x

Ilustrasi Pekerja Anak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Prima Mulia/Tempo

Iklan

Aye Sudarto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 Mei 2024 08:12 WIB

Masa Depan Kerja: Tantangan dan Peluang bagi Isu Perburuhan Anak

Perkembangan teknologi dapat mengurangi pekerjaan di sektor-sektor tradisional seperti pertanian dan manufaktur. Di sektor itu kerap terjadi perburuhan anak. Namun, ini juga bisa mendorong anak-anak ke pekerjaan informal yang lebih tersembunyi dan sulit diawasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Masa depan kerja menghadirkan tantangan dan peluang signifikan terkait isu perburuhan anak. Berikut adalah beberapa faktor kunci yang dapat memengaruhi situasi ini:

Otomatisasi dan Digitalisasi: Penghilangan Pekerjaan Tradisional: Perkembangan t

eknologi dapat mengurangi pekerjaan di sektor-sektor tradisional seperti pertanian dan manufaktur, di mana perburuhan anak sering terjadi. Namun, ini juga bisa mendorong anak-anak ke pekerjaan informal yang lebih tersembunyi dan sulit diawasi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kesulitan Akses Pendidikan: Di daerah di mana teknologi belum berkembang, anak-anak mungkin tetap terjebak dalam pekerjaan manual karena kurangnya akses pendidikan dan pelatihan yang relevan untuk masa depan digital.

Ketimpangan Ekonomi: Kemiskinan: Kemiskinan tetap menjadi pendorong utama perburuhan anak. Transformasi ekonomi yang tidak merata dapat memperburuk ketimpangan, meningkatkan risiko perburuhan anak di komunitas yang tertinggal.

Migrasi: Peningkatan urbanisasi dan migrasi untuk mencari pekerjaan bisa memaksa anak-anak terlibat dalam pekerjaan berbahaya atau tidak pantas di kota-kota besar.
Regulasi dan Pengawasan: Kepatuhan Hukum: Kurangnya penegakan hukum yang kuat dan pengawasan di beberapa negara dapat membuat perusahaan atau individu tetap mempekerjakan anak di bawah umur.

Industri Informal: Banyak anak bekerja di sektor informal yang sulit diatur, seperti pekerjaan rumah tangga atau usaha kecil keluarga, yang seringkali diabaikan oleh regulasi.
Teknologi dan Pendidikan: Edukasi Digital: Teknologi dapat digunakan untuk menyediakan akses pendidikan yang lebih luas dan berkualitas, membantu anak-anak keluar dari siklus kemiskinan dan perburuhan.

Pelatihan Keterampilan: Program pelatihan keterampilan digital dapat mempersiapkan generasi muda untuk pekerjaan masa depan yang lebih baik, mengurangi ketergantungan pada pekerjaan manual yang rawan eksploitasi.

Kesadaran Global dan Kerjasama Internasional: Inisiatif Global: Kampanye global dan kerjasama antar negara serta organisasi internasional dapat meningkatkan kesadaran dan menggerakkan aksi nyata untuk mengurangi perburuhan anak.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR): Semakin banyak perusahaan yang berkomitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan dan etis, termasuk memastikan rantai pasok mereka bebas dari perburuhan anak.

Perubahan Kebijakan dan Regulasi: Kebijakan Pro-Keluarga: Kebijakan yang mendukung keluarga miskin, seperti bantuan langsung tunai atau program beasiswa, dapat mengurangi kebutuhan anak-anak untuk bekerja.

Regulasi yang Diperkuat: Peningkatan penegakan hukum dan regulasi yang lebih ketat terhadap perburuhan anak bisa membuat praktik ini semakin berisiko dan tidak menguntungkan bagi pelaku.

Masa depan kerja menawarkan berbagai peluang untuk mengatasi perburuhan anak melalui teknologi, pendidikan, dan kerjasama internasional. Namun, tantangan besar masih ada, terutama terkait ketimpangan ekonomi, migrasi, dan regulasi yang lemah. Menghadapi isu ini memerlukan pendekatan multifaset yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi internasional, perusahaan, dan masyarakat.

Ikuti tulisan menarik Aye Sudarto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler