x

Pura di Lereng Gunung Bromo. Istimewa

Iklan

Ahmat Zulfikarnain Lubis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Januari 2024

Selasa, 2 April 2024 14:49 WIB

Mengenal Suku Tengger yang Menghuni Lereng Gunung Bromo Sejak Tahun 851 Caka

Pada masa kerajaan Majapahit masyarakat Tengger dipercaya pemerintah saat itu untuk melaksanakan upacara-upacara khusus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kami dari DPC Akjii Mojokerto dan Tim Jurnalis Swaradharma berkunjung ke ke kediaman Romo Pandito Puja Pramana di Pura Tunggul Adisari, Desa Ngadiwono, Kabupaten Pasuruan, untuk menyambung tali silaturahmi. Kunjungan beserta keluarga itu kami lakukan pada Minggu, 31 Maret 2024.

Penduduk Desa Ngadiwono berjumlah sekitar 2000 orang dan 80 prosen memeluk agama Hindu Dharma. Di desa terdapat tujuh pura persembahyangan. Romo Pujo Pramono adalah pemuka adat dan agama Hindu di desa ini. Romo melalui proses Abhiseka oleh Begawan Dwi Jati 10 tahun yang lalu.

Eksotisme serta keindahan lereng Gunung Bromo tak terbantahkan sampai saat ini. Tidak salah wilayah ini menjadi salah satu andalan destinasi Wisata Jawa Timur. Peran serta Pemerintah Provinsi Jatim dalam mempropagandakan paket wisata melalui Dispora Jatim cukup terukur sehingga bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah atau PAD. Di penjuru desa banyak warga bercocok tanam kentang, wortel, serta kubis. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun keadaan itu perlu diimbangi dengan tambahan Literasi mengenai eksistensi Suku Tengger sebagai penghuni awal lereng Gunung Bromo. Dalam diskusi terungkap suku Tengger sudah ada di Lereng Gunung Bromo sejak Tahun 851 Caka.  Desa Ngadiwono ini merupakan basis suku Tengger.

Suku Tengger yang menghuni wilayah Gunung Bromo sejak tahun 851 Caka bisa dilihat pada Prasasti  Muncang serta Linggan Sitan. Keduanya kini tersimpan di Museum Mpu Parwa di Malang.

Suku Tengger waktu itu, masih bernama Suku Hulun Yang, artinya masyarakat yang sangat patuh pada raja dan para Dewa. Tanahnya kala itu masih bernama Hila- Hila atau juga disebut Tanah Suci, hal itu juga tertera didalam Prasasti Walandit. Dalam ini disebutkan bahwa masyarakat Tengger dibebaskan dari tetilem atau pajak, karena warganya terdiri dari para brahmana. 

“Pada masa kerajaan Majapahit masyarakat Tengger dipercaya oleh kerajaan untuk melaksanakan upacara-upacara khusus," kata Romo Pujo. Upacara itu dilakukan untuk ketentraman serta kedamaian seluruh wilayah Majapahit.

Jadi kurang tepat kalau ada anggapan bahwa masyarakat Tengger itu pelarian dari Kerajaan Majapahit setelah runtuh. Mungkin saja para perwira serta masyarakat Majapahit berjalan ke puncak Gunung Bromo melakukan persembahyangan. "Karena Gunung Bromo dianggap tempatnya para brahmana sekaligus tanah leluhur Majapahit,“ kata Romo Pujo.

Ikuti tulisan menarik Ahmat Zulfikarnain Lubis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler