x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Senin, 11 Maret 2024 13:40 WIB

Aspal Buton Berjuang Sendiri Menantang Zaman

Adapun aspal Buton, sejatinya masing sanggup dan rela untuk berjuang sendiri selama 1 abad lagi, demi untuk menyejahterakan dan memakmurkan generasi rakyat Indonesia berikutnya. Tetapi apakah kita semua sudah merasa yakin dan percaya akan mau kembali ke zaman penjajahan? Dijajah oleh aspal impor dan bangsanya sendiri?.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Aspal Buton adalah aspal alam yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Aspal alam Buton ini merupakan satu-satunya aspal alam yang terdapat di Indonesia, yang jumlah depositnya terbesar di dunia.

Sudah 1 abad lamanya aspal alam Buton menjadi saksi bisu proses perkembangan zaman di Indonesia. Mulai dari zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, kemerdekaan Indonesia, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Apakah mungkin zaman sekarang ini dapat kita sebutkan sebagai zaman Reformasi jilid 2? Dimana merupakan zaman kebangkitan aspal Buton?

Aspal Buton sudah berusia 1 abad, atau 100 tahun. Anehnya pemerintah tidak merasa sedikitpun bersalah dan mau bertanggung jawab, mengapa aspal Buton di usianya yang 1 abad ini masih belum mampu dimanfaatkan dan diolah untuk mensubstitusi aspal impor. Padahal apabila pemerintah mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, maka keuntungannya bagi bangsa dan negara Indonesia adalah sangat besar. Khususnya bagi rakyat yang tinggal di Pulau Buton. Tetapi mengapa dari zaman ke zaman, potensi aspal Buton yang sangat besar ini tega dibiarkan layu sebelum berkembang? Mengapa?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalau kita perhatikan bahwa Indonesia telah melewati masa-masa sulit mulai dari zaman penjajahan Belanda dan Jepang ke zaman Kemerdekaan. Rakyat mengharapkan apabila Indonesia telah merdeka, maka seluruh rakyat Indonesia akan hidup makmur dan sejahtera. Karena tanah air Indonesia memiliki banyak sekali dianugerahi banyak sumber daya alam yang sangat melimpah. Termasuk sumber daya aspal Buton. Tetapi nyatanya, hidup makmur dan sejahtera itu masih dalam wujud impian dan cita-cita semata. Bukan dalam bentuk realita. Memang kita sadar sadarnya, bahwa cita-cita itu wajib diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Kalau perlu dengan harta dan jiwa. Dan tentu bukan hanya dengan bermimpi.

Ketika usia zaman kemerdekaan masih muda, kita sadar bahwa aspal Buton bukan merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Masih banyak masalah-masalah negara yang lebih penting yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Dalam hal ini rakyat dapat memakluminya, karena Indonesia masih harus berjuang dengan masalah-masalah kemiskinan dan keterbelakangan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pembangunan.

Perubahan dari zaman Orde Lama ke Orde Baru merupakan sejarah kebangkitan industri Indonesia. Di bawah pimpinan presiden Soeharto, perekonomian Indonesia maju dan berkembang dengan pesat. Tetapi aspal Buton masih diproduksi secara sederhana. Meskipun pada tahun 1990, pak Harto telah datang berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, untuk menyaksikan deposit aspal alam yang melimpah. Tetapi mirisnya, setelah pak Harto kembali ke Jakarta, tidak ada sesuatupun yang telah berubah dengan aspal Buton. Tetap sama seperti pada zaman-zaman sebelum Orde Baru. Terpuruk dan terabaikan.

Waktu terus berlalu dengan cepatnya. Dari zaman yang satu ke zaman yang lainnya. Diharapkan dengan masuknya zaman ke dalam era Reformasi, pemerintah baru akan mulai melirik dan tertarik kepada potensi aspal Buton yang sangat besar untuk mensubstitusi aspal impor. Tetapi, lagi-lagi, aspal Buton harus mengeluh dan mengurut dada, sebagai tanda perasaannya telah terlukai. Karena pemerintah masih selalu memandang aspal Buton tidak berharga. Dan memilih kebijakan untuk lebih baik mengimpor aspal yang dianggapnya lebih mudah pelaksanaannya, dan lebih menguntungkan. Pemerintah menganggap masalah aspal Buton bukan merupakan prioritas utama pembangunan negara.

Pada tahun 2008 harga aspal impor melonjak dengan sangat tinggi sekali. Hampir 2-3 kali lipat, akibat adanya kenaikan harga minyak bumi dunia yang telah mencapai di atas US$ 100 per barel. Pemerintah baru mulai sadar, bahwa Indonesia memiliki aspal Buton yang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk mensubstitusi aspal impor yang harganya melangit tersebut. Tetapi, lagi-lagi, kelihatannya upaya-upaya pemerintah ini dilaksanakan dengan perasaan setengah hati. Akibatnya sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor aspal terus-menerus. Kenaikan harga aspal impor tidak menjadi masalah lagi. Karena mungkin justru semakin mahal harga aspal impor, akan semakin menguntungkan. Karena persentase komisi bergantung dari jumlah total aspal yang diimpor.

Kita boleh tertawa atau menangis melihat fenomena aspal impor yang telah berlangsung terus selama 45 tahun ini. Tidak ada anggota DPR, yang merupakan wakil rakyat, sebagai pengawas kebijakan pemerintah, yang merasa berkeberatan dengan impor aspal ini. Lagi-lagi, mungkin alasan mereka adalah aspal impor tidak menjadi masalah, karena asalkan pembangunan infrastruktur jalan-jalan di seluruh Indonesia dapat berjalan dengan cepat dan lancar. Aspal Buton tidak penting, karena kebutuhan aspal di dalam negeri masih bisa dipenuhi oleh aspal impor. Dan parahnya lagi, wakil-wakil rakyat asal Sulawesi Tenggara pun memilih untuk setuju, daripada mau memperjuangkan nasib aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor.

Sebenarnya pintu masuk untuk aspal Buton mensubstitusi aspal impor dapat terjadi pada tahun 2015. Beberapa bulan setelah Pak Jokowi dilantik menjadi presiden RI ke 7, beliau  telah menginstruksikan kepada semua jajaran kementerian-kementerian terkait untuk mensubstitusi aspal impor dengan aspal Buton. Tetapi mirisnya, sampai saat ini, di periode ke 2 pemerintahan pak Jokowi, aspal Buton masih belum mampu mensubstitusi aspal impor. Dan lucunya lagi, pada tanggal 27 September 2022, saat pak Jokowi datang berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, pak Jokowi telah memutuskan akan stop impor aspal pada tahun 2024.

Apakah pak Jokowi paham bahwa aspal Buton masih belum mampu mensubstitusi aspal impor?. Lho, kok pak Jokowi malah memutuskan untuk stop impor aspal pada tahun 2024? Aspal Buton ini sebenarnya mau dibawa kemana, pak Jokowi?.

Dan sekarang sudah tahun 2024, pak Jokowi sudah lupa dengan janjinya soal aspal Buton. Adapun pada saat ini aspal Buton hanya bisa berjuang sendiri menantang zaman. Sejatinya, apa nama zaman yang akan mampu memberikan kesempatan emas kepada aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor? Zaman kemerdekaan telah gagal total memberikan jembatan emas untuk aspal Buton. Zaman Reformasi lebih parah lagi. Justru aspal impor yang telah menjadi idola dan primadona. Lalu, zaman apa lagi harapan aspal Buton?.

Zaman Reformasi jilid 2, mungkin adalah zaman yang akan mampu memberikan kesempatan emas bagi aspal Buton untuk bangkit dari mati surinya. Berjuang untuk menantang zaman-zaman sebelumnya guna mensubstitusi aspal impor. 1 abad adalah waktu yang sangat lama sekali. Adapun aspal Buton, sejatinya masing sanggup dan rela untuk berjuang sendiri selama 1 abad lagi, demi untuk menyejahterakan dan memakmurkan generasi rakyat Indonesia berikutnya. Tetapi apakah kita semua sudah merasa yakin dan percaya akan mau kembali ke zaman penjajahan? Dijajah oleh aspal impor dan bangsanya sendiri?.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan