Kenali Audience, Agar Tak Celaka - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

ila fadilasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Juni 2019

Senin, 1 Juli 2019 12:45 WIB

Kenali Audience, Agar Tak Celaka

Dibaca : 266 kali

Berbicara di depan forum itu, ada timing-nya. Sehebat apapun kita, harus melihat siapa audience. Sebab bila salah-salah, justru menjadi bumerang bagi diri sendiri. Jangan sampai seperti cerita konyol yang pernah kualami ini. Sebenarnya aku enggan menulis ini. Tapi tak apalah, untuk sharing dan pembelajaran.

Pagi itu, aku sedang sibuk mengurus sesuatu. Tiba-tiba ada ada pesan pendek dari rekan se-organisasi di NGO, minta aku hadir di suatu acara diskusi. Aku tanya, peranku di sana sebagai apa. Apakah menjadi pemateri atau undangan biasa. Dia jawab hanya sebagai hadirin, mewakili organisasi. Okelah, kalau begitu gampang urusan. Aku tak perlu tergesa-gesa dan tak perlu pula mempersiapkan materi untuk disampaikan.

Ketika aku datang, acara sudah dimulai. Bisa dikatakan aku datang terlambat. Aku memilih duduk di pojokan belakang, supaya kalau terkantuk-kantuk, tak mencolok. Mumpung jadi peserta biasa, aku ingin leyeh-leyeh saja.

Tapi kok pas aku menatap ke depan, di backdrop acara, tema diskusi menyoroti kinerja kami, NGO yang biasa mengurusi masalah tertentu. Aku meyakinkan tema, dengan bertanya pada seorang peserta diskusi di sampingku. Dia lantas bertanya, aku utusan dari mana. Setelah kusampaikan aku dari NGO, sebut saja namanya “NGO A”, dia rada kaget dan memintaku duduk di barisan depan.

Saat sesi tanya jawab tiba, para peserta semua mempertanyakan kinerja kami. Adapun pemateri yang duduk di depan, kok ya tidak ada yang berasal dari pihak kami. Aku mengecek kembali pesan pendek dari teman tadi, bahwa aku memang hanya diminta hadir sebagai undangan, bukan pemateri. Tapi apa acara ini tidak salah kaprah, pikirku. Mengapa membedah kinerja suatu organisasi, tapi pihak organisasi itu tidak diberi kesempatan duduk di depan.

Ketika sesi tanya jawab berikutnya, peserta masih juga membahas, mengungkap, dan mempertanyakan kinerja NGO kami. Aku merasa ini tidak adil. Pemateri di depan pun, seperti tak ada upaya membela kami. Aku harus bicara, pikirku. Ya, demi nama baik organisasi.

Aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Aku ingin secara diberi kesempatan berbicara. Tapi lhadalah, acara kok tiba-tiba ditutup. Dinyatakan berakhir. Saat injuri time itu, aku mengangkat tangan. Minta waktu untuk berbicara. Banyak orang terperanjat. Para pemateri di depan, yang semua mengenalku, kaget. Entah kaget karena kenekatanku minta waktu setelah acara dinyatakan selesai, atau kaget karena sejak tadi mereka tidak tahu akan kehadiranku.

Sementara peserta, yang sebagian besar tak kukenal, juga tampak kaget. Mereka sepertinya juga tidak mengenal aku. Mereka pasti heran, itu siapa kok ada perempuan minta waktu bicara, setelah acara ditutup pula. Harusnya sudah masuk waktu makan siang.

Moderator lantas mempersilahkan aku bicara. Dengan catatan, waktu hanya diperbolehkan untukku, dan tidak boleh ada lagi yang minta bicara.

Aku pun memulai dengan salam. Semua menyambut hangat. Perlahan, apa yang kukatakan menimbulan reaksi senang dari hadirin. Terbukti, mereka bertepuk tangan dan menimpali kalimat-kalimatku. Tapi… belakangan, aku masuk ke pokok materi. Intinya, meng-counter isu-isu negatif, terutama yang tadi dipersoalkan peserta. Sampai di sini, peserta tampak tak suka dengan omonganku. Mereka menggumam tak menentu.

Aku terus bicara. Aku menyampaikan hal-hal ideal, yang harusnya bisa diterapkan dalam sistem kemasyarakatan dan ketatanegaraan di negeri ini. Tidak saling menyalahkan. Aku mengutif sedikit undang-undang. Tentang solidaritas. Tentang toleransi. Tentang kerja sama, dsb.

Gumaman makin riuh. Moderator menengahi. Aku terus bicara, karena merasa belum selesai. Audience makin riuh. Ada sebagian yang berteriak di belakang. Sebagian lagi menengahi. Hadirin riuh. Di akhir kata, aku mengucap mohon maaf, bila kata-kataku tak sesuai dengan pemikiran para hadirin.

Beberapa peserta diskusi mengangkat tangan, minta waktu untuk bicara. Moderator lagi-lagi menangahi, sesuai kesepakatan, hanya aku yang boleh bicara di “moment bonus” ini. Salah seorang pemateri di depan, menanggapi penyampaianku. Kalimatnya mendamaikan, sebenarnya. Menenteramkan peserta, yang sejak tadi sibuk bergumam.

Tapi aku merasa ada yang aneh dari acara ini. Ya, aneh sekali. Dan mengapa aku baru terpikir sekarang: siapa sebenarnya audience diskusi ini…?? Siapa pelaksananya? Wahai, aku kok lalai ya, hiks.

Setelah kuselidiki, ternyata memang, penyelenggara dan para peserta diskusi semuanya adalah… dari kelompok yang selama ini “berseberangan” dengan organisasi kami. Yang kerap menuntut NGO kami dibubarkan. Masya Allah. Kenapa tak terpikir dari tadi ya. Kok aku juga tidak berpikir, mengapa di acara ini nyaris tak ada orang yang kukenal. Semua berasal dari pihak seberang, ternyata. Dan teman yang menghubungiku untuk hadir di acara tersebut, ternyata sengaja menghindari acara itu, karena…. (hem tebak sendiri deh). Padahal sebelumnya dia sudah berjanji ke pihak panitia, akan hadir di acara itu.

Aku jadi ingat, ketika dulu aku pernah menyelenggarakan acara lomba stand up komedi, salah seorang komican sempat bertanya,” Hayo, apa di sini ada yang anggota dewan?,” katanya. Seorang lelaki tampak mengangkat tangannya.

Si komican yang sedang tampil di babak final, tertegun sejenak. Lantas, dia tidak melanjutkan kalimat, namun membuka bahan lelucon baru. Saat itu, penonton bersorak,” Kok gak jadi bahas anggota dewan, takut ya?” Si komican pun nyengir pura-pura gak dengar. Saat pengumuman, dia memang tidak berhasil masuk peringkat tiga besar.

Tapi dalam kisahku tadi, aku kan bukan komican yang sedang bertanding ya. Ahh, hari itu benar-benar hari yang nekat ternyata, hiks.

  • Salmafina Sunan

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.