Mencari Kesejukan di Malino

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dekat Makassar ada kota yang berada di dataran tinggi. Kota yang berhawa sejuk karena berada di kaki gunung Bawakaraeng. Kota Malino namanya

Nama Malino mungkin tidak seterkenal tempat wisata lain di kota Makassar seperti Pantai Losari maupun benteng Rotterdam. Memang Malino tidak berada tepat di kota Makassar, tapi sekira 90 km sebelah Timur kota Makassar dan berada dalam kawasan Kabupaten Gowa, tepatnya kecamatan Tinggi Moncong.

Malino adalah nama sebuah kota kecil yang berada di kaki gunung Bawakaraeng. Karena letaknya yang berada di kaki bukit, tempat ini terasa sejuk dan bahkan di waktu-waktu tertentu kota Malino bisa tertutupi kabut sepanjang hari.

Malino sebenarnya punya catatan panjang dalam sejarah Indonesia. Tahun 1946 kota ini jadi penyelenggara Konferensi Malino yang membahas pembentukan Negara Indonesia Timur. Dipilihnya Malino adalah atas referensi pemerintah kolonial Belanda yang memang sejak lama menjadikan tempat ini sebagai tempat rekreasi mereka. Alasannya tentu karena kesejukan udaranya.

Mungkin kesejukan itu pula yang membuat Malino kembali jadi pilihan ketika di tahun 2002 Jusuf Kalla menjadi juru damai untuk konflik Ambon dan Poso. Hasilnya, dua konflik di dua daerah di Indonesia itu berhasil diredakan. Pihak-pihak yang bertikai dengan besar hati melepas ego mereka dan mulai menjallin perdamaian. Sampai saat ini hasil perjanjian Malino masih dianggap sebagai sebuah angin sejuk yang meredakan perseteruan berlatar agama dan etnis di dua daerah tersebut.

Malino memang menyenangkan. Kota ini diapit banyak hutan pinus dan hutan-hutan lainnya. Udara di Malino selalu berada di antara 10 -26 derajat celcius. Tidak heran kalau tempat ini selalu jadi pilihan bagi orang kota Makassar untuk sekadar melepas penat di akhir pekan bersama keluarga atau kerabat dan sahabat.

Selain kota yang terasa sejuk, Malino juga menawarkan banyak pilihan lain. Mulai dari air terjun dengan airnya yang dingin sampai pasar dengan beragam buah dan sayurannya. Pasar Malino memang terkenal dengan beragam hasil bumi yang dibawa oleh warga yang tinggal di sekitar kota. Mulai dari tomat, sawi, kol, dan beragam sayuran lainnya. Bukan hanya itu, kita juga bisa menemukan beragam makanan khas yang biasanya jadi oleh-oleh buat para wisatawan yang mengunjungi Malino.

Ada ratusan penginapan yang bertebaran di sekujur kota Malino. Mulai dari penginapan kelas atas bertarif jutaan rupiah per malam sampai penginapan kecil milik warga yang bertarif ratusan ribu per malam. Beberapa pengusaha wisata memang sengaja membangun infrasutruktur di kota Malino untuk menyambut para wisatawan.

Belakangan ini wisata yang sedang digemari di Malino adalah wisata kebun teh yang dikelola sebuah perusahaan swasta. Pengunjung bisa langsung bersentuhan dengan kebun teh siap panen atau sekadar menikmati sajian alam yang menawan dengan latar perbukitan dan pohon-pohon hijau.

Meski belakangan ini sudah semakin banyak tempat wisata yang hadir dan menjadi primadona di kota Makassar dan sekitarnya tapi pesona Malino sepertinya masih sulit tertandingi. Selalu ada sensasi yang berbeda bila berkunjung ke kota yang sebenarnya menyimpan banyak cerita sejarah kolonial ini. Mengunjungi Malino seperti mengunjungi sebuah tempat yang sejuk dengan banyak cerita sejarah di belakangnya.

Mungkin itu alasan banyak orang untuk selalu datang ke Malino, mencari kesejukan dan keluar sejenak dari rutinitas yang melelahkan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ipul Gassing

Pemilik blog daenggassing.com yang senang menulis apa saja. Penikmat pantai yang hobi memotret dan rajin menggambar

0 Pengikut

img-content

Sawai yang Kawai

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler