x

Iklan

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

#SeninCoaching: How Fit Are You to Nab the Big Fish

Leadership Growth: Quell the Whale Inside to Prevail Arogansi jabatan, kebanggaan pada masa lalu, dapat merugikan semua pihak. Can you lead yourself?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Mohamad Cholid

Practicing Certified Business and Executive Coach

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Minyak ikan paus ibarat nyawa tambahan bagi warga Nantucket, kawasan pulau  30 mil laut di selatan Cape Cod, Negara Bagian Massachusetts, AS. Para pemilik kapal, pedagang, dan pelaut lazim berkolaborasi untuk mendapatkan minyak ikan paus sebagai penopang kehidupan dan sekaligus komoditas utama perdagangan mereka dengan dunia luar.

Keberangkatan kapal-kapal untuk memburu iklan paus ke lautan lepas selama berbulan-bulan atau bahkan lebih dari setahun pelayaran tersebut, lazim diiringi dengan upacara doa warga setempat.  Ritual doa itu pula yang dilantunkan bersama untuk Essex, kapal yang didanai sebuah kongsi dagang pemasok minyak ikan paus Nantucket.

Saat meninggalkan pelabuhan sebagai enterprise mengarungi lautan, dengan gelombang dan cuaca yang tidak dapat diramalkan, bekal penting yang luput bagi Essex kelihatannya leadership.

Para pemodal mempercayakan kepemimpinan Essex  kepada Kapten George Pollard yang belum pernah teruji di samudera. Pertimbangan mereka karena keluarga Pollard, yang sudah lebih dari satu generasi jadi pedagang minyak ikan paus, ikut mendanai perburuan itu.

Sementara Owen Chase yang sudah dikenal sebagai pelaut handal dan dihormati di kalangan awak kapal -- serta pernah dijanjikan oleh salah seorang pemodal Essex bakal jadi kapten --  ditugasi sebagai first mate, asisten utama nakhoda.

Persaingan ego diantara keduanya tak terhindarkan. Pollard iri pada reputasi Chase. Sementara Chase masih masygul atas posisinya sebagai first mate, bukan kapten.

Di lautan Atlantic, dalam satu kejadian menghadapi gelombang besar dan hujan badai, Pollard memaksakan kapal diarahkan sesuai kemauannya. Saran dan peringatan Chase dia abaikan.

Essex memang masih tetap dalam postur untuk berlayar, tidak tumpah dihantam gelombang. Tapi terjadi kerusakan disana-sini. Paling krusial adalah terjadinya defisit emotional bank account di kalangan anak buah kapal. Mereka merasa telah mempertaruhkan nyawa di lautan lebih banyak untuk menopang ego Pollard menjulang, bukan menegakkan tiang kapal. 

Dalam perdebatan di kabin, Pollard dengan pongah mengatakan bahwa dirinya keturunan pelaut dan pedagang minyak paus yang sudah kondang, sedangkan Chase dia kecilkan sebagai keturunan orang kebanyakan.

Namun, demi mengejar target perolehan minyak ikan, agar reputasi terjaga saat tiba kembali di pelabuhan, keduanya kemudian sepakat menepiskan ego masing-masing. Tak lama kemudian seekor paus bull sperm berhasil mereka dapatkan.

Tiga bulan sesudah itu, tidak ada lagi hasil buruan di Atlantik. Lantas mereka  menuju Samedera Pasifik melalui Cape Horn, dengan mindset dan agenda yang belum benar-benar aligned (selaras). 

Di tengah paus-paus berseliweran dan perburuan yang menggetarkan,  Essex berakhir tragis. Kapal terbelah dihantam paus raksasa dan tenggelam.

Dalam film In the Heart of the Sea (dirilis Desember 2015), Owen Chase (diperankan Chris Hemsworth) dan George Pollard (Benjamin Walker) plus beberapa awak berhasil selamat setelah sekian lama terapung di sekoci.

In the Heart of the Sea (disutradari pemenang Academy Award Ron Howard), didasarkan pada buku non-fiksi yang ditulis Nathaniel Philbrick dengan judul sama.

Kisah pertarungan ego dan perjuangan hidup mati di tengah gelombang dan badai samudera ini kemudian juga dituliskan oleh Owen Chase jadi buku  Narrattive of the Most Extraordinary and Distressing Shipwreck of the Whaleship Essex (terbit 1821). Semua itu memberikan inspirasi Herman Melville menulis novel Moby Dick (1851), sebuah masterpiece. 

 

Cerita Essex menggambarkan, proses seleksi kepemimpinan yang hanya berdasarkan kekuatan modal finansial, keturunan, dan dijalankan dengan pongah dapat merugikan semua pihak. Proses eksekusi yang tidak efektif dan tim yang bekerja lebih banyak atas dasar ketakutan, telah mengakibatkan bahtera berlayar dengan jiwa terbelah dan tanpa clarity.

Bahtera bisnis yang dipimpin dengan cara mengagung-agungkan masa lalu, ditambah nafsu pemegang saham, leader dan tim yang tidak aligned, dalam banyak kasus terbukti mengalami kerugian – bahkan ada yang gulung tikar.

Salah satu contoh, sebagaimana diceritakan Jim Collins dalam buku Good to Great, menimpa the Great Atlantic and Pacific Tea Company (dikenal sebagai A&P), perusahaan grocery chain store pertama di AS dengan lebih dari seratus tahun pengalaman dan pada 1950 memiliki 16.000 gerai plus ribuan supermarket.

Sejak tahun 1950  A&P mengalami penurunan. Keputusun-keputusan manajemen sering mismatch dengan fakta pasar, antara lain karena ngotot mempertahankan pola pendekatan pasar seperti dilakukan pada masa lalu. Kan dulu sukses, kata para bosnya. Para pimpinan kehilangan fokus untuk pertumbuhan yang lebih baik.  

Walhasil,  Juli 2015 manajemen menyatakan bangkrut dan pada 2016 seluruh supermarket dan toko dijual atau ditutup.  Tahun lalu A&P masuk album kenangan pernah menjadi perusahaan jaringan toko terbesar di AS.

Pembelajaran tambahan yang dapat kita peroleh dari kasus Essex, selain pentingnya team and leadership alignment, minimal ada dua lagi yang patut diperhitungkan.

    1.Faktor keturunan tidak dapat dijadikan acuan utama untuk menentukan seleksi pemimpin – di dunia bisnis maupun untuk institusi pemerintahan.

Kita, khususnya di Indonesia, sudah melihat kerugian masyarakat akibat tokoh-tokoh publik (yang merasa diri pemimpin, karena jadi pimpinan suatu institusi) yang selalu mengagungkan figur orang tua mereka untuk mengatasi tantangan saat ini. Padahal ajaran tokoh besar yang diagungkan tersebut mengutamakan pikiran progresif untuk kemajuan bangsa, bukan nengok ke belakang melulu.

    2. Pentingnya encouraging constructive dialogue, sebagaimana tertuang dalam buku Global Leadership, The Next Generation (ditulis Marshall Goldsmith, Cathy L. Greenberg, Alistair Robertson, dan Maya Hu-Chan berdasarkan survei terhadap 200 eksekutif dari 120 institusi bisnis di enam benua).

Encouraging constructive dialogue menjadi salah satu dari 15 kompetensi wajib bagi para pemimpin yang berniat sukses dalam menghadapi gelombang dan topan di samudera kompetisi global yang makin sulit diprediksi.

Untuk melaksanakan encouraging constructive dialogue praktis jadi mustahil bagi Kapten George Pollard Jr. Selain bawaannya arogan, menjelang berlayar memimpin Essex, dia sudah diwanti-wanti bapaknya, George Pollard Sr., seperti ini, “Kamu kapten, nggak perlu terlalu dekat dengan awak kapal, walaupun mereka itu teman-temanmu”.

Kita tahu, sebagian dari Anda mestinya juga sudah membuktikan, bahwa leadership yang efektif dapat diraih, dan hasilnya memiliki impak lebih positif, jika dilaksanakan melalui interaksi intensif dan dialog konstruktif dengan tim. Tentu dengan dukungan fakta dan data yang updated dan tanpa manipulasi, apa adanya.

Untuk dapat bersikap dan berperilaku seperti itu,  seorang pemimpin rasanya mesti lebih dulu sanggup mengalahkan ego, arogansi jabatan/kekuasaan – yang timbul tenggelam bagaikan ikan paus di lautan batin masing-masing.

Kalahkan paus di dalam diri sebelum menangkap paus di lautan. Itu satu kata kunci kepemimpinan efektif.

Saat seorang peserta seminar John C. Maxwell bertanya apa tantangan terbesar yang dihadapinya dalam memimpin,  salah satu guru leadership kelas dunia itu menjawab, “Paling berat adalah memimin diri saya sendiri.”

Mohamad Cholid adalah Head Coach di Next Stage Consulting

Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

Certified Marshall Goldsmith Global Leader of the Future Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

 

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

Ikuti tulisan menarik Mohamad Cholid lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan