x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Sabtu, 6 April 2024 21:01 WIB

Masihkah Ada Cinta Untuk Aspal Buton?

Semoga presiden baru periode 2024-2029 akan menjawab pertanyaan ini dengan tindakan konkrit, yakni mau mewujudkan swasembada aspal pada tahun 2035.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Masihkah ada cinta untuk aspal Buton? Ini bukan sebuah judul lagu. Dan ini juga bukan sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk pak Jokowi. Tetapi ini adalah sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Presiden baru periode 2024-2029, pengganti pak Jokowi. Era pemerintahan dua periode pak Jokowi sudah berada di ujung perjalanan. Dan sebentar lagi segalanya akan berakhir. Cukup banyak jasa-jasa yang sudah pak Jokowi perbuat untuk aspal Buton. Namun kejujuran dan kesungguhan hati pak Jokowi untuk mau memajukan aspal Buton masih diragukan, dan dipertanyakan.

Aspal Buton sudah berusia 1 abad. Dan Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Tetapi mengapa aspal Buton masih dianggap tidak berharga? Padahal sejatinya harta karun aspal Buton berada di depan pelupuk mata kita. Dimana setiap orang akan dapat melihatnya dengan jelas sekali. Karena harta karun aspal Buton berada di atas permukaan bumi. Dan bukan terpendam dalam di dasar lautan. Atau di tempat-tempat tersembunyi yang tidak diketahui entah berantah berada di mana. Harta karun aspal Buton berada tepat di ujung hidung kita. Karena kita dapat mencium aromanya dengan sangat jelas dari dekat. Tetapi mengapa aspal Buton selama ini telah ditinggalkan? Dan mirisnya lagi, pemerintah lebih mencintai aspal impor.

Masihkah ada cinta untuk aspal Buton? Pertanyaan ini bukan merupakan sebuah permohonan yang memelas hati untuk dikasihani agar dicintai. Tetapi pertanyaan ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban kepada Presiden RI yang baru, mengapa Indonesia sudah 78 tahun merdeka, tetapi aspal Buton masih dianggap tidak bernilai? Apa yang salah dengan aspal Buton, sehingga tidak dihargai sama sekali oleh negaranya sendiri? Dan pemerintah malah lebih mencintai aspal impor dengan mengimpor aspal sesuka hatinya, tanpa ada target khusus kapan Indonesia akan mau berswasembada aspal.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengapa kita harus meminta pertanggungjawaban kepada residen RI yang baru, sehubungan dengan fenomena mengapa aspal Buton selama ini telah diabaikan, tidak dihargai, dan sengaja dilupakan? Karena Indonesia sudah 7 kali berganti presiden, tetapi mirisnya, aspal Buton masih juga terpuruk. Hal ini sudah tidak dapat diterima sama sekali oleh rakyat. Karena aspal Buton, sejatinya diyakini akan mampu mensubstitusi aspal impor, tetapi pemerintah tidak pernah peduli. Dan ketidakpedulian ini dapat dinterprestasikan dan diartikan sebagai ketidakadilan, dan keberpihakan pemerintah terhadap aspal impor.

Masihkah ada cinta untuk aspal Buton? Mungkin pertanyaan ini dapat ditujukan juga kepada kita semua, rakyat Indonesia. Khususnya rakyat Buton sendiri. Mengapa selama ini kita diam saja melihat di depan mata kita ada harta karun aspal Buton yang telah ditelantarkan semena-mena oleh pemerintah, tanpa ada sedikit rasa iba dan geram? Mengapa kita biarkan pemerintah mengimpor aspal, padahal deposit aspal alam Buton melimpah. Dimana hati nurani dan akal sehat kita melihat kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat ini? Dan hal ini sudah terjadi dan dilaksanakan oleh pemerintah selama 45 tahun. Dan kalau tidak segera kita minta untuk dihentikan, maka impor aspal akan berlangsung selamanya. Dan aspal Buton hanya akan menjadi saksi bisu selamanya, bahwa aspal impor telah menjadi raja jalanan di negeri kita sendiri.

Siapakah yang paling diuntungkan, apabila aspal Buton sudah mampu mensubstitusi aspal impor? Yang paling diuntungkan adalah pemerintah pusat, dan pemerintahan daerah Kabupaten Buton. Kalau pemerintah pusat tidak mau menghargai harta karun aspal Buton, maka pemerintah daerah Kabupaten Buton yang harus berani berjuang sendiri untuk aspal Buton. Coba Bupati Buton mendengarkan pertanyaan ini: “Masihkah ada cinta untuk aspal Buton?”. Apa yang terasa di dalam hati? Apakah detak jantung kita berdebar lebih keras dan cepat? Apakah keringat dingin mulai terasa? Dan apakah ada rasa penyesalah, mengapa selama ini aspal Buton dibiarkan merana? Dimana rasa tanggung jawab kita sebagai seorang pemimpin daerah? Apakah segala sesuatunya harus bergantung kepada kebijakan pemerintah pusat?

Coba kita tanyakan juga kepada pemuda-pemudi Buton: “Masihkan ada cinta untuk aspal Buton?”. Mungkin mereka akan balik bertanya: “Aspal Buton itu apa sih?”. Aspal Buton itu adalah harta karun yang berada di Pulau Buton. Harta karun ini apabila mau dimanfaatkan dan diolah menjadi aspal Buton ekstraksi untuk mensubstitusi aspal impor, maka berkah dari aspal Buton ini akan mampu menyejahterakan seluruh rakyat Buton, dan rakyat Indonesia. Mungkin mereka hanya akan tersenyum-senyum saja mendengarkan penjelasan dan informasi ini. Dan setelah itu, mereka akan kembali sibuk dengan gawainya. Apakah pemuda dan pemudi Buton masih bisa diharapkan untuk mau mencintai dan membela aspal Buton?. Bagaimana mungkin mereka akan mau mencintai dan membela aspal Buton, kalau mereka sendiri tidak pernah mengenal aspal Buton dengan baik?

Masihkah ada cinta untuk aspal Buton? Sebuah pertanyaan yang jujur dari aspal Buton untuk Presiden RI yang baru, rakyat Indonesia, Bupati Buton, dan pemuda-pemudi Buton. Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Aspal Buton tidak butuh jawaban ucapan cinta. Tetapi kalau Presiden RI yang baru, rakyat Indonesia, Bupati Buton, pemuda-pemudi Buton tulus mencintai aspal Buton, karena mencintai Indonesia, maka ucapkanlah cinta itu dengan karya, bhakti, dan perbuatan nyata. Karena hanya dengan karya dan perbuatan, kita akan bisa tahu pasti, apakah cinta itu berasal dari hati yang suci, atau hanya manis di bibir saja.

Masihkah ada cinta untuk aspal Buton? Semoga presiden baru periode 2024-2029 akan menjawab pertanyaan ini dengan tindakan konkrit untuk mau mewujudkan swasembada aspal pada tahun 2035. Dan berikrar demi Allah SWT dengan lantang di hadapan seluruh rakyat Indonesia: “Aspal Buton, saya cinta Indonesia!. Dan Indonesia, saya cinta aspal Buton!”.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan