Rupert John Cornford, di Antara Perang dan Cinta Tak Banal - Urban - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Rupert John Cornford, di Antara Perang dan Cinta Tak Banal

    Huesca. Jiwa dunia yang hilang jiwa-jiwa sayang, kenangan padamu adalah derita di sisiku bayangan yang bikin tinjauan beku...

    Dibaca : 3.931 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    John Comford, pemuda Inggris, 21 tahun, ketika itu di tahun 1936. Memandang dunia sebagai derita. Bukan karena cinta yang gagal dan banal oleh harapan. Ia hanya melihat penderitaan manusia yang disusun dari kerakusan hasrat tanpa batas oleh kisah-kisah manusia tanpa hati.

    Ia melihat kekejian Franco yang fasis, kepongahan Stalin dan kelicikan yang dijeratkan oleh para pemodal. Ketika itu, lututnya bergetar oleh rasa sakit hati akibat pandangan ideologinya. Dan ketika itu Spanyol porak poranda oleh perang sudara yang melibatkan kaum kiri dan nasionalis-fasis dukungan Hitler. Ia pun memutuskan pergi ke Spanyol dan menjadi martir seperti halnya para Spartan.

    Sebagai anggota Komunis Internasional bermazab Trotsky yang lebih lembut –ia melihat hal yang sama antara fasisme Farnsisco Franco yang menguasai Spanyol dan Joseph Stalin yang bengis di Rusia. Keduanya, mengundang nuraninya untuk membuat perubahan di Spanyol bersama gerilyawan Inggris lainya.

    Semula, ia memang tak dizinkan untuk turun di medan tempur. Tak ada yang merelakan dari barisan POUM, organisasi komunisme dimana ia bernaung. Sebagai terpelajar yang lulus dengan predikat terbaik di Universitas Cambrige, ia dibutuhkan secara intelektual untuk kepentingan partai komunis intenasional.

    Namun, seperti halnya anak muda yang senantiasa tergesa, hasratnya tak terbendung untuk melihat sebuah perubahan yang segera. Semangatnya ia tulis dalam sebuah bentuk puisi berjudul Purnama di Teirz: sebelum penyerbuan Huesca. Sebuah puisi yang menggambarkan keniscayaan akan perubahan dan keyakinan halnya proses dialektika Marx.

     

    Purnama Tierz, sebelum Huesca

    Masa lalu adalah bongkahan es

    mencengkeram dindingdinding gunung

    dan waktu menjarak

    gelap seutuhnya.

    Tapi, di sini

    saatnya semua berakhir

    berubah atas waktu

    di mana cahaya yang berkilat

    meruntuhkannya.

     

    Waktu menderu dan menyerbu

    amuk, meremuk segala ada

    dan sejarah dibentuk oleh kita

    oleh deru perjuangan

    Sebelum akhirnya, sampai tujuan.

     

    barisan memotong arah

    Masa depan adalah ruang tak begambar

    Berkelok jalan yang kita tempuh,

    Lurus seperti desiran peluru.

    Kita adalah masa depan.

    dan laga terakhir

    mari kita jelang.(ter.ranang aji sp)

     

    John Comford, mungkin tipikal para pendekar di masa-masa peradaban China yang berdarah pedang dan puisi. Darahnya dibentuk oleh romantisme dan semangat ideologis. Tanganya fasih memegang pena dan senjata laras panjang. Untuk itu, ia maju bertempur dan menggempur. Dengan senapan dan puisi yang tajam.

    Meskipun itu kemudian, ia harus terancam oleh bayangan kematian, dan kecemasan yang tak terjawab dalam setiap pertempuran yang dijalani. Dan ia, memang kemudian dikabarkan tewas pada akhinya. Gugur dalam sebuah pertempuran di bulan Desember 1936, sebelum usianya genap 21, di bulan yang sama. Di Huesca. Tempat dimana segala kehormatan ideologisnya dipertruhkan. Tanpa mayat, tanpa kubur yang dikenali.

    Tetapi, ia tak mati begitu saja, seperti halnya para martir dalam takdir. Setidaknya jiwanya tetap hidup. Dalam puisi-puisinya yang ia tulis sepanjang ia berperang. Pusinya, ‘To Margot Heinemann’ –yang kemudian dterjamahlan oleh Chairil Anwar sebagai ‘Huesca’ adalah jiwa yang tetap hidup. Puisinya, tidak hanya berguman dan berharap pada Margot Heinemann, kekasihnya, sekaligus kawan aktivisnya di POUM.

    Namun, puisi itu meninggalkan pesan tentang harga diri dan romantisme perlawanan. Jiwa dunia yang hilang jiwa, adalah pandangannya yang nanar, sejak ia begabung dalam partai komunis di Inggris ketika usianya 17 tahun.

    Puisi itu, meskipun mewakili kesunyiannya atas harapannya yang pupus diantara puing-puing bangunan dan desingan peluru, namun kita melihat semangat dalam romantisme yang tak berkesudahan. Sesuatu yang martir dalam wujud takdir. Sesutau yang muram, namun mempesona. Sesuatu yang sulit kita dapati di hari ini. Dimana cinta hanya perkara yang banal.

     

    Huesca

     

    Jiwa dunia yang hilang jiwa

    jiwa sayang, kenangan padamu

    adalah derita di sisiku

    bayangan yang bikin tinjauan beku

     

    angin yang bangkit ketika senja

    mengingatkan ku musim gugur akan tiba

    aku cemas akan kehilangan kau..

    aku cemas pada kecemasanku,.

     

    di batu penghabisan ke Huesca

    di batas terakhir dari kebanggaan kita

    kenanglah sayang, dengan mesra

    kau kubayangkan di sisiku ada

     

    dan jika untung malang menghamparkan

    aku dalam kuburan dangkal

    ingatlah sebisamu segala yang indah

    dan cintaku yang kekal (ter. Chairil Anwar)

     (ilustrasi sumber:frostysramblings.wordpress.com)

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 409 kali