Mengetahui Pantangan Bayi Baru Lahir - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Bella Julianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 10 Juli 2019 16:09 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Mengetahui Pantangan Bayi Baru Lahir

    Dibaca : 172 kali

    Dipungkiri atau tidak menjalani peran menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain dituntut untuk menjadi seorang istri yang baik anak-anak kita pun membutuhkan peran kita dalam menjaga dan memastikan mereka tumbuh dengan sehat dan selamat. Terutama ibu baru yang punya bayi baru lahir di rumah bisa jadi anda kewalahan menjalani peran yang satu ini.

    Ya, bayi baru lahir perlu dijaga dan diurus dengan sangat baik karena kesalahan sedikit saja bisa sangat fatal untuk mereka. Mari ketahui apa saja pantangan bayi baru lahir agar ibu dan bunda bisa mengurus dan membesarkan mereka dengan baik.

    Menjemur Bayi Seenak Hati

    Tidak sedikit orangtua yang memiliki bayi baru lahir menganggap bahwa menjemur bayi adalah ritual wajib yang harus dilakukan. Irosnisnya, pada saat menjemur si kecil tidak ada aturan khusus yang diperhatikan pada saat si kecil masih begitu rentan dengan paparan dari zat luar. Bahkan sebagian ibu dengan enteng meletakkan bayi mereka di atas meja dan menjemurnya dalam waktu yang lama di bawah pancaran sinar matahari secara langsung.

    Apalagi untuk mereka yang punya bayi dengan riwayat kuning (hiperbilirubin), biasanya mereka cenderung menjadikan kegiatan menjemur bayi sebagai prioritas yang utama sebab khawatir kondisi kuning pada bayi akan berlangsung lama.

    Menjemur bayi di bawah sinar matahari memang dianjurkan akan tetapi anda tidak bisa melakukannya dengan sembarangan. Perhatikan dengan baik aturan menjemur bayi dan pahami betul kapan waktu terbaik menjemur bayi karena pada waktu-waktu tertentu kebanyakan pancaran sinar matahari mengandung zat berbahaya yang akan berisiko untuk tubuh si kecil.

    Memberi Makan Atau Minum Bayi Sebelum 6 Bulan

    Tidak sedikit orangtua yang kurang mengindahkan anjuran untuk tidak memberi makan dan minum bayi mereka sebelum cukup usia yakni sekitar 6 bulan. Biasanya orangtua yang masih menganut paham kuno yang banyak melakukan pantangan bayi baru lahir ini. Dengan tanpa pikir panjang, bayi dibawah usia 6 bulan sudah diberikan air putih atau bahkan makanan lain meski teksturnya lunak.

    Penting diketahui bahwa alasan memberikan makan bayi pada usia 6 bulan ke atas adalah pada saat ini sistem pencernaan bayi sudah mulai siap mencerna makanan yang masuk. Di bawah itu, tubuh mereka tidak akan mampu mencerna dengan baik dan ini akan berbahaya untuk si kecil bisa jadi mereka tersedak dan dalam kondisi terburuk jiwanya bisa terancam.

    Mengenakan Sarung Tangan dan Kaki Sepanjang Hari

    Dengan alasan takut tubuhnya tergores oleh kuku-kukunya banyak ibu memilih mengenakan sarung tangan dan kaki pada si kecil sepanjang hari.  Penggunaan sarung tangan dan kaki memang dianjurkan akan tetapi bila terus menerus tanpa ada jeda setiap hari dan sepanjang hari maka hal ini akan menghambat sistem motorik si kecil.

    Penggunaan sarung tangan akan membuat si kecil kurang menggerakkan tangannya dan kurang mengeksplorasi jari-jarinya dengan baik. Maka dari itu, sebaiknya hindari menggunakan sarung tangan pada si kecil sepanjang hari pada saat-saat tertentu anda bisa melepasnya dan membiarkan mereka melatih motoriknya dengan baik.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.119 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).