x

Presiden Joko Widodo mengetuk palu sebagai tanda dibukanya KTT Luar Biasa ke-5 OKI di JCC, Senayan, Jakarta, 7 Maret 2015. KTT Luar Biasa ke-5 OKI membahas mengenai Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. TEMPO/Subekti

Iklan

ARFANDA SIREGAR SIREGAR

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Soekarno, Jokowi, Israel

Di hadapan pemimpin negara peserta KTTLB OKI, Presiden Jokowi berani melakukan konfrontasi dalam bentuk jihad berbentuk boikot ekonomi Israel.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

"Untuk Taiwan saya rasa urusannya jelas, kami hanya mengakui satu Negara Tjina yaitu RRT, itu yang di daratan, lain negara tidak...dan untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel" (Soekarno : 1962).

Siapa yang tak kenal atas ketegasan Bung Karno. Kalau berucap, bukan sekadar cakap kosong demi popularitas. Beliau konsisten dengan ucapannya itu. Kebenciannya kepada Israel dimanifestasikan dengan konfrontasi kepada Israel. Bukan sekadar memboikot produk negara tersebut. Bahkan, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, beliau menolak keikutsertaan Israel pada ajang olah raga bergengsi tersebut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dan keberanian Bung Karno kemudian diikuti oleh banyak negara, sampai-sampai Israel tidak bisa diikutsertakan dalam zona Asia untuk sepak bola karena tak ada yang mau bertanding dengan Israel. Sayang, pascakepemimpinan Soekarno, tak ada lagi pemimpin negeri ini yang berani berkonfrontasi langsung dengan Israel.

Namun, secercah cahaya tiba-tiba memantul dari ajang Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) ke-5 di Jakarta. Presiden Indonesia  Joko Widodo (Jokowi) tampil heroik bak Soekarno muda dengan mengumandangkan ajakan kepada seluruh negara perserta KTT LB OKI agar berjuang bersama-sama mendukung kemerdekaan Palestina.

Sebagai langkah awal, beliau menyerukan agar dunia Islam melarang masuknya produk-produk Israel yang diproduksi di tanah pendudukan ke negara masing-masing. Beliau menyatakan bahwa sikap permusuhan kepada bangsa Israel adalah komitmen dan konsistensi Indonesia dalam mengamalkan amanat UUD 1945.

Memang, fakta pun berbicara bahwa kezaliman Israel kepada penduduk Palestina sudah berpuluh tahun terjadi dan disaksikan oleh seluruh mata penduduk dunia. Sejak invasi pertama Israel ke Palestina tahun 1948 sampai sekarang, pembunuhan keji terhadap ribuan rakyat Palestina terus berlangsung, massif, dan tak berujung.

Ironinya, dari sekian banyak negara di dunia yang mengaku antipenjajahan hanya mampu mengucapkan kalimat belasungkawa atau melakukan aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina. Sekarang, di hadapan pemimpin negara perserta KTTLB OKI, Jokowi berani melakukan konfrontasi dalam bentuk jihad berbentuk boikot ekonomi.

Hubungan Indonesia Dengan Israel

Meskipun, hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel masih tertutup. Namun, kerjasama rahasia kedua negera telah berlangsung cukup intensif. Data dari kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa neraca perdagangan Indonesia-Israel cukup positif. Selama tahun 2005, volume perdagangan kedua negara mencapai US$154 juta. Tahun 2007, total perdagangan Indonesia-Israel mencapai USD 124.100 dan meningkat menjadi USD 116,4 juta pada tahun 2008. Tahun 2009, total perdagangan dua negara mencapai USD 91.613 juta dan kembali meningkat menjadi USD 117,5 juta pada tahun 2010. Data tahun 2011 menunjukkan, total perdagangan Indonesia-Israel mencapai USD 69,6 juta. Dan hingga pertengahan tahun ini sudah mencapai USD 79 juta. Produk-produk Israel yang masuk ke Indonesia, mulai dari buah-buahan, pangan, sandang, alat elektronik, senjata serbu, hingga pesawat militer yang bernilai triliunan.

Selain hubungan dagang antara Indonesia dan Israel. Di pasaran juga banyak ditemukan produk yang notabene berafiliasi dengan bangsa Israel, Yahudi. Seorang penyelidik independen PBB tentang pelanggaran HAM yang dilakukan Israel di wilayah Palestina bernama Richard Falk mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan seperti Hewlett Packard, Motorola, Volvo dan Caterpilar merupakan persahaan milik Yahudi yang berperan sebagai donatur Israel Raya.

Pada laporannya ke Majelis Umum PBBB, Falk juga memberikan daftar berisi 13 nama perusahaan yang merupakan milik Yahudi. Pada akhir laporannya, ia juga memberi catatan, bahwa daftar perusahaan itu cuma sebagian kecil dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi atau memiliki kaitan dengan pemukiman Yahudi Israel. Masih banyak produk lain yang membanjiri pasaran dimana sebagian keuntungan produk tersebut digunakan untuk biaya pembantaian rakyat Palestina.

Sesungguhnya para konsumen produk yang berafiliasi dengan Bangsa Israel secara tak sadar turut andil menyumbang setiap peluru yang ditembakkan bangsa Zionis ke dada rakyat Palestina.  Jika kita serius membela rakyat Palestina dari penjajahan Israel, maka konfrontasi presiden kepada Israel dalam bentuk boikot ekonomi harus dilanjutkan dalam wujud lain. Setelah ajakan boikot, harus ada langkah strategis menumpas produk Israel memasuki wilayah Indonesia.

Pertama, mencabut Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.23/MPP/01 Tahun 2001 yang disyahkan olen Luhut Binsar Panjaitan  sebagai menteri Perdagangan saat itu tentang hubungan dagang antara Indonesia dengan Israel.

Kedua, seruan pemboikotan dilanjutkan dengan menghentikan kerja sama dengan Israel, seperti membatalkan pembelian peralatan intelijen, menghentikan kunjungan rutin pejabat ke Israel, dan membubarkan kerja sama, baik berupa hubungan dagang maupun sosial budaya.

Ketiga, melarang secara total impor barang produk zionis. Ini langkah paling nyata supaya rakyat Indonesia bisa memutus ketergantungan dengan produk Israel. 

Keempat, perlu keteladanan dari pejabat negara,ulama, dan aktivis cinta perdamaian dunia agar menggunakan produk yang bukan berafiliasi dengan bangsa Israel. Sering kita saksikan para aktivis yang melakukan aksi solidaritas Palestina malah menggunakan produk buatan atau berafiliasi dengan Israel.

Sejarah mengajarkan jika kepentingan Amerika dan Yahudi terancam, mereka akan mengendurkan syahwat kuasanya. Hugo Chaves dan rakyat Venezuela bisa membuat Paman Sam pusing tujuh keliling, apalagi jika seluruh rakyat negeri ini dan negara Islam di dunia bersatu padu memboikot seluruh produk Yahudi.

Ajakan boikot merupakan jihad dalam damai, tapi efektif jika dilakukan secara massif dan berkesinambungan. Sebuah perang tanpa tetesan darah dan air mata. Sanggupkah kita berjihad atas nama kemanusiaan melawan angkara murka yang ditebar Israel ke bumi Palestina?  Sebagai Soekarno muda, seharusnya Jokowi bisa tampil lebih garang dan konsisten. Semoga.

*) Penulis adalah Dosen Politeknik Negeri Medan dan Direktur Lembaga Penelitian Agama dan Sosial (Lepas)

Ikuti tulisan menarik ARFANDA SIREGAR SIREGAR lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB