x

Iklan

Ronggo Warsito

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Asian Games 2018 Menembus 10 Besar

Bertindak sebagai tuan rumah Asian Games XVIII, Indonesia memasang target bercokol di 10 besar. Jurus ampuh sudah disiapkan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bertindak sebagai tuan rumah Asian Games XVIII, Indonesia memasang target bercokol di 10 besar. Jurus ampuh sudah disiapkan. Akankah Indonesia Raya terus berkumandang di Bumi Pertiwi?

---

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Berkah tersembunyi (blessing in disguise). Mungkin kata ini tepat untuk mewakili ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018 setelah Vietnam mengundurkan diri karena alasan keterbatasan dana. Ini berarti untuk kedua kalinya, Bumi Pertiwi menjadi penyelenggara pesta olahraga terbesar kedua dunia setelah Olimpiade. Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi tuan rumah pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Kali ini, dua kota ditunjuk menjadi tuan rumah bersama yaitu Jakarta dan Palembang, Sumatera Selatan.

Terpilihnya Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games XVIII itu dikonfirmasi langsung oleh Presiden Olympic Council of Asia atau Dewan Olimpiade Asia (OCA) Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah. Presiden OCA menilai Indonesia merupakan negara paling serius untuk menjadi tuan rumah perhelatan olahraga multicabang tersebut.

Bagi Indonesia, kepercayaan yang diberikan OCA itu tentu merupakan kebanggaan tersendiri. Apalagi di tengah upaya untuk mereformasi sistem olahraga yang dinilai banyak kalangan sudah semakin kehilangan taji. Indikasinya jelas, prestasi di Asian Games dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, dalam event Asian Games terakhir di Incheon Korea Selatan, kontingen Indonesia hanya menempati urutan 17 dari 45 peserta. Ini tentu tidak lepas dari buruknya sistem pembinaan olahraga.

Terkuaknya praktik korupsi di tubuh Kementerian Pemuda dan Olahraga periode pemerintahan lalu membuka mata publik betapa bobroknya birokrasi olahraga di Tanah Air. Bagaimana mungkin berharap prestasi tinggi jika tidak ada pembinaan olahraga yang terarah dan akuntabel?

Oleh karena itu, Asian Games 2018 dapat dijadikan titik balik (turning point) prestasi olahraga Indonesia. Jika pada 1962 mampu menempati posisi runner up, mungkinkah kini bisa melampui atau minimal menyamainya ? Mungkin target menjadi nomor wahid terkesan utopis melihat peta kekuatan yang ada. Negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan masih menjadi momok yang menakutkan di bidang olahraga. Bahkan, Tiongkok bukan saja raja Asia, tetapi menjadi penantang serius Amerika Serikat negara yang selama ini merajai Olimpiade.

Lalu, apa target Indonesia yang realistis saat bertindak sebagai tuan rumah?. Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora menargetkan bisa menembus 10 besar. Menpora berharap seluruh pemangku kepentingan seperti kementerian dan lembaga negara, Untuk itu, Menpora meminta Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), pemda, swasta, dan masyarakat mendukung Program Indonesia Emas sebagai program Kemenpora.

Selain itu, Kemenpora memerlukan peran dan dukungan lembaga kementerian lain beserta DPR terutama Komisi X. Menpora juga mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah sebagai pembina awal atlet-atlet nasional. Sesuai dengan UU No.3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, pemerintah kabupaten dan kota memang diamanatkan untuk membina cabang olahraga potensi daerah sebagai cabang unggulan bertaraf nasional dan internasional.

Setelah sukses sebagai runner up pada Asian Games IV, pencapaian terbaik adalah pada Asian Games IX tahun 1982 dengan bercokol di posisi 6. Setelah itu posisi kontingen Indonesia terus melorot.

Untuk mencapai target 10 besar Asia, beberapa program dirancang oleh Kemenpora bersama Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima). Salah satunya adalah dengan memperketat proses seleksi atlet yang akan berlaga di Asian Games 2018. Atlet-atlet yang namanya masuk dalam program Satlak Prima akan terus dipantau perkembangannya dalam tiga tahun ke depan. Andai ada atlet yang masa emasnya sudah lewat, maka pihak Satlak akan menggantinya.

Selain seleksi yang diperketat, Kemenpora akan menggenjot cabang olahraga (cabor) potensial untuk meraih medali emas. Berdasarkan data, ada sembilan cabor yang konsisten menyumbang medali emas di ajang Asian Games yaitu bulutangkis, bowling, karate, dayung, layar, sepak takraw, taekwondo, angkat besi, dan wushu.

Mengutip situs Kemenpora, ada 37 cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Asian Games 2018. Ke-37 cabor tersebut yaitu sepak bola, panahan, martial art sports (wushu, karate, jijutsu, pencak silat, kurash), bisbol-sofbol, judo, kano/kayak, kriket, dayung, menembak, triatlon, pentatlon modern, renang, atletik, bulu tangkis, golf, hoki, rugby, tenis, bola voli, basket, bowling, balap sepeda, equistrian, kabaddi, layar, angkat besi, gulat, bola tangan, anggar, senam, squash, tenis meja, taekwondo, sepak takraw, tinju, sport climbing, dan bridge.

Dengan posisi sebagai tuan rumah, sudah selayaknya Indonesia mampu berbicara banyak di event empat tahunan level Asia tersebut. Apalagi beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan berasal dari tuan rumah. Akankah target 10 besar tercapai ? Kita lihat saja.

Ikuti tulisan menarik Ronggo Warsito lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan