat perencanaan hingga mengevaluasi.

Dalam hal ini kita melakukan kajian kepustakaan. Kita melakukan kajian kepustakaan terkait dengan model-model pembelajaran tertentu yang dinilai cukup efektif  untuk menyelesaikan permasalahan. 

Ketika langkah S (Situasi), T (Tantangan), A (Aksi) telah dilaksanakan dengan baik, kita pun melakukan langkah R (Refleksi). Salah satunya adalah kebermanfaatan dari praktik baik yang dilakukan guru.  ***

 

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB