x

Iklan

Amirudin Mahmud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Belajar Dari Habib Rizieq

HR adalah fenomena sosial-politik kekinian yang patut disikapi. Sebaiknya mengambil hikmah dan pelajaran darinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Anda pasti kenal Habib Rizieq. Saya kira hampir semua orang mengenalnya sekarang. Popularitasnya membumbung tinggi seiring dengan pembicaraan publik yang tak pernah habis soal Basuki Tjahja Purnama atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ahok. Popularitas Habib Rizieq (HR) seakan membonceng Ahok dengan cara melawanya secara frontal. Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu menjadi ikon perlawanan atau perang terhadap Gubernur Jakarta non aktif tersebut sejak lama. Kemudian memperoleh momentumnya saat kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok, sang Cagub DKI Jakarta.

Popularitas Habib Rizieq pun melangit ketika mampu mengumpulkan dan menggerakkan berbagai elemen umat Islam Indonesia dari berbagai  ormas dan aliran. Kekuatan umat Islam tersebut digunakan untuk mendemo Ahok, sang gubernur  DKI Jakarta, yang beragama Kristen. Ahok dianggap telah menistakan Alquran dalam pidatonya di Pulau Seribu. Pidato Ahok yang menyerempet Surat Al- Maidah ayat 51 tersebut dijadikan alasan mereka bangkit, melawan serta menuntut agar Ahok diproses secara hukum secara cepat. Dengan mengabaikan proses hukum yang sedang berjalan, mereka menuntut penyematan status tersangka kepada yang bersangkutan. Lebih jauh, mereka menuntut agar Kepolisian memenjarahkannya.

Ketenaran HR sampai pada puncaknya pada Aksi Bela Islam 411 atau 212. HR menjadi di atas angin,  mampu menguasai  panggung politik nasional seiring memanasnya Pilkada Jakrta. HR tampil dengan segala kesombongannya. Dengan percaya diri, ia mengklaim bahwa aksinya didukung oleh seluruh umat Islam Indonesia. Terlebih ketika sikapnya  dilegitimasi oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI mengeluarkan fatwa kontroversial berbau politis,   bahwa Ahok telah menistakan Islam. Kemudian HR membentuk Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) bersama Bahtiar Nasir, Zaitun Rusmin, dkk.  Presiden Jokowi pun tak luput dari ancaman HR.  Jokowi akan digulingkan bila keinginannya diabaikan. Jokowi ditekan, dituding sebagai pelindung Ahok sang penista agama. Ia juga mengancam dan mendesak Kapolri, Jenderal Tito Karnavian. HR seakan melebihi segala. Ia bebas menentukan apa saja. Ia bebas berkata, mengancam, mencaci maki siapapun. Dan Ahok pun menjadi  tersangka.

Sekarang ketika kondisi dapat dikendalikan, ketika persidangan Ahok digelar secara transparan, arah angin menjadi berbalik. HR yang sebelumnya menyerang banyak orang sekarang diserang oleh banyak pihak dari berbagai elemen masyarakat. Kesombongan, arogansi, dan ucapan-ucapanya yang asal memaksanya terpojok, tersudutkan. HR diadukan dalam berbagai kasus hukum. HR diduga melecehkan Pancasila, melakukan penghinaan terhadap hansip, menyebarkan berita bohong terkait masalah lambang palu arit yang ada di lembaran uang yang baru dikeluarkan BI, penistaan agama terkait siapa bidan nabi Isa as dan  sederet kasus lain.

HR betul-betul dalam kesulitan. Ibarat pepatah, ia kena batunya. Berbagai kalangan baik dari politisi atau akitivis yang dulu memanfaatkannya sekarang tak bisa membantu dan menolongnya. Mereka sedang menyelamatkan diri mereka masing-masing dari ancaman hukum. Ahmad Dhani, Rahmawati Soekarno Putri, Sri Bintang Pamungkas, dan beberapa orang lainnya diamankan oleh kepolisian karena dituduh berniat makar.

Pelajaran

Sebagai umat Islam, dan sebagai rakyat Indonesia secara umum sepantasnya kita mengambil hikmah dari fenomena HR. Kita banyak belajar dari HR. Diantara pelajaran yang bisa dipetik adalah, pertama, jangan menganggap diri sebagai paling dari segala. Paling benar, paling pintar, paling hebat, paling kuat dan seribu paling lainnya. Menganggap diri sebagai paling segala itu akan mendorong seorang berprilaku sombong, angkuh. Meremehkan dan merendahkan orang lain. Taukah anda,  kenapa Iblis celaka? Sebab Iblis menganggap dirinya lebih baik, lebih kuat daripada nabi Adam as. Dia menganggap dirinya paling hebat sebab tercipta dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Dia menolak perintah Allah untuk sujud, hormat pada Adam as. Iblis jatuh dalam kesesatan abadi karena kesombongan akibat mengaku paling.

Kedua,  mulutmu harimaumu. Pepata lawas ini masih layak dijadikan pegangan guna mengontrol pembicaraan. Jangan berkata sembarangan. Jangan bicara asal, tanpa dasar dan bukti. Jangan gampang menuduh. Berkatalah yang bijak, santun. Lakukan tabayun terlebih dahulu sebelum menegaskan sesuatu. Tabayun sangat diajarkan oleh agama. Tabayun adalah mengkroscek, mencari tahu kebenaran sebuah berita. Kata-kata yang diucapkan dapat menjadi senjata makan tuan. Dalam pepetah Arab dikatakan mulut itu ibarat pedang. Maka hati-hatilah!

Ketiga, Al Quran (An Nahl:125) mengajarkan bahwa mengajak orang lain atau berdakwa itu kudu dengan hikmah, mauidho hasana, dan berdialog dengan cara yang terbaik. Berdakwa dengan hikmah itu artinya mengajak, memperngaruhi orang lain dengan perkataan yang santun, lembut. Hikmah merupakan ungkapan soal bagaimana menyelesaikan masalah dengan ilmu bukan dengan emosi apalagi dengan otot. Kemudian nasehat yang baik, tak menyinggung perasaan orang lain. Jika dipandang perlu, berdialog dan berdebat juga boleh dilakukan. Tentu dengan cara terbaik.

Keempat, menguatkan toleransi. Tolerasnsi adalah sikap saling menghargai atas segala perbedaan yang ada. Perbedaan adalah fakta, tak harus merasa risih. Keberagamaan bisa menjadi potensi dan kekuatan. Bagi kita, kebhinekaan adalah sejarah dan akar budaya bangsa. Tak mungkin diingkari. Kebhinekaan adalah kekayaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Sebab itu, buang segala sikap dan tindakan intoleran.

Kelima, menempatkan hukum di atas segala. Sebagai bangsa berbudaya, sepantasnya kita menghormati hukum. Hukum harus ditegakan secara adil. Hukum kudu mandiri, tak boleh ada intervensi. Hukum tak boleh tebang pilih. Penegakan hukum yang adil akan memberi rasa aman pada seluruh lapisan masyarakat. Semua diminta menghormati hukum. Hukum wajib menjadi panglima, memutus setiap perkara.

Keenam, membuang jauh kekerasan dalam menyelesaikan setiap problema bangsa. Kekerasan hanya mendatangkan mudhorat. Karenanya, hindari sebisa mungkin. Jangan gunakan kekerasan untuk mendukung logika. Biarkan logika kuat dengan sendirinya. Logika yang mengandalkan kekuatan massa menujukkan lemahnya logika itu dibangun.

Akhir kata. Ke depan, siapa pun kita tak sepantasnya  tergelincir pada lubang yang sama seperti yang dialami HR sekarang. Sebaik-baik orang adalah mereka yang dapat mengambil pelajaran pada setiap hal.

 

 

 

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Ikuti tulisan menarik Amirudin Mahmud lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler