x

Ilustrasi Media Sosial

Iklan

Elin Sri Handayani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Februari 2024

Senin, 18 Maret 2024 09:55 WIB

Ikhtiar Jawa Pos Group di Era Disrupsi Teknologi

Di tengah pesatnya teknologi Jawa Pos mengalami tantangan serius. Banyak pembaca yang beralih mencari informasi dari media cetak ke media daring. Penurunan oplah di beberapa perusahaan koran menjadi bukti adanya keterpurukan bisnis media cetak. Bagaimana Jawa Pos bertahan?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa yang tidak tahu Jawa Pos? Salah satu media massa tertua di Indonesia yang didirikan pada 1 Juli 1949, berpusat di Surabaya. Sebelum dikenal dengan nama Jawa Pos, pertama kali didirikan namanya adalah Java Pos, dan didirkan oleh The Chung Shen  (Suseno Tedjo).

Jawa  Pos berkembang menjadi media dengan  jaringan lebih dari  200 media tersebar di Indonesia. Jaringannya meliputi media cetak dan stasiun televisi lokal dari Sabang sampai Merauke.

Akan tetapi, di tengah pesatnya teknologi media massa termasuk Jawa Pos mengalami tantangan serius seiring adanya ancaman baru di era disrupsi teknologi. Banyak pembaca yang beralih mencari informasi dari media cetak menuju media daring. Penurunan oplah di beberapa perusahaan koran menjadi bukti adanya keterpurukan  bisnis  media  cetak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berikut ikhtiar yang dilakukan Jawa Pos dalam menghadapi era disrupsi teknologi:

1. Mengembangkan Kekuatan Korporasi Media

Agar tetap berdiri kokoh walaupun dalam perkembangan teknologi dari zaman ke zaman Jawa Pos mengembangkan korporasi medianya dalam beberapa tahap. Tahapannya yaitu mulai  dari  kelompok  media di Jawa Pos, ekspansi industri bergerak ke Indonesia  Timur  (Sulawesi,  NTB,  NTT, Bali,  sampai  Papua).  Setelah  itu,  ekspansi beralih    ke    Sumatera   dan    Kalimantan. 

Jawa Pos juga  melakukan   ekspansi  dengan  mengambil alih media cetak yang   hampir   mati,  melakukan   akuisisi,  penggabungan  (merger),  dan  mendirikan sendiri perusahaan media baru.

2. Konvergensi Media

Jawa Pos mengawali bisnis dari  media  cetak  nasional Jawa Pos. Kemudian, Jawa Pos memperluas bidang usahanya dengan media cetak lokal di  seluruh  Indonesia,  diikuti  televisi  lokal, tabloid,  majalah,  radio,  dan  media online. Kemudian  berkembang  dengan mendirikan  berbagai  lini  media  dan  bisnis lain. Semua tergabung dalam satu grup bernama Jawa Pos Group. 

3. Bisnis Non Media Sebagai Penunjang Jawa Pos

Jawa Pos mendirikan beberapa bisnis non media untuk menunjang kebutuhan perusahaan media massa atau bisnis utamanya. Beberapa bisnisnya seperti power   plant,  pabrik   kertas,   dan  bisnis  telekomunikasi, pembangkit    listrik,    penerbitan,   percetakan, dan pabrik pembuatan kertas.

4. Jawa Pos Memasuki Bisnis Digital 

Pada tahun 2014 Jawa Pos menghadirkan JawaPos.com pada 2016 bentuk digital ini menyediakan beragam fitur online dalam format multimedia (teks, foto, dan video) dan multi-platform (website, mobile site, dan mobile app). Pada 2017 Jawa Pos mempersembahkan The New and Improved JawaPos.com yaitu menyajikan pengalaman membaca kelas dunia. JawaPos.com juga hadir dengan konsep megaportal-portal berita, portal e-commerce (Iklan Jitu), Portal events JP Sportainment, dan portal interaktif Jawa Pos. 

Inovasi ini dilakukan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi. Tentunya juga menghasilkan benefit bagi perusahaan. 

5. Jawa Pos Multimedia (JPM)

Pada 2007 Jawa Pos mendirikan Jawa Pos Multimedia (JPM) untuk mengkonsolidasi stasiun televisi yang dimiliki oleh Jawa Pos Group yang pada saat itu sudah memiliki 15 stasiun televisi lokal di berbagai daerah. 

Disrupsi teknologi mendorong Jawa Pos pada 26 Oktober 2016 yang mana JPM Stream dapat dinikmati dengan mengunduh aplikasinya di Google Play Store. Khalayak bisa menikmati informasi dari stasiun televisi oleh Jawa Pos dengan Android Phone. Inovasi aplikasi televisi digital berbasis streaming ini bisa lebih luas menjangkau khalayak.

Pada dasarnya semua perusahaan media massa akan tetap berdiri kokoh dan tumbuh jika beradaptasi dengan zaman. Bagaimana  proses kerja media massa beradaptasi dengan teknologi dan digitalisasi.

*)Artikel ini adalah tugas dari mata kuliah Komunikasi Digital yang diampu  Rachma Tri Widuri, S.Sos.,M.Si.”

Penulis adalah mahasiswa semester 4 pada Prodi Produksi Media, Politeknik Tempo.

Ikuti tulisan menarik Elin Sri Handayani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu