x

Iklan

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

#SeninCoaching: Waktu adalah Aset Pinjaman dari Tuhan

Riset membuktikan, melakukan multitasking bukan hemat waktu, malah menyebabkan kecerdasan menurun

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Leadership Growth: Are You Riding the Wave or Drift?

Hal terbaik apa yang sudah Anda lakukan untuk mencapai goals dalam kehidupan?

Mohamad Cholid

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Practicing Certified Business and Executive Coach

…..

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

– Chairil Anwar,  Prajurit Jaga Malam, 1948

 

Jutaan orang setiap hari meninggalkan rumah dan keluarga untuk menuju tempat kerja, dengan kendaraan umum, kereta api komuter, dan kendaraan pribadi.  Ini potret kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang.

Di kota-kota besar negara-negara lain, kepadatan arus manusia menuju tempat kerja di pagi hari dan saat pulang ke rumah pada senja hari juga demikian menggetarkan. Di Tokyo, misalnya,  pada jam-jam itu hampir semua commuter lines padat, demikian juga di Hongkong, pada rush hour kereta bawah tanahnya penuh, praktis di semua jalurnya. Di New York juga begitu.

Kembali ke Indonesia, dimana sistem transportasi umum dan aturan lalu-lintasnya masih dalam taraf perkembangan, belum mapan betul. Katakanlah Jakarta.

Bagi kebanyakan orang, perjalanan dari rumah ke tempat kerja bisa memakan waktu rata-rata dua jam. Pulang, pada saat macet, bisa dua jam bisa lebih. Praktis rata-rata empat jam waktu terpakai untuk perjalanan kerja per hari.

Kita percaya saja, mayoritas orang rela dimakan waktu,  berhimpitan di busway, di kereta api komuter, atau berdesakan di jalan dengan kendaraan lain bagi yang naik kendaraan pribadi, lantaran “berani hidup,” seperti kata Chairil Anwar.

Kerelaan itu, dan kesabaran yang menyertainya, diasumsikan karena  masing-masing punya semangat “I want to be out where the big ships float – Out on the deep where the Great Ones are!” -- Daisy Rinehart dalam puisi The Call of the Open Sea.

Meraih kehidupan yang lebih baik, menjadi bagian dari the big game, big challenges and great opportunities di kota-kota besar adalah hak hidup manusia, utamanya yang terpacu untuk terus berkembang.

Atau, bagi yang punya keyakinan bahwa berhenti tumbuh sama dengan kematian sebelum ajal, berlayar mengarungi gelombang kehidupan yang lebih menantang adalah kebutuhan.

Kalau mengikuti tradisi evaluasi diri tiap kuartal, ada baiknya sekarang mengajukan sejumlah pertanyaan, utamanya menyangkut waktu, aset terpenting pinjaman dari Tuhan yang mustahil dapat kita tabung atau kita reproduksi.

Apakah kita sudah mengoptimalkan setiap jam yang dipinjamkan oleh Sang Pemilik Waktu kepada kita untuk peningkatan kualitas hidup bersama?

Dalam perjalanan menuju tempat kerja yang rata-rata dua jam itu, berapa puluh menit Anda membiarkan diri dirasuki energi negatif berita-berita dari radio (di mobil atau lewat earphone saat di dalam busway atau di commuter line)?

Di antara waktu itu Anda pakai pula untuk interaksi melalui social media membahas gosip politik atau hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan niat baik Anda saat meninggalkan rumah untuk bekerja.

Begitu sampai di tempat kerja, ada sebagian kita yang masih menikmati omongan-omongan tentang skor pertandingan bola semalam atau film-film menarik pekan ini. Apakah Anda terlibat di dalamnya atau menghindarinya?

Di tengah kerja, ada yang tetap multi-action buka hp. Social media addiction bahkan juga melanda orang-orang yang mengaku pimpinan lembaga dan kerena bos merasa boleh membuka hp, ber-w-a, saat rapat bersama tim sekalipun.

Sesungguhnya, berapa banyak waktu dan energi dikonsentrasikan untuk bekerja? 

Apakah lupa bahwa bekerja adalah mengolah energi kehidupan dan rela menempuh perjalanan dua jam karena  “I must mount the crests of the waves outside. And breathless plunge to the trough below.” – Daisy Rinehart(The Call of the Open Sea).

Di level pribadi, perilaku boros waktu untuk hal-hal yang tidak produktif akan merugikan diri sendiri, menggerogoti peluang untuk tumbuh sebagai pribadi yang lebih baik – ini sungguh mengancam eksistensi diri.

Kapan Anda akan punya peluang mengembangkan diri kalau di tempat kerja tidak fokus, energi dan kecerdasan terkuras di jalanan, dan setelah di rumah Anda membiarkan diri “mengabdi” pula pada televisi selama lebih dari dua jam? Seolah-olah melengkapi ritual disengagement dengan inti kehidupan.

Hidup mengalir ikut arus? Proceeded to drift along the river of life (aimlessly)?

Di alam ini rasanya belum ada arus sungai yang mengarah ke bukit, apalagi ke puncak pegunungan. Arus massa, atau perilaku dan kebiasaan massal yang menghanyutkan, cenderung tidak mengajak ke lokasi yang lebih tinggi. 

Perlu time management? Di dunia ini, menurut para praktisi dan guru leadership, tidak ada time management, semua manusia mendapatkan jatah sama, 24 jam sehari. Maka yang diperlukan adalah self management yang lebih baik.

Dalam konteks perusahaan situasinya dapat menjadi lebih gawat, jika board of directors dan para leaders kehilangan fokus, mudah teralih (distracted) oleh hal-hal trivial, apalagi terjangkit wabah (media) sosial.  

Jutaan orang pekerja (dari berbagai level) di dunia disengaged, depressed, dan not achieving personal goals, demikian hasil observasi MGSCC (Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching).

“Kita hidup dalam perfect storm of distraction,” kata Marshall Goldsmith. Badai distraksi itu meliputi emails, cell phone, tablets, texting, on demand tv, movies, game, social media, dan multi-tasking.

Masih banyak orang beranggapan dengan multitasking dapat menyelesaikan berbagai urusan dalam waktu bersamaan.

Mau tahu kata Dr. Travis Bradberry, penulis buku bestseller  Emotional Intelligence 2.0, tentang multitasking? “Multitasking in meetings and other social settings indicates low Self- and Social Awareness, two emotional intelligence (EQ) skills that are critical to success at work,” katanya.

Itu dampak multitasking terhadap EQ. Bagaimana akibatnya bagi IQ?

Menurut riset di University of London: “Participants who multitasked during cognitive tasks experienced IQ score declines that were similar to what they’d expect if they had smoked marijuana or stayed up all night. IQ drops of 15 points for multitasking men lowered their scores to the average range of an 8-year-old child.”

Saatnya merenungkan kembali perasaan diri seolah-olah hebat saat multitasking,  melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Multitasking bukan hemat waktu, bahkan dapat merusak kecerdasan.

Jika Anda sorang supervisor, manajer, apalagi senior vice president, direktur, atau presiden direktur, apa jadinya kualitas kepemimpinan Anda kalau tiap saat terlibat multitasking?

Kemampuan leadership memerlukan fokus, barangkali seperti konsentrasi dan kesungguhan seseorang dalam surfing, berselancar di antara keindahan dan kedahsyatan ombak.

Fokus tajam pada proses, bukan hanya pada hasil akhir.

Sekarang tugas kita berpikir ulang, apa yang paling utama mesti dilakukan agar dapat memberikan impact positif bagi pertumbuhan institusi, untuk tetap tegak diatas gelombang perubahan yang demikian dinamis?

Jika menginginkan institusi bekembang, perlu juga mengenal perpektif Verne Harnish dan tim dari Gazelles, yang menyebutkan: “Handling a company’s growth successfully requires three things: an increasing number of capable leaders; a scalable infrastructure; and the ability to navigate certain market dynamics. If these factors are missing, you will face barriers to growth.” (Mastering the Rockefeller Habits 2.0, Scaling Up, 2014).

Untuk meningkat ke next stage, ke taraf yang lebih baik, sesuai dengan fokus tulisan ini, kita simak yang pertama, bagaimana menghasilkan an increasing number of capable leaders.

Pada kondisi sekarang, ketika waktu, kecerdasan, dan energi tim Anda mayoritas sudah terkuras untuk hal-hal tidak produktif di luar tanggungjawabnya, tugas Anda adalah menentukan program dan metode pelatihan yang dapat membantu mengembangkan leadership mereka.

Berikutnya, cobalah menjawab, “who is the you – that you want to create? Creating that person that you want to become?” Apakah Anda, Board of Directors, sudah siap dijadikan teladan sebagai pemimpin yang efektif dan membangun lingkungan yang kondusif untuk team development?  

Apakah para pemimpin di institusi Anda berkenan berpartisipasi aktif dalam pelatihan-pelatihan untuk tim? Atau lebih banyak memperlihatkan otoritas dibanding leadership? 

Untuk evaluasi kuartal pertama 2017 ini, pertanyaan dapat dilanjutkan.   

Apakah pemasok program pelatihan diseleksi berdasarkan kebutuhan tantangan perkembangan pasar atau sekedar lantaran si pemasok sudah terbiasa dengan institusi Anda selama ini?

Apakah pemasok program team development itu bagian dari lembaga yang reputasinya terpercaya menurut pendapat ribuan institusi di banyak negara, menghargai cultural diversity, menyediakan metode yang sudah teruji dan dijaga tetap up to date?

 

Mohamad Cholid adalah Head Coach di Next Stage Consulting

Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

Certified Marshall Goldsmith Global Leader of the Future Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

 

Ikuti tulisan menarik Mohamad Cholid lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan