Perempuan, Penentu Kemenangan di Pilgub DKI Jakarta

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jangan pernah remehkan pemilih perempuan. Di pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, posisi pemilih perempuan sangat strategis. Jadi penentu kemenangan.

 
Pada putaran pertama pemilihan gubernur di Jakarta, jumlah pemilih secara keseluruhan menurut data KPU berjumlah 7.218.244 orang. Sementara pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada putaran pertama sejumlah 5.563.207 orang. 
 
" Jumlah pemilih perempuan, melebihi jumlah pemilih laki-laki. Pemilih perempuan berjumlah 3.511.216 jiwa. Sedangkan pemilih laki-laki berjumlah 3.506.462 jiwa," kata Nayla Indah dari Divisi Pendidikan Politik Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, di Jakarta, kemarin. 
 
Nayla mencatat hal menarik dari komposisi jumlah pemilih berdasarkan gender. Di putaran pertama Pilgub Jakarta, ternyata pengguna hak pilih perempuan lebih banyak dibanding pemilih laki-laki. Jumlahnya mencapai 2.757.449 orang. Sementara jumlah pengguna hak pilih laki-laki sebanyak 2.600.143 orang. Ada kelebihan selisih pemilih perempuan sebanyak 157.306 orang.
 
" Artinya pemilih perempuan dalam konteks Pilkada DKI 2017, sangat menentukkan kemenangan peraihan atau perolehan suara pasangan calon," kata Nayla. 
 
Jadi kata Nayla,  pasangan calon yang bisa merebut hati kaum hawa bisa dikatakan telah mengantongi separuh kemenangan. Fakta lainnya, pada 29 November 2016 lalu, Charta Politika, mengeluarkan hasil surveinya tentang tiga pasangan calon yang bertarung di Pilgub Jakarta. Hasilnya sebanyak 32,3 persen perempuan cenderung memilih Agus-Sylvi dan ada 30,2 persen pria memilih Ahok-Djarot. Agus-Sylvi unggul pada kategori usia 30-39 tahun, Ahok-Djarot kategori usia 20-29 tahun. Dan Anies-Sandiaga unggul pada kategori pemilih pemula dan rentang usia 40-49 tahun dan 50 tahun ke atas. Mereka yang memilih Agus-Sylvi rata-rata menilai pasangan nomor urut 1 itu sosok yang tegas, tampan, dan berwibawa.
 
"Untuk itu pada putaran kedua Pilgub Jakarta ini, kedua pasangan calon yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga harus merebut suara pemilih, khususnya kaum hawa," katanya. 
 
Lantas bagaimana para pasangan calon bisa merebut hati pemilih perempuan dalam Pilkada DKI? Nayla berpendapat, salah satunya adalah menndorong partisipasi politik pemilih perempuan. Menurut dia, partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mereka yang mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijaksanaan umum. Untuk mewujudkan partisipasi murni, masyarakat harus lengkap dan cukup menerima pesan-pesan komunikasi  dan informasi tentang langkah kebijaksanaan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. 
 
" Untuk itu pasangan calon harus rajin mengkomunikasikan program-programnya, khususnya terkait dengan kebutuhan-kebutuhan kaum perempuan," kata dia. 
 
Kemudian lanjut Nayla, sosialisasi bagi pemilih perempuan tentang keberhasilan perjuangan kaum perempuan yang didukung program pasangan calon di bidang hukum, sosial dan politik, baik itu skala nasional maupun internasional. Intinya  mengokohkan prevensi penindasan, proteksi dan peningkatan aksesibilitas ke ruang publik, bagi perempuan, bukan batas perjuangan kesetaraan gender.
 
" Langkah kedua menarik hati kaum hawa, memaksimalkan agen-agen sosialisasi politik," ujarnya. 
 
Agen sosialisasi politik dalam hal ini kata dia, pertama adalah keluarga, kedua sekolah, ketigan kelompok pergaulan, keempat, kelompok kerja, kelima, kelompok agama, keenam,  kelompok-kelompok senggang, ketujuh mdia massa, kedelapan situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Dan yang kesembilan, kontak-kontak politik langsung. 
 
" Agen-agen sosialisasi politik ini dibentuk baik oleh relawan, kader-kader parpol pengusung, dan ormas pengusung, untuk mensosialisasikan sosok pasangan calon beserta program-programnya di basis-basis pemilih perempuan yang memberikan suara kepada pasangan calon Agus-Sylvi," urai Nayla. 
 
Langkah lain yang bisa dilakukan, kata Nayla, pasangan calon mesti memahami budaya politik di suatu daerah. Mengutip pendapat Alan R. Ball, budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri atas sikap, kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan isu-isu politik. Artinya pasangan calon yang ingin merebut hati pemilih kaum hawa harus memahami budaya politik setempat. Walaupun DKI Jakarta, orang aslinya adalah suku Betawi, akan tetapi penduduk Jakarta merupakan masyarakat yang heterogen dan kaum urban. Namun demikian tetap saja, pengaruh budaya betawi di Jakarta masih melekat di mayoritas warga Jakarta. 
 
" Pasangan calon bisa melakukan survey berupa kuesioner, wawancara, dan metode lainya mengenai budaya politik di basis-basis tertentu untuk mengetahui sejauh mana budaya politik baik sikap, kepercayaan, emosi, nilai-nilai serta isu politik apa yang harus digaungkan untuk mendapatkan simpati," tutur Nayla. 
 
Selain itu yang tak kalah penting, pasangan calon haru mencounter apatisme politik dikalangan kaum hawa. Nayla menyarankan, pasangan calon sebaiknya melakukan kegiatan-kegiatan kontra apatisme politik pada kaum perempuan. Seorang ilmuwan politik Morris Rosenberg, misalnya mengatakan ada tiga alasan kenapa orang bersifat apatis dalam aktivitas politik. Pertama, aktivitas politik merupakan ancaman terhadap berbagai aspek kehidupannya. Nah, dalam hal ini pasangan calon harus meyakinkan,  hal tersebut bukan merupakan ancaman. Kedua, aktivitas politik dipandang sebagai suatu kerja yang sia-sia. Pasangan calon dalam hal ini harus berusaha meyakinkan aktivitas politik merupakan kegiatan yang bermanfaat. Ketiga, ketiadaan faktor untuk “memacu diri untuk bertindak” atau disebut juga sebagai “perangsang politik”. Dalam hal ini pasangan calon harus menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan gairah politik konstituennya.
 
" Kelima, melakukan marketing politik yang elegan. Menurut Firmanzah, ahli marketing politik, di mengatakan, marketing politik adalah metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman mengenai masyarakat, sekaligus berguna dalam membuat produk politik yang akan ditawarkan kepada masyarakat," kata Nayla. 
 
Nayla menambahkan ada empat segmen yang dikembangkan oleh Newman, political marketing yang memenangkan Bill Clinton di Amerika Serikat. Segmen pertama, segmen pemilih rasional. Pemilih rasional adalah kelompok pemilih yang memfokuskan perhatian pada faktor isu dan kebijakan kontestan dalam menentukkan pilihan politiknya. Dalam konteks Pilkada DKI Jakarta, pemilih rasional ini adalah pemilih yang sudah mantap pada pasangan calon pilihannya dengan program-programnya. Kedua, segmen pemilih emosional. Kelompok pemilih ini dipengaruhi oleh perasaan-perasaan tertentu seperti kesedihan, kekhawatiran, dan kegembiraan terhadap harapan tertentu dalam menentukkan pilihan politiknya. Faktor emosional ini sangat ditentukkan oleh faktor personalitas kandidat. Ketiga, segmen pemilih sosial. Kelompok ini mengasosiasikan konstentan pemilu dengan kelompok-kelompok sosial tertentu dalam menentukkan pilihan politiknya. Dan keempat, segmen pemilih situasional. Kelompok pemilih ini dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional tertentu dalam menentukkan pilihannya. Segmen ini digerakkan oleh perubahan dan akan menggeser politiknya jika terjadi kondisi-kondisi tertentu. 
 
"Pasangan calon harus bisa memainkan empat segmen political marketing," ujarnya. 
 
 
 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua