x

Iklan


Bergabung Sejak: 1 Januari 1970

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Globalisasi itu Keras, Bung!

Dengan terintegrasi negara-negara, misalnya dalam ekonomi (MEA) dan dalam konteks lainnya membuat batas antar negara menjadi kabur.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh : Ikhsan Yosarie

Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

 

Dinamika yang terjadi dalam kancah Internasional yang sangat kompleks, memunculkan sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah globalisasi. Martin Albrow mengatakan, globalisasi adalah semua proses yang berhubungan dengan penyatuan antara masyarakat (All The Peoples) bersatu menjadi satu masyarakat dunia (Single World Society).

Istilah globalisasi itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mengindikasikan terjadinya integrasi ekonomi secara global yang didukung proses globalisasi teknologi, serta terintegrasinya sistem komunikasi global. Globalisasi dikatakan memiliki aspek-aspek seperti internasionalisasi, yang menandai meningkatnya ketergantungan antar negara di dunia; liberalisasi yang menandai pergerakan setiap negara yang membuka diri dan bersatu dalam dunia perekonomian; Universalisasi sebagai menyebarnya berbagai objek dan pemikiran di dunia; Westernisasi terutama dari Amerika; dan yang terakhir ialah deteritorialisasi yang menghapuskan pengaruh batas-batas jarak (Scholte, 2001:14)

Globalisasi pada dasarnya bukanlah sebuah fenomena yang baru lagi. Globalisasi dikatakan sebagai sebuah fenomena lanjutan dari segala fenomena yang terjadi sebelumnya. Namun, tidak dapat ditentukan secara jelas dan tepat waktu kemunculan globalisasi itu sendiri. Berbagai pengamatan menyebutkan beberapa titik awal kemunculan globalisasi yang ditandai dengan berbagai macam hal yang berbeda. Adanya perpindahan penduduk antar benua dan mulainya era modern menjadi beberapa opini mengenai awal mula kelahiran globalisasi

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga wajar saja pada dasarnya jika ada orang atau negara berkembang yang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadap globalisasi. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

Dinamika

Dengan terintegrasi negara-negara, misalnya dalam ekonomi (MEA) dan dalam konteks lainnya membuat batas antar negara menjadi kabur. Karena, laju barang akan lintas negara. Antar negara hidup di zaman yang penuh keterbukaan. Dalam konteks negara, hidup dengan cara tidak membuka diri terhadap lingkungan Internasional, akan mengakibatkan “terkucilnya” negara tersebut dari pergaulan Internasional. Namun, dengan membuka diri terhadap negara lain, otomatis batas teritorial menjadi simbolis. Karena, membuka diri akan memunculkan semacam interaksi, dan interaksi itu suatu saat akan memunculkan hubungan timbal balik, atau bahkan ketergantungan satu pihak terhadap negara lain.

Negara-negara maju memegang pengaruh yang kuat dalam dunia Globalisasi. Hal-hal yang tersebar, mulai dari paham hingga barang sebagian besar didominasi oleh negara maju. Dan posisi negara berkembang, akan digempur habis-habisan oleh invasi besar-besaran dari negara maju. Paham misalnya, ketika gelombang demokratisasi melanda negara-negara non-demokrasi. Kemudian barang-barang, ketika negara-negara berkembang banyak mengimpor barang-barang dari negara maju. Selain karena sifat konsumerisme dari warga negara berkembang, barang-barang negara maju dianggap sebagai “mode” atau “style”. Sehingga, siapa yang tidak memiliki, dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, produk domestik menjadi kehilangan pangsa pasarr didalam negeri. Dan dipaksa untuk menyaingi produk luar yang datang.

Perkembangan suatu negara juga tak luput dari perkembangan zaman itu sendiri. Karena, perkembangan zaman melalui teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut tentu diinisiasi oleh negara-negara maju. Sehingga, “memaksa” negara-negara berkembang untuk mengikuti atau mengimbanginya. Negara tertutup menjadi terbuka, negara agraris perlahan mulai menjadi industri, bahkan negara non demokrasi, perlahan sudah terjangkit virus demokratisasi. Sederhananya, mengintegrasikan negara-negara didunia. Memang benar bahwasanya Globalisasi menjadi strategi kaum kapitalisme untuk “memperpanjang” umur mereka. Karena, sebelumnya Marx meramalkan bahwa umur dari Kapitalisme akan segera berakhir. Karena produk telah menumpuk, sehingga modal tidak berhasil kembali ketika nilai jual turun. Tidak ada yang sanggup membeli, bahkan nilai lebih untuk pekerja ditahan dan malah hasil produksi yang dikejar. Namun, kaum kapitalis menemukan cara untuk menjual produk yang menumpuk tersebut, yaitu diekspor atau penjualannya lintas negara. Dan itulah Globalisasi. Sehingga, hingga kini umur kapitalisme masih langgeng.

Kemudian, di era Globalisasi perkembangan serta perpindahan informasi yang begitu cepat membuat setiap orang atau negara di dunia dapat berhubungan secara mudah. Dengan pesawatpun dalam satu hari seseorang dapat berpindah negara, bahkan dari benua satu ke benua yang lain. Kemudahan itu tentu didukung dengan semakin majunya teknologi, sehingga membuat informasi turut berkembang cepat. Kemudian dengan internet, setiap orang dapat mengakses berita dari belahan dunia lain. Kemajuan membuat setiap orang dapat menjangkau batasan-batasan yang ada, sehingga setiap orang di dunia dapat dipandang sebagai masyarakat dunia yang tak lagi menghiraukan adanya asal negara.

Kemudahan-kemudahan seperti ini tentu sangat menguntungkan bagi negara yang memang mampu atau sanggup mengikuti perkembangan dunia Internasional ini. Karena, interaksi antar negara tentu akan terjalin, sehingga setiap negara tak bisa untuk hidup sendiri-sendiri. Namun disisi lain, interaksi internasional yang tercipta akibat globalisasi ini merugikan bagi negara dunia ketiga, atau negara miskin. Karena tentu mereka menjadi negara pinggiran, atau dalam konteks kapitalis, negara-negara ini menjadi “sapi perah” negara maju. Seakan-akan, muncul kesan bahwasanya globalisasi ini muncul begitu cepat dengan design sedemikian rupa.

 

 

 

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler