Sikerei Usir Roh Jahat - Travel - www.indonesiana.id
x

Adi Prima

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Travel
  • Pilihan
  • Sikerei Usir Roh Jahat

    Dibaca : 2.346 kali

    Mentawai. Wisatawan dan masyarakat tertegun ketika Sikerei (masyarakat tradisional) melakukan ritual usir roh jahat di Dusun Mapaddegat, pada malam pembukaan Festival Pesona Mentawai Tahun 2017.

    Festival kali ini benar-benar mempesona, selain gelar tradisi dan budaya, festival juga diramaikan dengan berbagai macam lomba. Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kepulauan Mentawai, Desti Seminora, juga mengajak masyarakat untuk peduli alam dalam sambutannya.

    Antusias meyambut festival sudah terasa sejak dua hari sebelum acara, Jumat (29/09), peserta lomba lari dan lomba foto yang berasal dari luar Kepulauan Mentawai mulai berdatangan di Dermaga Tuapeijat. Peserta berjuang untuk menjadi nomor satu pada setiap lomba.

    Festival diawali dengan lomba lari 7K Mentawai. Pada malam hari festival berlanjut dengan ritual Sikerei mengusir roh jahat, dan ini sekaligus menandakan bahwa festival secara resmi telah dimulai. Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, juga ikut menyaksikan dan membuka festival.

    Ritual Usir Roh Jahat

    Ritual adalah penghubung Sikeri dengan dunia supranatural. Salah seorang Sikerei tertua memulai ritual pengusiran dengan membaca mantra berbahasa Mentawai.

    Sikerei memanggil roh nenek moyang, daun merupakan perantara yang digunakan untuk memanggil roh. Roh yang dipanggil akan menyampaikan keinginan dan permohonan Sikerei untuk mengusir roh jahat yang akan mengganggu jalannya festival kepada kekuasaan tertentu.

    Orang Mentawai percaya adanya hubungan antara alam nyata dan alam supranatural. Keterikatan ini yang menata proses kehidupan manusia dan alam semesta, sehingga dalam segala kegiatan harus dimulai dan diakhiri dengan upacara sebagai bentuk hubungan dengan dunia supranatural. Sistem keyakinan ini disebut Arat Sabulungan, Arat berarti adat, bulungan atau bulu berarti daun, dan awalan sa berarti seperangkat. Jadi Arat Sabulungan adalah adat seperangkat dedaunan. Dedaunan memang menjadi alat pokok dalam upacara (Bebetei Uma, 2007:122)

     

    Dunia Roh

    Masyarakat Mentawai mengenal adanya Bajou, menurut Schefold, Bajou adalah kekuatan impersonal yang yang mengalir dari setiap benda yang berjiwa. Setiap benda memiliki Bajou, dengan cara berbeda dan jumlah berbeda pula. Bajou bisa dihidupkan oleh tindakan manusia atau oleh seru-seruan, yang gunanya untuk memperbanyak jumlah kekuatan .

    Macam-macam sabulungan (roh) ; Taikamanua, roh yang hidup di udara dan langit (Tai sama dengan mereka atau kaum, ka sama dengan di, sedangkan manua artinya langit). Taikapolak, roh yang bertempat tinggal di bumi. Taikabaga, roh yang hidup di bawah tanah, mengakibatkan terjadinya gempa bumi. Ada juga roh-roh yang dipercaya dan dikhususkan untuk menjaga binatang; Taikaleleu, roh yang menjaga binatang hutan. Samajuju, sebagai pelindung rusa. Taikatengaloina, sebagai pelindung binatang yang berbeda di atas pohon dan yangh terakhir, Taikbagakoat, yaitu roh yang menjaga binatang laut.

    Tidak hanya pada upacara, ketika hendak mencari hasil laut atau hutan, roh-roh akan dipanggil dan diseru supaya dapat memperoleh hasil buruan yang lumayan (Kebudayaan Suku Mentawai : 49).

     

    TARIAN SIKEREI

    Tarian

    Tarian sikerei (foto : Adi Prima)

    Kehadiran Sikerei benar-benar mengundang masyarakat untuk menyaksikan langsung leluhur orang Mentawai ini.

    Setelah mantra dan keinginan disampaikan, Sikerei memulai turuk (tarian). Dentum gendang yang seirama dengan hentak kaki Sikerei di lantai kayu panggung, benar-benar memecah keheningan malam.

    Bagi saya sendiri, meskipun ini sudah tahun ke tujuh saya di Kepulauan Mentawai, namun, rasa kagum terhadap Bumi Sikerei tak habis-habis. Bagi wisatwan yang belum pernah ke Mentawai silahkan atur jadwal untuk datang ke Bumi Sikerei, perpaduan budaya dan indahnya alam menanti anda di sini. Malainge Mentawai!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.