Sweetness - Cerpen Tony Morisson - Urban - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Sweetness - Cerpen Tony Morisson

    Cerita peek Tony Morrison. Toni Morrison adalah novelis Amerika peraih Nobel - dan pemenang hadiah Pulitzer.

    Dibaca : 5.225 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cerpen: Toni Morrison*

    Ini bukan salahku. Dan kau memang tak bisa menyalahkanku. Aku tak melakukannya.  Tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Mereka menariknya dari selangkanganku, tak lebih dari satu jam --dan sesaat kemudian baru aku sadar, tampaknya ada yang salah di sini. Iya, benar-benar salah. Ia begitu hitam sehingga membuatku takut. Seolah terperangkap dalam kegelapan malam. Ia benar-benar hitam seperti orang Sudan. Aku tak tahu. Mengapa itu bisa terjadi. Kulitku begitu terang dan sehat. Rambutku indah menyala, orang menyebutnya sebagai highly-yellow. Demikian pula dengan ayah Lula Ann.

    Tak ada seorangpun di keluargaku memiliki kulit macam itu. Tak ada. Mungkin hanya Tar yang hampir mirip, namun rambutnya tidak seperti kulitnya. Ini beda. Lurus, tapi ngruntel seperti rambutnya para Aborigin, orang asli Australia yang telanjang. Mungkin kau pikir ini merupakan kemunduran, tapi kemunduran macam apa? Kau mesti lihat bagaimana nenekku, kalau begitu. Ia pergi demi Bule, dan tak pernah mengatakan satu patah katapun pada anak-anaknya. Setiap surat yang ia terima dari ibuku atau bibiku, ia kembalikan tanpa membacanya. Akhirnya mereka sada,r tak perlu lagi mengganggunya dan membiarkannya menjadi seperti yang ia mau. Hampir semua mulatto dan quadroons menguatkan itu sepanjang waktu, meskipun rambut mereka berciri khas.

    Menurutmu berapa banyak orang Bule yang darahnya mengalir darah Negro? Coba tebak. Dua puluh persen. Iya, kudengar segitu. Ibuku sendiri, Lula Mae, bisa melaluinya dengan mudah, tapi ia memilih tidak. Ibu pernah bilang kepadaku, berapa harga yang dibayar untuk keputusan itu. Ketika ibu dan ayah pergi ke pengadilan untuk menikah, kenangnya, di sana ada dua Injil, satu untuk Negro dan satunya lagi untuk Bule. Injil! Bayangkan saja itu!

    Ibuku dulu adalah seorang pembantu rumah tangga di keluarga Bule kaya. Mereka makan apa yang ibuku masak dan ngotot meminta menggosok punggung mereka saat mandi. Tuhan tahu apa yang terjadi untuk semua yang mereka lakukan, termasuk hal-hal yang intim lainnya. Tetapi Injil yang sama tidak boleh untuk tangan yang beda. Tangan Negro dan Tangan Bule. Apaan ini?

    Sebagian dari kalian mungkin berpikir itu sesuatu yang buruk buat kelompok kita sendiri yang berkulit lebih terang, baik di klub, gereja, klub mahasiswi, bahkan sekolah kulit berwarna. Tapi bagaimana pula kita bisa punya martabat? Bagaimana pula kita bisa mengelak dari penolakan apotek, didesak di halte bis, harus berjalan di selokan agar Bule bisa menguasai sepenuhnya trotoar jalan, harus membayar satu nikel untuk sebuah kantong plastik di toko klontong, sementara gratis buat para bule? Belum lagi semua julukan yang diberikan. Aku dengar semua itu dan masih banyak hal lain. Tetapi karena warna kulit ibuku, ia tak pernah berhenti mencobain topi dan menggunakan toilet di supermarket. Dan ayah, bisa mencoba sepatu di ruang depan, bukan di belakang. Tak satu pun dari mereka mau minum dari air mancur khusus kulit berwarna, bahkan jika mereka harus mati kehausan.

    Aku benci mengatakannya, tapi sejak awal sekali di ruang lakatasi, Lula Ann, sudah mempermalukanku. Kulit bayinya, semula seperti bayi umumnya, pucat, bahkan bayi Afrika pun sama, tetapi kemudian berubah sangat cepat. Aku seperti merasa gila ketika ia dibalikkan ke kanan, tepat di depan mataku, biru kehitaman. Aku tahu, aku menjadi gila selama satu menit saat itu. Dalam beberapa detik, aku memegang selimut di wajahnya dan tinggal menekannya. Tapi aku tak bisa melakukannya. Tak peduli seberapa besar aku berharap ia tak lahir dengan warna yang mengerikan itu. Aku juga berpikir untuk memberikannya pada panti asuhan. Tapi aku takut menjadi salah satu ibu yang meninggalkan bayinya di teras gereja. Baru-baru ini, aku mendengar cerita beberapa orang di Jerman yang putih seputih salju memiliki bayi berkulit gelap. Tak ada yang bisa menjelaskan. Mungkin kembar. Aku percaya. Satu putih dan satu hitam. Tapi aku tidak tahu apa itu benar. Aku hanya tahu, yang bagiku, memnyusuinya seperti membiarkan anak Negro mengisap putingku. Jadi, aku berikan ia sufor (susu formula) ketika sampai di rumah.

    Louis, suamiku, ia seorang porter, ketika ia kembali, ia menatapku seolah-olah aku seorang yang gila dan melihat bayiku seperti dari planet Jupiter. Ia bukan tipe pria pemaki, tetapi ketika ia mengumpat, "Sialan! Apa-apan ini!" Aku tahu ini jadi masalah. Itulah sebabnya kami bertengkar hebat meskipun sebenarnya tak ada masalah. Pernikahan kami hancur berkeping-keping. Kami menikah selama tiga tahun dan hidup bahagia, namun setelah ia lahir Louis menyalahkanku dan memperlakukan Lula Ann seperti orang asing bahkan seolah ia adalah musuh. Louis tak pernah menyentuhnya.

    Aku mencoba menyakinkannya bahwa aku tidak pernah selingkuh. Tapi ia tak bergeming dan yakin aku berbohong. Kami berdebat hebat, hingga kemudian kukatakan padanya, kulitnya yang hitan berasal dari keluarganya sendiri -bukan maunya. Saat itu semua menjadi semakin buruk, sangat buruk. Ia hanya berdiri mematung dan pergi meninggalkanku. Dan aku sadar, aku harus mencari tempat sendiri yang lebih baik dan murah untuk tinggal. Aku mencoba melakukan yang terbaik yang aku bisa. Aku tahu untuk tak membawanya bersamaku karena pemilik kontrakan melarangnya. Jadi aku meminta sepupuku untuk menjaganya. Aku tak sering membawanya keluar. Untuk apa? Lagipula aku tahu ketika aku membawanya dengan kereta dorong, orang-orang akan mengintip dan mengatakan basa-basi sebelum kemudian mengerutkan keningnya. Itu menyakitkan. Aku mungkin punya babysitter jika warna kulit kami ditukar.

    Itu cukup sulit hanya karena wanita berkulit berwarna -bahkan seorang highly-yellow mencoba menyewa di bagian kota lain yang lebih layak. Kembali di tahun sembilan puluhan, ketika Lula Ann lahir, di dalam hukum anti diskriminasi membolehkan siapapun menyewa, tapi tidak banyak tuan tanah atau pemilik kontrakan mengerti itu. Tapi aku beruntung bertemu Tuan Leigh, meskipun aku juga tahu, ia menaikkan harga sewa tujuh dolar dari yang diiklankan. Dan ia bisa marah bila kau terlambat beberapa menit membawa uang.

    Aku bilang pada Lula Ann, untuk panggil aku "Sweetness". Bukan Ibu atau Mama, itu lebih aman bagiku. Ia akan tumbuh semakin besar dan hitam, dengan bibir yang tebal, kupikir jika ia panggil aku Mama orang-orang akan bingung. Selain itu ia memiliki warna mata yang lucu, hitam gagak kebiruan yang memancarkan daya sihir.

    Jadi, begitulah, hanya kami berdua tinggal bersama dalam waktu yang lama. Aku tak perlu memberitahu betapa sulitnya menjadi istri yang ditinggalkan. Aku kira Louis juga merasa bersalah dan galau setelah meninggalkan kami berdua seperti itu. Karena setelah beberapa bulan kemudian ia mencari tahu dimana aku tinggal dan mengirimkan sejumlah uang sebulan sekali, meskipun aku tidak pernah meminta atau menuntutnya di pengadilan.

    Uang lima puluh dolar dan pekerjaan malam di rumah sakit membuatku dan Lula Ann lepas dari kata "makmur". Iya, itu menjadi sesuatu yang baik. Aku berharap mereka berhenti menyebut makmur dan kembali ke kata yang mereka gunakan ketika ibuku masih seorang gadis. Disebut "bantuan". Kedengarannya lebih baik, seperti bisa sedikit rehat dan bernafas lega, di tengah kerumunan yang berjubel.

    Selain itu, mereka para pekerja 'persemakmuran' bisa berati meludahi.

    Ketika aku mulai mendapatkan pekerjaan, aku sudah tak lagi membutuhkan mereka lagi, aku bahkan bisa mendapatkan uang yang lebih besar dari yang pernah mereka dapatkan. Aku kira gaji rendah mereka membuat mereka menjadi picik memperlakukan kami seperti pengemis. Terutama ketika mereka melihat Lula Ann, dan kemudian melihatku seolah aku adalah seorang penipu atau ada sesuatu yang ganjil. Meskipun sudah mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tapi aku harus tetap behati-hati bagimana membesarkannya. Aku harus berhemat. Sangat hemat.

    Lula Ann harus banyak belajar bagaimana berperilaku, bagaimana kepalanya harus tetap menunduk agar tidak mendapatkan masalah. Aku tak peduli berapa kali ia harus berubah nama. Warnanya adalah sebuah salib dan ia akan selalu membawanya. Tapi itu bukan salahku. Bukan salahku. Bukan.

    Ah, bagaimanapun terkadang aku merasa perih bila mengingat bagaimana Lula Ann diperlakukan tidak adil saat masih kecil. Tapi kau harus bisa memahami: Aku harus melindunginya. Lula tak tahu bagaimana dunia ini. Dengan kulitnya, ia tak boleh menjadi wajar bersikap centil, bahkan kalau itu memang wajar. Bukanlah Amerika kalau tidak bisa menyeret seorang remaja ke bui hanya karena membatah dan berkelahi di sekolah, tempat di mana kau adalah orang terakhir yang disewa namun menjadi pertama untuk dipecat.

    Lula tak paham itu semua, ia tak mengerti kulit hitamnya akan membuat para Bule ketakutan dan tertawa nyinyir. Aku pernah menyaksikan seorang gadis sekitar sepuluh tahun yang kulitnya mendekati gelap seperti Lula Ann, ia dijegal oleh bocah-bocah Bule kurang ajar, ia terjatuh, dan ketika ia mencoba bangkit mereka menjegalnya kembali. Anak itu terjerembab berkali-kali. Bocah-bocah Bule itu tertawa senang sekali. Setelah sekian kali gadis itu berhasil lolos dan bocah-bocah Bule itu masih saja tertawa bangga. Jika aku tak melihatnya dari bis, aku pasti akan menolongnya menjauhkan dari para sampah Bule itu. Iya kan, jika aku tak melatih Lula Ann secara benar, ia tidak akan tahu cara menyebrang jalan dan menghindari bocah-bocah Bule. Tapi pelajaran yang sudah aku berikan impas sudah, dan akhirnya dia membuatku bangga sebagai burung merak.

    Kau harus tahu, aku bukan ibu yang buruk, tapi memang, aku mungkin telah melakukan hal-hal yang menyakitkan buat anakku, tapi itu karena aku memang harus melindunginya. Harus. Semua itu karena kulitnya. Awalnya, aku tak bisa melihat semua masa lalu yang menyedihkan saat mengetahui siapa dirinya dan hanya sekedarnya mencintainya. Tapi begitulah, aku memperlakukannya. Benar-benar aku lakukan. Aku pikir dia mengerti sekarang. Iya, kupikir begitu.

    Terakhir, dua kali aku bertemu dengannya. Ia baik-baik saja. Bahkan sangat istimewa. Ia sungguh berani dan percaya diri. Setiap kali ia menemuiku, aku bahkan tak sadar kalau ia begitu hitam. Ia kenakan gaun putih yang indah yang membuatnya semakin cantik.

    Semua itu mengajariku sebuah pelajaran yang semestinya aku ketahui. Bagaimana memperlakukan anak-anak. Dan mungkin mereka tak pernah melupakannya. Begitu ia bisa, ia meninggalkaku sendiri di apartemen yang mengerikan. Ia menjauh sejauh ia bisa, merawat dirinya dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di California. Lula Ann tak pernah menelpon atau mengunjungiku lagi. Ia hanya mengirimkan uang hingga sekarang, namun aku tak pernah bertemu lagi entah berapa lama.

    Aku memilih tempat ini -Wiston House -sebuah tempat untuk orang-orang kaya, rumah panti jompo yang mahal di luar kota. Ruaganku lebih kecil, nyaman, lebih murah dengan duapuluh empat jam perawat dan dokter datang seminggu dua kali. Usiaku baru 63 tahun -terlalu muda untuk pensiun, tapi aku punya masalah dengan penyakit tulang yang membutuhkan perawatan khusus. Kebosanan yang menghinggapi lebih buruk dari kelemahan dan rasa sakit, tapi perawat itu menyenangkan.

    Salah satunya mencium pipiku ketika aku bilang aku akan menjadi nenek. Senyum dan pujiannya membuat orang merasa seperti tengah dinobatkan dengan mahkota. Aku tunjukkan padanya surat warna biru yang dikirimkan Lula Ann. Ia bubuhkan tanda tangan seolah sebagai seorang "Mempelai." Tapi aku tak pernah membayar untuk sebuah perhatian. Kata-katanya terdengar meracau. "Coba tebak. Aku sangat bersemangat menyampaikan berita ini. Aku akan punya bayi. Aku begitu bahagainya, terlalu bahagia dan semoga Sweetness juga." Kurasa sensasinya ada pada bayinya, bukan siapa ayahnya, karena ia tak menyinggungnya. Aku ingin tahu apakah ia sehitam dirinya. Bila iya, ia tak perlu kuatir seperti diriku dulu. Waktu telah berubah, tak lagi seperti ketika masa mudaku. Semua telah menjadi hitam dan biru, di TV, majalah fashion, bahkan Negro menjadi bintang film.

    Tak ada alamat di sampul amplopnya. Jadi, kupikir aku masih menjadi ibu yang buruk yang dihukum sepanjang hayatnya. Aku tahu ia membenciku. Hubungan kami sebatas uang yang ia kirimkan. Aku memang harus berterima kasih atas kiriman uang itu dan dengan itu aku tak perlu mengemis untuk uang sampingan seperti pasien lainnya. Jika aku ingin mejaku sendiri untuk bermain soliter, aku bisa mendapatkanya tanpa bermain kotor yang sering terjadi di ruang santai. Aku juga bisa membeli krim khusus wajah untukku. Tapi aku sadar. Aku tahu uang yang dikirimkan itu hanyalah cara untuk menjauhiku dengan tenang tanpa merasa terlalu bersalah.

    Jika aku terdengar seperti marah, tidak bersyukur, itu hanya bagian dari rasa penyesalan. Dari semua hal kecil yang aku lakukan dan tidak selalu serba salah. Aku masih ingat di saat-saat Lula Ann datang bulan pertama kalinya dan bagaimana reaksiku. Atau di saat aku berteriak marah saat ia tersandung dan menjatuhkan sesuatu. Benar. Aku benar-benar marah. Bahkan ia ditolak kulit hitam di saat dia lahir dari rahim seorang Negro itu sendiri. Tidak. Aku semestinya membuang semua kenangan itu jauh-jauh. Tak ada gunanya. Aku tahu, aku melakukan yang terbaik untuknya di situasi yang sulit. Ketika suamiku meninggalkan kami, Lula Ann adalah beban yang berat. Tapi aku mampu menanggungnya dengan baik.

    Iya, aku keras padanya. Kau boleh bertaruh. Pada saat ia berusia dua belas tahun dan hampir tiga belas tahun, itu masa-masa dimana aku harus lebih keras menjaganya. Ia membatantah, menolak makan apa yang aku masak, mendandani rambutnya. Ketika aku kepang rambutnya, ia pergi ke sekolah tanpa kepang lagi. Aku tak mau ia pergi dan tampak jelek. Aku membanting pintu dan memperingatkannya tentang nama-nama julukannya. Namun, beberapa sekolahku pasti sudah terhapus. Lihat bagaimana dia ternyata? Seorang gadis karir yang kaya. Bisakah kamu?

    Sekarang dia hamil. Langkah yang bagus, Lula Ann. Jika kau berpikir bahwa menjadi ibu adalah semua tentang kelembutan, sepatu mungil, dan popok, kau akan mendapatkan kejutan besar. Benar-benar Besar. Kau dan pacarmu yang tanpa nama itu, suami, atau siapa pun itu yang kau bayangkan, Oooh! Bayi! Kitchee Kitchee koo!

    Dengarkan aku. kau akan mencari tahu apa yang dibutuhkan, bagaimana dunia ini, cara kerjanya, dan bagaimana perubahannya ketika kau menjadi orangtua.

    Goodluck dan Tuhan bersama anak-anak![]

    -Diterjemahkan oleh Ranang Aji SP, -Diterbitkan pertama oleh New Yorker (2014) dengan judul Sweetness.

    *Toni Morrison adalah novelis Amerika peraih Nobel - dan pemenang hadiah Pulitzer. Novel-novel terbaiknya dinataranya 'The Bluest Eye,' 'Song of Solomon,' 'Beloved' and 'A Mercy.' Lahir di Lorain, Ohio 18 February 1931.

    Catatan:

    -Highly-Yellow, semacam kelas sosial kulit berwarna (Afrika-Amerika)

    -1 nikel, 5 sen

    -Mulatto, campuran negro dan kulit putih, biasanya dengan latin.

    -Quadroons, berdarah seperempat campuran kulit putih

    -Porter, buruh angkut

     

     [sumbergambar ilustrasi:https://id.pinterest.com)

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.