Bung Karno dan Tragedi Amir dan Kartosoewirjo - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bung Karno dan Tragedi Amir dan Kartosoewirjo

    Revolusi kemerdekaan Indonesia memakan banyak korban, termasuk perintisnya sendiri: Amir Sjarifuddin dan SM Kartosoewirjo.

    Dibaca : 5.759 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Kamu bisa membunuh seorang revolusioner, tapi kamu tak kan pernah bisa mematikan revolusi.”

    --Fred Hampton (Aktivis, 1948-1969)

     

     

    Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 selalu diingat sebagai momen bersejarah yang membuka jalan bagi proklamasi kemerdekaan kita 17 tahun kemudian. Pemuda Soegondo Djojopoespito, aktivis pendidikan yang indekos di rumah Ki Hajar Dewantara, bertindak sebagai ketua panitia Kongres. Banyak nama-nama yang mewakili perhimpunan pemuda yang menghadiri Kongres yang berlangsung di Jakarta ini dan kelak menjadi orang-orang penting di negeri ini.

    Di antara mereka ada dua sosok yang, sekali lagi, membuktikan berlakunya ungkapan ‘revolusi memakan anaknya sendiri’. Dua sosok yang turut berperan dalam Kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda itu adalah Amir Sjarifuddin dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Amir pernah belajar hukum di Belanda meski tak sampai tamat karena terpaksa pulang ke kampung halamannya. Ia mewakili organisasi Jong Batak. Kartosoewirjo, aktivis Jong Islamieten Bond, adalah kawan Bung Karno saat indekos di rumah H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya.

    Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, banyak peristiwa terjadi dan ini mengubah persahabatan jadi perpecahan. Perjanjian Renville yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin menimbulkan krisis kabinet karena ditentang oleh Partai Masjumi dan PNI. Amir mengembalikan mandat kepada Presiden Soekarno-Wapres Mohammad Hatta. Oleh Bung Karno, Hatta ditunjuk untuk membentuk kabinet pada Januari 1948. Sejak itu, Amir menghilang dari Jakarta dan kemudian terdengar kabar bahwa ia terlibat dalam pembentukan Front Demokrasi Rakjat (FDR) yang beroposisi terhadap Kabinet Hatta.

    Peristiwa Madiun pada September 1948 yang melibatkan FDR telah menempatkan Amir Sjarifuddin dalam posisi sangat sulit. Bersama lima kawannya, Amir ditangkap di Madiun—rambutnya gondrong, jenggotnya panjang, berjalan pincang, dengan tubuh tampak kurus dan pucat. Mereka dibawa ke Solo dan diserahkan kepada Kolonel Gatot Subroto, penguasa militer wilayah itu. Dari Solo, mereka dibawa ke Jogjakarta. Amir menghabiskan waktunya di penjara untuk membaca, antara lain Shakespeare.

    Tiba-tiba terdengar kabar bahwa Amir dkk akan dihukum mati oleh militer. Upaya menyelamatkan Amir dilakukan oleh Abu Hanifah, teman sekolah Amir yang jadi tokoh Masjumi, dengan mengajukan permohonan kepada Bung Karno selaku Presiden. Di masa pendudukan Jepang, Amir sempat divonis mati oleh penguasa Jepang karena dituduh memimpin gerakan bawah tanah. Berkat campur tangan Bung Karno, vonis itu dibatalkan. Banyak tokoh pergerakan berharap kali ini Bung Karno juga dapat ‘menyelamatkan’ Amir dari eksekusi. Sebenarnya Bung Karno sudah setuju agar Amir tidak dihukum mati, tapi persetujuan ini kalah cepat dengan eksekusi atas perintah Kolonel Gatot Subroto pada Desember 1948 di Desa Ngalihan, pinggir Solo.

    Hatta, sebagai perdana menteri waktu itu, dituding oleh sementara pihak bertanggungjawab atas kematian Amir. Namun, dalam buku Madiun 1948: PKI Bergerak, sarjana Belanda Harry A. Poeze menulis bahwa Hatta tidak pernah menginginkan Amir dihukum mati, melainkan membawa Amir dan kawan-kawan ke pengadilan, dengan demikian ada alasan hukum untuk melarang Partai Komunis. Sarjana lainnya, George McTurnan Kahin juga mendengar dari Hatta bahwa ‘ia sangat marah karena Amir telah ditembak mati tanpa proses pengadilan, dan ini bertentangan dengan perintahnya agar tentara mengevakuasi Amir dan pemimpin pemberontak lainnya yang telah tertangkap andai terjadi serangan Belanda.”

    Sosok lain yang dekat dengan Bung Karno dan berperan penting dalam Kongres Pemuda 1928 tapi harus mengalami nasib tragis ialah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ketika mewakili Jong Islamiten Bond dalam Kongres Pemuda 1928, Kartosoewirjo berusia 23 tahun—ia lebih muda daripada Bung Karno, yang pernah bersama-sama indekos di rumah Tjokroaminoto, Surabaya. Pemberontakan Darul Islam yang ia lancarkan membuat Kartosoewirjo berhadapan dengan Bung Karno sebagai Presiden. Pemberontakan ini berlangsung lama, sejak 1949 dan baru berakhir pada 1962 ketika Kartosoewirjo dihukum mati.

    Bagi Bung Karno, Kartosoewirjo bukanlah orang yang baru ia kenal. Kartosoewirjo sempat mengikuti pendidikan Belanda, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi—ia sempat kuliah di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School namun kemudian dikeluarkan karena aktivitas politiknya. Ia juga seorang pemikir dan menuliskan gagasannya yang menolak kolonialisme maupun feodalisme, dengan menyerang para bangsawan yang bekerjasama dengan penguasa kolonial Belanda, di koran yang ia pimpin, Fadjar Asia.

    Pertentangannya dengan kaum nasionalis mulai mengental setelah Proklamasi. Ia menolak perintah pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah sebagai konsekuensi Perjanjian Renville yang mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo menolak mentah-mentah semua perjanjian pemerintah Indonesia dengan Belanda.

    Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Saat itu, Sugondo Djojopuspito—ketua panitia Kongres Pemuda 1928—yang mengenal baik Kartosoewirjo maupun Amir membujuk Kartosoewirjo agar menerima tawaran Amir. “Sudahlah Mas, pilih jadi menteri apa saja, asal jangan Menteri Pertahanan atau Menteri Dalam Negeri,” kata Sugondo. Tapi Kartosoewirjo menolak. “Tidak mau jika dasar negaranya bukan Islam,” jawabnya.

    Kartosoewirjo yang kecewa akhirnya membulatkan tekad untuk membentuk Negara Islam Indonesia (NII) pada 1949, kurang dari satu tahun setelah keterlibatan Amir Sjarifuddin dalam Peristiwa Madiun 1948. Pemerintah berusaha menangkap Kartosoewirjo, dan baru berhasil pada 4 Juni 1962. Ia ditangkap di Gunung Rakutak, Jawa Barat, lalu dihukum mati beberapa bulan kemudian di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.

    Menandatangani surat perintah hukuman mati bagi Kartosoewirjo menimbulkan pertentangan batin Bung Karno. Kedua tokoh ini pernah bersama-sama berjuang melawan penjajah Belanda dan pernah tinggal bersama di rumah Tjokroaminoto. Mereka bersahabat sejak remaja, tahun 1918—Bung Karno ketika itu berumur 17 tahun dan Kartosoewirjo berusia 13 tahun.

    Keakraban mereka terjalin di rumah Tjokroaminoto. Mengikuti pesan Tjokroaminoto, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.” Pesan ini diingat Bung Karno hingga setiap malam ia selalu belajar pidato. Meski terganggu oleh suara Soekarno, Kartosoewirjo tak pernah bosan memberi masukan agar pidatonya bertambah baik.

    Kadang pula mereka saling ejek. “Hei Karno, buat apa berpidato di depan kaca? Seperti orang gila saja,” kata Karto. Mendengar celetukan itu, Soekarno menjawab “Saya mempersiapkan diri jadi orang besar” lalu melanjutkan pidatonya. Ia baru membalas ejekan Karto setelah selesai berlatih. “Tidak seperti kamu, sudah kurus, kecil, pendek, keriting, mana bisa jadi orang besar!” Lalu keduanya tertawa bersama.

    Tak heran bila Bung Karno merasakan pergolakan batin ketika harus menandatangani hukuman mati bagi Kartosoewirjo. Tanpa tanda tangan Presiden, Kartosoewirjo tidak akan dieksekusi. Pelaksanaan eksekusi tertunda hingga tiga bulan, karena surat perintah hukuman mati masih tergeletak di meja kerja Bung Karno. Namun Bung Karno akhirnya harus memilih: antara negara dan hubungan dekat dengan sahabatnya. Usai menekan surat, Bung Karno memandangi foto sahabatnya itu. “Sorot matanya masih tetap, sorot mata pejuang,” ujar Bung Karno.

    Bung Karno kehilangan dua sahabat yang sama-sama berjuang mendirikan negeri ini: Amir Sjarifuddin dan SM Kartosoewirjo. Benar belaka kata pepatah Prancis: “Revolusi memakan anaknya sendiri.” (bahan dihimpun dari berbagai sumber; foto: Amir--kiri dan Kartosoewirjo--kanan) ***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi