Wayang Wahyu: Bayang-bayang Sarat Pesan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Wayang Petruk Jadi Ratu merupakan salah satu koleksi Wayang Kulit Purwa Ngabean di Museum Wayang, Jakarta. Wayang Ngabean dibuat tahun 1917 oleh keluarga Ngabean, Yogyakarta yang merupakan kakak kandung Sultan. Tempo/ Ruly Kesuma

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Wayang Wahyu: Bayang-bayang Sarat Pesan

    wayang wahyu yang membingkai inkulturasi budaya, Kristen dan budaya lokal

    Dibaca : 3.236 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pertunjukan wayang merupakan kesenian khas nusantara yang jamak dijumpai di Jawa maupun Bali. Semacam teater yang dimainkan oleh boneka-boneka berbahan kayu dan kulit dengan memanfaatkan bayangan yang dihasilkan oleh pencahayaan lampu. Akulturasi dari kebudayaan pra-Islam yang berisi kisah-kisah epik Hindu, Ramayana dan Bharatayuddha. Namun, tradisi Jawa menganggap wayang diciptakan oleh sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Kisahnya kemudian dimodifikasi sebagai sarana islamisasi yang cukup efektif. Wayang golek, paling tidak, menunjukkan bahwa unsur Islam telah masuk dalam kebudayaan ini. Kisah dalam pertunjukan wayang golek biasanya diilhami oleh cerita-cerita Menak, roman legenda Islam yang melibatkan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad.

    Wayang, dalam perkembangannya, dimanfaatkan pula sebagai sarana penyebaran ajaran Kristen, yang kemudian memunculkan wayang wahyu. Meski tak sepopuler dengan pertunjukan wayang yang berisi ajaran Hindu maupun Islam, kemunculan wayang wahyu menjadi bagian penting yang membingkai semangat inkulturasi budaya.

    Munculnya wayang wahyu tak dapat dilepaskan dari revolusi dalam tubuh gereja yang diaplikasikan dengan memadukan unsur kebudayaan, lokal dan kristen. Perpaduan ini, seperti terlihat dari pelayanan gereja serta nyanyian lagu rohani, yang keduanya mulai menggunakan bahasa daerah. Orientasi gereja terlihat lebih pluralistis dan tak terkesan Eropa sentris.

    Timotheus L. Wignyosoebroto adalah penggagas wayang wahyu. Ia terinspirasi ketika  M. M. Atmowijoyo menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon berbeda. Jika biasanya kisah Mahabharata yang ditampilkan, Atmowijoyo memodifikasinya dengan menampilkan kisah yang terinspirasi dari ‘Perjanjian Lama’ berjudul “Dawud Mendapat Wahyu Kraton”. Pertunjukan yang tak biasa ini memantik Wignyosoebroto untuk membuat wayang dengan desain tersendiri. Dan, secara resmi wayang wahyu lahir saat digelar pertunjukan wayang di Surakarta, 2 Februari 1960, dengan lakon “Malaikat Mbalelo” yang kisahnya diambil dari alkitab. Lima belas tahun setelahnya, didirikan sebuah komite yang terdiri atas para dhalang, pembuat wayang, pemain gamelan, dan pihak gereja guna mengakomodasi kegiatan wayang wahyu.

    Sintesis antara seni dan unsur agama berpadu dalam pertunjukan wayang wahyu. Dibuat dari bahan kulit sapi maupun kerbau, seperti wayang pada umumnya. Bentuknya tak berbeda jauh dari manusia biasa, figur Jesus maupun malaikat misalnya, Jesus berjenggot dan terdapat lingkaran di atas kepalanya, sementara malaikat memiliki sayap yang mengepak sempurna. Kisah yang ditampilkan diambil dari ‘Perjanjian Lama dan Baru’, seperti Samson dan Delilah, David dan Goliath, Noah, maupun kelahiran dan kematian Jesus yang telah diimprovisasi oleh dhalang. Dhalang dituntut untuk mampu menghadirkan kisah sarat pesan, yang meski telah dimodifikasi, yang tak bertentangan atau melenceng dari ajaran Kristen.

    Pertunjukan wayang wahyu diiringi oleh orkes gamelan. Dengan laras dan pathet yang sedikit berbeda dari pertunjukan wayang biasanya, lagu yang dilantunkan bernafaskan kerohanian Kristen. Peran pesinden tak sesignifikan seperti pertunjukan wayang umumnya, mereka bisa dikatakan hanya pemanis saat goro-goro, bagian ketika dhalang dan pelawak beraksi,ditampilkan. Mungkin, iringan musik yang agak berbeda inilah yang menjadikan wayang wahyu kurang akrab di telinga masyarakat.

    Wayang wahyu, saat ditampilkan, memiliki jam tayang yang lebih pendek. Hanya dua hingga empat jam, berbeda dengan pertunjukan wayang purwa yang mencapai tujuh sampai sembilan jam. Pertunjukannya disponsori oleh gereja maupun individu dan biasanya ditampilkan memperingati hari-hari besar Kristen, seperti natal, ulang tahun gereja, sekolah Kristen, maupun universitas. Pertunjukan wayang wahyu dapat dijumpai di Museum Wayang Jakarta serta festival lokal, seperti festival Kraton, juga dipancarkan Radio Republik Indonesia maupun radio lokal. Acara-acara tertentu yang melibatkan pemerintah daerah, acara di kalangan militer, dan sekolah seni yang merupakan institusi kebudayaan terkadang juga menampilkan wayang wahyu. Pertunjukan wayang wahyu yang agak jarang juga diakibatkan karena mahalnya biaya untuk menggelar acara tersebut.

    Wayang wahyu menunjukkan kemampuan Kristen masuk dan beradaptasi dalam kebudayaan yang telah mengakar dalam masyarakat melalui interaksi antar budaya. Toleransi beragama pun nampak dalam pertunjukan wayang wahyu, misalnya penabuh gamelan yang non-kristiani tetap berkontribusi dalam pertunjukan, maupun penonton yang tak semuanya Kristen. Tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan, wayang wahyu hadir guna semakin memperkaya seni dan kebudayaan Jawa, serta menjadikan wayang terus berkembang.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.