x

Iklan

Lentera Pustaka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Agustus 2019

Minggu, 10 September 2023 10:40 WIB

Literasi Isi Koper Kamu Kosong?

Kenapa koper kamu kosong? Dialog kematian antara malaikat dan sang arwah yang patut diambil hikmahnya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seorang manusia telah meninggal dunia.

Ketika ia menyadarinya, ia melihat malaikat pencabut nyawa mendekati dirinya dengan sambil memegang sebuah koper di tangan-Nya. Terjadilah dialog arwah manusia itu dan malaikat pencabut nyawa.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Malaikat: “Mari kita pergi.”

Arwah: “Kok, begitu cepat? Tapi saya masih memiliki banyak rencana.”

Malaikat: “Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi.”

Arwah: “Apakah isi koper yang dipegang itu?”

Malaikat: “Barang-barang punya kamu.”

Arwah: “Barang saya? Maksudnya barang-barang saya? Seperti baju saya, uang saya, perhiasan saya?”

Malaikat: “Bukan, barang itu tidak pernah menjadi milikmu. Itu milik dunia.”

Arwah: “Apakah itu ingatan dan kenangan saya?”

Malaikat: “Bukan, itu milik waktu.”

Arwah: “Apakah itu bakat dan kesuksesan saya?”

Malaikat: “Bukan juga, itu semua milik anugerah-Nya.”

Arwah: “Apakah itu istri dan anak-anak saya?”

Malaikat: “Bukan juga, itu milik hatimu.”

Arwah: “Kalau begitu, itu pasti tubuh saya.”

Malaikat: “Tidak, bukan. Tubuhmu milik debu tanah.”

Arwah: “Jika begitu, isinya tentu jiwa saya.”

Malaikat: “Kamu salah besar, sebab jiwamu itu milik Allah.”

 

Malaikat lalu menyerahkan “koper” tersebut ke sang Arwah.vDengan kebingungan dan penuh rasa takut sang Arwah membuka koper tersebut. Dan ternyata isinya “KOSONG”!!! Zonk selama ada di dunia.

 

Dengan hati kecewa dan air mata berlinang sang Arwah bertanya pada malaikat,
“Maksud malaikat, saya tidak pernah memiliki apapun.???!”

Malaikat pun menjawab: “Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tidak pernah memiliki apapun”

Arwah: “Lalu, apa yang menjadi milikku??!”

Malaikat: ”WAKTU-mu…! Saat-saat di waktu kamu HIDUP…. itulah milikmu…!!!”

 

Hikmahnya, mungkin kita lupa. Hidup adalah WAKTU. Tentang waktu yang dipakai untuk kebaikan atau terbuang sia-sia. Hargai setiap detik waktu yang tersisa. Apapun alasannya, jalani hidup dengan penuh rasa syukur dan bahagia.

 

Waktu yang menyuruh, di mana pun, untuk selalu berbuat baik. Mau membantu orang lain yang membutuhkan, jangan pernah merugikan apalagi menyakitkan orang lain. Waktu yang dipakai untuk hal-hal bermanfaat, sambil jauhi membicarakan kejelekan orang lain. Maka jangan bersikap merasa paling benar!

 

Waktu itu tidak suka orang yang berkeluh-kesah. Ngomel dan bersungut-sungut menyalahkan orang lain. Nikmatilah waktu setiap saat dan gunakan seproduktif mungkin. Selagi masih punya waktu.

 

Dan jangan pernah simpan kebencian, dendam, iri, kepahitan dan kejelekan orang lain. Tetaplah berbuat baik dan menebar manfaat sampai akhir waktu. Salam literasi! #TamanBacaan #LiterasiIsoiKoperKosong #TBMLenteraPustaka

 

Ikuti tulisan menarik Lentera Pustaka lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB