x

Merah putih.

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Senin, 2 Oktober 2023 18:47 WIB

Aku Indonesia, Nilai Tambah Hilirisasi Aspal Buton

Pertamina sebagai sebuah perusahaan BUMN terbesar harus berani tampil ke depan sebagai pahlawan, . Tujuannya untuk menunjukkan kepada para Investor dengan data-data, bahwa nilai-nilai tambah dari aspal Buton sangat banyak sekali.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mungkin tidak ada hilirisasi pertambangan yang seheboh dan seviral seperti hilirisasi aspal Buton. Hilirisasi nikel dan tembaga sudah berjalan dengan baik. Hilirisasi bauksit dan timah sedang dalam langkah-langkah persiapan. Tetapi hilirisasi aspal Buton, dibicarakan oleh  pemerintah saja, tidak. Bagaimana ini pak Jokowi? Hal ini yang telah membuat rakyat Buton merasa marah, kecewa, dan bertanya-tanya. Mengapa prioritas hilirisasi aspal Buton di mata pemerintah sangat rendah?. Seolah-olah pemerintah sengaja ingin mengatakan, bahwa tidak ada hilirisasi aspal Buton juga tidak apa-apa. Karena kita masih bisa impor aspal. Ini adalah pikiran picik dan dungu yang telah tertanam di dalam alam bawah sadar kita, sehingga akibatnya sampai sekarang ini aspal Buton tidak maju-maju.

Semua negara bisa melakukan impor aspal. Tetapi hanya ada satu negara saja yang memiliki potensi besar untuk mampu berswasembada aspal dengan memproduksi sumber daya aspal alamnya sendiri. Yaitu; Indonesia. Mengapa Indonesia sampai saat ini masih belum mampu berswasembada aspal? Karena bukannya Indonesia tidak mampu, tetapi karena Indonesia sendiri masih belum mau. Dan mengapa Indonesia masih belum mau? Karena mengimpor aspal itu sangat mudah dan menguntungkan bagi para importir aspal. Apa lagi Indonesia sudah mengimpor aspal selama 43 tahun lebih. Dan lucunya lagi, sampai saat ini pemerintah masih belum juga mau berupaya untuk menetapkan target kapan Indonesia akan berswasembada aspal. Kelihatannya pemerintah masih asyik terbuai dan terlena dengan nikmat dan nyamannya fenomena impor aspal ini.

Sejatinya, Indonesia sudah harus mampu berswasembada aspal sejak lama. Karena deposit aspal alam di Pulau Buton jumlahnya sangat melimpah. Tetapi sangat disayangkan sekali, pemerintah masih meremehkan dan mengabaikan potensi yang besar dari aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor ini. Aspal Buton dianggap masih banyak sekali masalah yang rumit, sehingga terlalu merepotkan untuk segera ditangani, dibangun, dan dikembangkan. Pemerintah sekarang masih sibuk, dan sedang banyak pekerjaan lain yang lebih prioritas, mendesak, dan penting. Sehingga lebih baik impor aspal saja. Dan program hilirisasi aspal Buton sudah diputuskan tidak masuk di dalam daftar Proyek Strategis Nasional. Kalau pemikiran pemerintah masih seperti ini terus, maka kapankah hilirisasi aspal Buton akan bisa terwujud? Dan pastinya hal ini akan mendorong dan melanggengkan kebijakan impor aspal berjalan terus menerus dengan mulus tanpa batas waktu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seharusnya cara pandang pemerintah mengenai potensi aspal Buton yang sangat luar biasa besarnya ini, seyogyanya pemerintah mampu berempati kepada nasib dan kesejahteraan rakyat Buton. Karena sudah hampir 1 abad lamanya, aspal Buton masih belum juga mampu menyejahterakan mereka. Pemerintah seharusnya memiliki rasa malu kepada anak-anak dan cucu-cucu, serta generasi yang akan datang. Karena pemerintah masih belum mampu menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia melalui upaya-upaya untuk berswasembada aspal. Padahal Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Sejatinya, tidak ada alasan apapun yang dapat diterima, mengapa Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal sampai sekarang. Padahal deposit aspal alam di Pulau Buton jumlahnya sangat melimpah.

Mungkin pemerintah sudah lupa, bahwa pada tahun 2008 harga minyak bumi pernah mencapai harga US$ 100 per barel, sehingga harga aspal impor naik secara signifikan ke harga US$ 825 per ton. Sehingga dengan demikian, pemerintah berupaya keras untuk memanfaatkan aspal Buton guna mensubstitusi aspal impor. Tetapi upaya-upaya ini telah gagal total, karena belum ditemukannya teknologi ekstraksi aspal Buton yang handal, ekonomis, dan ramah lingkungan. Akhirnya, sampai saat ini, fluktuasi turun-naiknya harga aspal impor itu sudah dianggap sebagai hal yang biasa saja. Dan tampaknya fenomena ini sudah dapat diterima dengan ikhlas dan pasrah, apa adanya. Tanpa adanya hasrat untuk memanfaatkan aspal Buton.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, harga aspal impor pun sedikit demi sedikit turun kembal ke harga normalnya. Dampaknya aspal Buton tidak menjadi perhatian yang serius pemerintah lagi. Mungkin disebabkan karena harga aspal Buton ekstraksi telah dianggap lebih mahal daripada harga aspal impor. Tetapi asumsi dan pendapat sepihak ini telah dibantah dengan data berdasarkan hasil feasibility study yang telah dilakukan oleh RTC Pertamina pada tahun 2020. Dimana harga aspal Buton ekstraksi adalah sebesar Rp 5.500 per kilogram. Sedangkan harga aspal impor adalah sebesar Rp 7.000 per kilogram. Namun sangat disayangkan dan disesalkan sekali, mengapa hasil feasibility study dari RTC Pertamina ini tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah?. Padahal harga aspal impor saat ini, pada tahun 2023, telah naik secara signifikan menjadi Rp 15.500 per kilogram.    

Isu harga aspal Buton ekstraksi lebih mahal daripada harga aspal impor telah membuat pemerintah tidak merasa antusias dan tertarik lagi untuk mengembangkan program hilirisasi aspal Buton. Sehingga dengan demikian, otomatis tidak akan ada satupun Investor yang termotivasi mau dan berminat untuk berinvestasi di bidang industri hilirisasi aspal Buton. Sungguh miris dan tragis, bukan? Fenomena ini terasa anomali, unik, dan aneh. Karena isu ini seolah-olah merupakan justifikasi dan pembenaran, bahwa pemerintah memang harus tetap dan selalu impor aspal terus, selamanya. Karena harga aspal Buton ekstraksi dinilai lebih mahal daripada harga aspal impor. Padahal apa yang sekarang sedang terjadi itu adalah baru sebatas gosip dan persepsi. Tetapi belum ada bukti-bukti konkrit yang telah didukung penuh oleh data-data secara ilmiah dan profesional.

Jadi bagaimana seharusnya kita menyikapi isu-isu miring dan negatif mengenai harga aspal Buton ekstraksi yang lebih mahal daripada harga aspal impor? Seyogyanya, kita memandang aspal Buton itu sebagai sebuah potensi besar nasional untuk mampu mensubstitusi aspal impor. Potensi aspal Buton ini bukan saja karena harganya bisa lebih murah daripada harga aspal impor, tetapi juga aspal Buton itu adalah sumber daya aspal alam milik bangsa dan negara Indonesia. Dan wajib dikelola oleh negara dengan baik untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Kalau kita sudah setuju dengan pernyataan dan definisi ini, maka kita seharusnya sudah mampu membuktikannya kepada dunia secara ilmiah dan profesional, bahwa harga aspal Buton ekstraksi itu sejatinya bisa lebih murah daripada harga aspal impor.

Bagaimana cara kita membuktikan bahwa harga aspal Buton ekstraksi bisa lebih murah daripada harga aspal impor? Dan nilai-nilai tambah apa saja yang akan diperoleh rakyat Indonesia? Untuk membuktikan paradigma ini, maka pemerintah harus merasa terpanggil, dan berani berpihak kepada rakyat Indonesia, dengan mendorong keras kepada Pertamina untuk segera menjelaskan mengenai hasil dari feasibility studynya tersebut. Mungkin harus dilakukan feasibility study ulang yang lebih rinci dan akurat, sehingga hasil dari feasibility study ini nanti akan dapat dipertanggung jawabkan dan dijadikan sebagai acuan bagi pemerintah untuk memastikan dan memutuskan. apakah program hilirisasi aspal Buton ini akan dapat dimasukan ke dalam kategori Proyek Strategis Nasional, atau tidak?

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa kebergantungan Indonesia kepada aspal impor sudah sangat besar sekali. Berapa pun harga harga aspal impor pasti akan dibeli juga. Karena tidak ada pilihan dan alternatif lain yang lebih baik. Dan kita juga sudah tahu, bahwa harga aspal impor itu ada kecenderungan akan naik terus di masa yang akan datang, sejalan dengan naiknya harga minyak bumi dunia. Tetapi apabila sudah ada produk aspal Buton ekstraksi, maka kita akan memiliki opsi dan daya tawar untuk menentukan pilihan. Siapakah yang terbaik di antara aspal Buton ekstraksi dengan aspal impor?. Baik dari sudut pandang harga, maupun kualitasnya.

Adapun satu hal yang harus diingat benar-benar adalah bahwa aspal Buton ekstraksi itu adalah produksi dalam negeri. Kandungan lokalnya tinggi. Dan seandainya saja harga aspal Buton ekstraksi, mungkin masih sedikit di atas harga aspal impor, seyogyanya pemerintah masih bisa mengtolerir dan memakluminya. Karena kualitasnya memang lebih baik. Oleh karena isu-isu negatif yang sedang berkembang di masyarakat sekarang, bahwa hilirisasi Aspal Buton dianggap masih memiliki resiko investasi yang sangat tinggi, perlu menjadi perhatian dan evaluasi yang serius dari pemerintah. Mungkin Pertamina, sebagai sebuah perusahaan BUMN terbesar, harus berani tampil ke depan sebagai pahlawan, untuk segera menunjukkan dan membuktikan kepada para Investor dengan data-data, bahwa nilai-nilai tambah dari aspal Buton itu sejatinya adalah sangat banyak sekali. Antara lain, yang terpenting dan paling utama adalah harga aspal Buton ekstraksi akan mampu bersaing sehat dengan harga aspal impor. Dan disamping itu juga memiliki nilai tambah yang sangat berharga: “Aku Indonesia”.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler