Anjuran Membuat Model bagi Representasi Krisis

Jumat, 31 Mei 2024 14:05 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kadang eskripsi masalah (krisis) dalam bentuk narasi saja tidak cukup, sebab menyebabkan multi-tafsir. Oleh sebab itu juga diperlukan suatu model pelengkap hingga masalahnya mudah dipahami, didiskusikan, dan dicarikan solusinya.

Penjelasan mengenai sesuatu (pesan, kondisi, situasi, pelajaran, masalah, atau bahkan krisis) pada umumnya dilakukan dengan cara lisan atau tulisan. Pada umumnya, cara lisan digunakan untuk mendeskripsikan hal-hal yang relatif sederhana, tidak terlalu penting, mudah diingat, dan "relevansi" (expired) waktunya pendek. Sedangkan cara tulisan digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang lebih baik dari pada cara lisan; mendeskripsikan hal-hal yang kompleks, penting, sulit diingat, dan yang relevansi panjang.

Pada situasi tertentu -- seperti halnya ketergesaan, keterbatasan waktu, dan kekhawatiran -- terkadang, cara yang dipilih tidak selalu sesuai dengan karakteristik umum dari pesan atau masalahnya. Sebagai misal, pada suatu kasus, masalah yang detil dan penting dijelaskan secara lisan. Sedangkan pada kasus yang lain, suatu pesan yang sederhana dan tidak terlalu penting justru dideskripsikan melalui tulisan yang rapih. Inilah ironisnya. Meskipun demikian, berdasarkan kedua kasus ini kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan cara masing-masing.

Kelemahan & Kelebihan Cara Lisan

Sebagaimana halnya suatu metode atau produk buatan manusia, dengan sudut-sudut pandang tertentu, tentu saja akan terlihat potensi-potensi kelemahan dan kelebihan relatifnya. Sehubungan dengan hal ini, maka potensi kelemahan cara lisan adalah:

(a) tidak mudah diingat (secara lengkap); sering terlupakan;

(b) sejak di awalnya berjalan apa adanya; strukturnya perlu diperbaiki dan informasinya cenderung tidak lengkap;

(c) informasi mengenai konteksnya sulit terselamatkan;

(d) bergantung pada faktor lingkungan (gangguan, kebisingan, dan situasinya);

(e) sangat bergantung pada pembicara dan pendengarnya (unsur subjektivitas);

(f) tidak mudah untuk diverifikasi dan dipercaya;

(g) tidak mudah untuk diedit, diupdate, disebarkan, dan dirujuk.

Ada pun potensi kelebihan cara lisan adalah:

(a) cepat & sederhana  penyampaiannya;

(b) kerahasiaannya lebih terjaga;

(c) keamanan pihak yang menyampaikan lebih terjamin.

Kelebihan Cara Tulisan

Untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting dan dalam jangka panjang, tentu saja cara lisan tidak memadai hingga akhirnya ditempuh cara tulisan. Ada pun kelebihan umum cara tulisan adalah:

(a) tidak perlu diingat (memori), informasinya sudah terjaga apa adanya dengan media tulisannya;

(b) lebih mudah diperiksa dan dipercaya kebenarannya;

(c) lebih mudah untuk disebarkan, dipindahkan ke bentuk lain, dan dirujuk;

(d) pihak lain dapat melihat & menikmati apa adanya atau dalam bentuk lain (salinannya).

Kelemahan Sekedar Deskripsi Kata-Kata/Kalimat

Untuk mengungkapkan suatu cerita, pesan, atau masalah yang sederhana dan menengah, narasi atau deskripsi dalam bantuk tulisan kata-kata atau kalimat secara umum sudah cukup. Meskipun demikian, dengan sudut pandang tertentu, cara ini masih memiliki beberapa potensi kelemahan. Ada pun potensi-potensi kelemahan yang dimaksud adalah:

(a) kurang menarik;

(b) tidak dapat merepresentasikan unsur-unsur yang memiliki karakteristik visual;

(c) sulit menyajikan unsur-unsur logika, urutan, dan relasi-relasi antar unsur;

(d) keterbatasan dalam menggambarkan data, informasi, dan proses-proses yang menyertainya;

(e) sering terdapat ambiguitas kata/bahasa (mengarah pada perbedaan tafsir);

(f) keterbatasan dalam menunjukkan detil;

(g) kesulitan untuk memperlihatkan, mendiskusikan, dan memahami gambaran besarya (keseluruhan/holistik).

Singkatnya, deskripsi atau formulasi mengenai hal-hal penting dalam bentuk sekedar tulisan kata-kata/kalimat sering masih memerlukan pembacaan/kaji-ulang, diskusi, perdebatan, atau perselisihan sebelum benar-benar dipahami, membentuk kesepahaman bersama, dan mengambil keputusan penting (kebijakan). Kita memerlukan cara yang lebih baik dari sekedar tulisan kata-kata/kalimat.

Anjuran Membuat Model

Sehubungan dengan pentingnya hal ini, maka sebagian pihak menganjurkan untuk melengkapi dan menyempurnakan deskripsi mengenai cerita, pesan, atau formulasi masalahnya dalam bentuk model (tidak sekedar tambahan unsur-unsur simbol/grafis). Tujuannya agar sajiannya (formulasi atau ekspresinya) menjadi lebih efektif, efisien, lengkap, mudah dipahami dengan baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan tidak menjadi multi-tafsir. Selain itu, model menyediakan kemampuan analisis lanjutan.

Model & pemodelan (suatu masalah) ternyata sudah dianggap penting oleh pakar-pakar politik, sosial, budaya, dan futuristik di dunia. Mereka mengamati banyak fenomena (gejala) hingga dapat memahami masalahnya. Mereka memerlukan model sebagai wujud dari pemahamannya yang masih perlu didiskusikan, dikonfirmasikan, dan dikomunikasikan. Dalam kaitan ini, Samuel P. Huntington, guru besar ilmu politik dari Universitas Harvard Amerika Serikat, tahun 1996, mengatakan bahwa "kita memerlukan model-model baik yang bersifat eksplisit maupun yang implisit agar dapat":

  • Mengatur dan menggeneralisasikan realitas.
  • Memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena.
  • Melakukan antisipasi dan, jika kita beruntung, dapat melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang.
  • Memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting.
  • Menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan.

Model Sebab-Akibat (CLD)

Untuk menyempurnakan deskripsi kata-kata/kalimat mengenai suatu masalah, krisis, atau "sistem", sudah tersedia banyak model/ pemodelan. Pilihlah yang paling sesuai dengan karakteristik (requirements) masalahnya. Untuk masalah yang tidak sederhana, tersedia diagram sebab-akibat (causal loop diagram/CLD). Model diagram ini akan menyajikan dan menguraikan "masalah" dalam bentuk rangkaian variabel-variabel yang saling terkoneksi berikut umpan-baliknya sesuai dengan relasi-relasi sebab-akibatnya yang terdapat di dunia nyata. Model ini dapat membantu para penggunanya dalam mengidentifikasi, memahami, dan menyederhanakan masalahnya beserta memudahkan identifikasi potensi-potensi solusi yang dapat diberikan.

Dengan model ini, secara teknis, masalah akan diuraikan menjadi nama-nama variabel, simbol garis anak panah, dan tanda plus [+] atau minusnya [-] yang menggambarkan relasi-relasinya meningkat atau menurunnya nilai-nilai variabel yang saling terhubung secara langsung dengannya. Sebagai ilustrasi, berikut ini adalah contoh model yang paling sederhana (dasar), hanya terdiri dari dua variabel (sebab dan akibat) yang membentuk loop. Pada kasus ini, sebab (aksi atau masalah) akan menyebabkan munculnya [+] akibat (reaksi atau solusi baik yang bersifat alami atau buatan manusia), dan akibat (reaksi dan solusi) akan berusaha meniadakan [-] sebab. Tentu saja, pada kasus sebenarnya, suatu sebab dapat menyebabkan lebih dari satu akibat, dan suatu akibat juga dapat dipengaruhi oleh lebih dari satu sebab.

Relasi Sebab-Akibat

Contoh Model Sederhana

Sebagai ilustrasi, berikut ini adalah model (CLD) sederhana untuk "menyempurnakan" deskripsinya masalah yang sudah ada. Deskripsinya menyatakan bahwa, pada suatu saat, suatu populasi meningkat cukup tajam (faktor sebab) hingga meningkatkan kebutuhan beras (faktor akibat). Tentu saja peningkatan kebutuhan makanan pokok ini bisa dipandang sebagai suatu masalah yang harus dicarikan solusinya. Sebab, dengan kenaikan ini, dan dengan asumsi bahwa produksi berasnya tidak meningkat secara signifikan, maka akan terjadi defisit beras (masalah). Artinya, di wilayah yang bersangkutan, beberapa saat kemudian, diprediksi akan terjadi kerawanan pangan.

Untuk masalah seperti ini, secara umum, tersedia dua pilihan solusi; yaitu mengimport beras dan/atau melakukan program peningkatan produksi beras lokal (baik secara intensif maupun ekstensif). Jika kondisinya sangat mendesak, waktunya sangat pendek, tentu saja pilihan solusinya akan jatuh pada kebijakan import beras. Solusi cepat ini secara efektif dan langsung akan mengatasi masalah defisit beras. Tetapi jika kesimpulan atas masalah itu (hasil analisis jangka menengah atau panjang) dihasilkan jauh-jauh hari, maka solusi yang lebih baik adalah program peningkatan produksi beras. Program ini memerlukan waktu tertentu dan merupakan solusi tidak langsung terhadap masalah defisit beras. Jika digambarkan, maka model-modelnya akan nampak seperti berikut.

Model dengan Import Beras

Model dengan Program Peningkatan Produksi Beras

Kehadiran Efek-Samping 

Tindakan (kebijakan/intervensi) manusia bisa jadi tidak hanya dapat menanggulangi masalah yang dimaksudkan. Kondisi ideal (sesuai harapan) tidak selalu terjadi. Sebagian dari itu, pada kasus-kasus tertentu, cepat atau lambat tindakan itu juga akan memunculkan efek samping yang tidak terduga dan cenderung merugikan. Efek-samping yang negatif dapat memberbesar masalahnya atau bahkan menimbulkan masalah baru (hilir) hingga secara keseluruhan masalahnya semakin kompleks (berkelanjutan). Hal ini dapat terjadi karena mereka tidak berfikir secara lengkap dan menyeluruh; tidak memahami masalahnya dengan baik berikut potensi untaian sebab-akibat berikutnya. Hal inilah yang perlu dihindari atau diantisipasi.

Kemudahan solusi cepat import beras dan kecepatan responnya dalam menangani masalah defisit beras sesaat akan berakibat munculnya efek-samping kebergantungan pangan pada produk pertanian luar negeri; juga membentuk unsur sistemik. Solusi cepat dan langsung ini cenderung berkelanjutan hingga tidak terasa akan menyebabkan melonjaknya biaya import beras, berkembangnya prospek pertanian di negara asal beras, tidak menariknya bisnis/profesi pertanian di dalam negeri, dan tidak tersentuhnya masalah pertanian/ketersediaan pangan (lokal) yang sebenarnya harus diperbaiki atau ditingkatkan (masalah yang lebih besar dari sekedar defisit beras untuk sesaat). Jika dimodelkan, gambarnya akan nampak seperti berikut.

Model dengan Efek-Samping Import Beras

Solusi kebijakan program peningkatan produksi beras sebenarnya tidak berefek langsung pada masalah defisit beras. Solusi ini tentu saja memerlukan waktu yang cukup lama untuk efektif; pada model ini, terlebih dahulu menempuh proses atau tahapan pencetakan sawah baru atau pembelian lahan-lahan produktif petani yang sedang mengalami kesulitan modal yang pada gilirannya akan meningkatkan jumlah petani dan luas total lahan pertanian. Jika program ini berhasil, maka anggaran yang telah dikeluarkan akan terbayar oleh (kelebihan) produksi beras yang makin meningkat. Tahapan-tahapan pada program ini, dalam jangka panjang, justru akan memperkuat infrastruktur pertanian/pangan di Indonesia secara menyeluruh; secara efektif dan langsung menyentuh jantung (mengatasi) persoalan pangan di Indonesia (tidak sekedar defisit beras). Jika dimodelkan, gambarnya akan nampak seperti berikut.

Model dengan Efek-Samping Program Peningkatan Produksi Beras

Catatan Akhir

Kita memerlukan model untuk menyempurnakan deskripsi yang sudah ada hingga masalahnya teruraikan dengan jelas, lengkap, dan menyeluruh. Artinya, deskripsi yang baik dan lengkap terdiri dari narasi (kata-kata/kalimat) dan model. Dengan tambahan model, masalahnya menjadi mudah dipahami, didiskusikan, dan dikomunikasikan untuk membentuk kesepahaman dan solusi bersama. Karena mudah dipahami, jika pun terdapat kesalahan atau kelemahan pada narasi dan modelnya, maka formulasi keduanya akan segera terlihat dan dapat dikoreksi bersama hingga menjadi lebih baik.

Deskripsi & Model

Masalah pertanian dan/atau pangan, pada bahasan ini, hanyalah ilustrasi dimana model dapat dibuat; pada kasus ini, modelnya disederhanakan. Kebijakan import pada kasus tertentu memang tak terhindarkan, tetapi karakter dasar kebijakan import hanya "meredakan" gejalanya saja (untuk sementara); tidak menyelesaikan masalahnya (hulu) sama sekali. Kebijakan seperti ini perlu dibatasi dan dimonitor. Solusi umum dan jangka panjang atas masalah ini adalah program peningkatan produksi beras (dan/atau yang sejenisnya).

Daftar Pustaka

 (Huntington S.P., 2012)

Huntington S.P., "The Class of Civilizationsand the Remaking of the World Order", 1996, yang diterjemahkan menjadi "Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia", Cetakan ke-12, Penerbit Qalam, Jakarta, 2012.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagikan Artikel Ini
img-content
Eddy Prahasta

Penulis Indonesia

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua