Bani-Bani dalam Sebuah Meditasi

Selasa, 5 Maret 2024 13:36 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagaimana mereka melayang: melambai-lambai dan mencerahkan, menundukkan alis berbintang mereka, kemudian bernyanyi dengan irama yang lembut. Dan tangan mereka seperti bunga bakung yang tak bernoda, dilipat di atas dada mereka yang penuh doa - Silivester Kiik (2024)

Menyusuri jalan terjal 

aku melihat dia yang lenyap

bergerak di atas awan

dahinya memakai bintang

matanya biru: dalam dan suci

tetap seperti dalam mimpi yang diberkati

melihat beberapa misteri sukacita

dengan kedalaman cinta yang tak terucapkan.

 

Jubahnya berwarna biru

seperti langit musim kemarau

jatuh dengan sapuan suci

dan keheningan suci yang berhembus

menekan ke dada

dengan bunyi ukulele yang mistik

dan tangannya seperti mutiara yang hidup

mengembara di atas dawai-dawai emas.

 

Petikan ukulele terdengar

siapa yang bisa mengucapkan atau menciptakannya?

dalam langit yang mendebarkan

setiap kenangan dan kesedihan

setiap sakit hati dan penderitaan

setiap ketakutan akan hari esok

melebur dalam istirahat yang mempesona.

 

Dan di sekelilingnya ada beberapa orang

cerah dengan jubah seperti awan sore

jubah api dan jubah perak

merah tua yang memudar seperti mawar

dan menggetarkan dengan perasaan-perasaan yang hidup

memperdalam denyut jantung masing-masing

hingga dalam kesurupan warna yang hidup

pelangi surgawi bersinar lebih terang.

 

Bagaimana mereka melayang: melambai-lambai dan mencerahkan

menundukkan alis berbintang mereka

kemudian bernyanyi dengan irama yang lembut

dan tangan mereka seperti bunga bakung yang tak bernoda

dilipat di atas dada mereka yang penuh doa.

 

Dalam nyanyian mereka berbaur

suasana lembut dari masa lampau

seperti nyanyian-nyanyian ibu di dekat buaian

ratapan ibu di dekat kubur

nyanyian cinta dan duka manusia

nyanyian-nyian cinta dan istirahat yang tak berkesudahan

dan dalam jeda musik: setiap denyut kesedihan mati.  

 

Wahai kekasih, kekasih hatiku

sia-sia aku menangis karena Engkau?

akankah  aku memanggil-Mu dari kemuliaan-Mu

untuk kenajisan dunia ini?

lihatlah, ia berlalu, ia lenyap

semua penglihatan itu mencair

tetapi seolah-olah bunga bakung surgawi

jatuh ke dadaku yang sakit

dengan rasa manis yang menyembuhkan

dengan nafas mistik yang menenangkan

aku terpesona untuk melupakan

angin musim hujan dan batu-batu pemali yang suram.

 

Atambua, 04 Maret 2024

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Silivester Kiik

Penulis Indonesiana.id, Guru, Penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, dan Pengurus FTBM Kabupaten Belu. Tinggal di Kota Perbatasan RI-Timor Leste (Atambua).

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua