IM Brave, Internet Marketing Bagi Tunanetra - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sejumlah peserta dari bina netra Wyataguna, Bandung, Jawa Barat, belajar membaca Al Quran pada program pesantren Ramadan, 30 Mei 2017. Sebanyak 175 orang penyandang tunanetra total dan low vision membaca Al Quran sambil belajar tajwid. TEMPO/Prima Mu

cheta nilawaty

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • IM Brave, Internet Marketing Bagi Tunanetra

    Dibaca : 2.684 kali

    saya mengalami ketunanetraan di usia dewasa, 34 tahun. Usia yang bagi sebagian orang adalah usia produktif sekaligus usia kritis dalam merefleksikan hidup. Usia ini seperti menentukan, apakah seseorang akan terus gemilang menyongsong karirnya atau malah semakin terjerembab dalam dunia yang sama. Saya akhirnya dapat memaklumi bila banyak perusahaan mensyaratkan batas umur maksimal dalam penerimaan karyawan barunya di sekitar angka 35 tahun.

     

    Dengan pemikiran seperti itu, hampir saja saya putus asa. Kebutaan tentu tidak dapat memungkinkan saya untuk melakukan pekerjaan yang sama lagi seperti ketika melihat dulu. Sebagai seorang juru warta , tentu saya tidak dapat melaksanakan tugas secara paripurna. Terutama dalam menyampaikan informasi melalui pandangan mata. Belum lagi saya terbiasa menggunakan komputre dan internet dalam melaporkan informasi. Dengan kebutaan ini awalnya saya berpikir, tidak ada lagi akses dan piranti bagi saya untuk membaca dan menulis.

     

    Namun sayaselalu yakin, Tuhan memberi ujian sekaligus jawabannya. Di era saya mengalami kebutaan, teknologi dengan sangat massive mengubah dirinya menjadi penyintas yang minim cacat cela. Teknologi, pada akhirnya tidak Cuma membantu saya membaca dan berjalan. Teknologi, juga membantu saya menjalin lagi rantai rezeki yang tadinya saya pikir terputus.  Teknologi itu bernama internet, yang secara spesifik membantu bentuk baru pemasaran, transaksi keuangan, perdagangan, bahkan penyebaran informasi. Saya yang “Tunanetra tengah jalan” merasakan betul kegunaan teknologi internet ini.

     

    Tidak hanya saya, platform pemasaran melalui internet sangat membantu teman – teman Tunanetra dalam berdagang. Mereka tidak lagi sepenuhnya menggantungkan alur pemasaran dengan orang – orang melihat di sekelilingnya. Mereka secara mandiri dapat memasarkan produk julaan, jasa bahkan aspirasi pemikiran mereka melalui media sosial atau pasar pasar online. Sebut saja Facebook, Line, Instagram, Whatsapp dan media turunannya, menjadi kolam bisnis yang sangat asyik direnangi teman-teman Tunanetra.

     

    Komunitas dan perkumpulannya pun semakin ramai. Ahad, 21 Januari 2018 kemarin misalnya, menjadi ajang berkumpulnya 150 teman teman Tunanetra yang mulai melek intenet. Teman-teman Tunanetra ini coba menyelami kolam internet marketing dengan sirip bisnis mereka. Kebetulan, Bank Permata mau jadi penyandang dana melalui IM Brave, program corporate social responsibilitynya yang  memberikan kursus online internet marketing secara gratis kepada teman teman Tunanetra.

     

    “Saya melihat semangat teman-teman di tengah keterbatasannya yang luar biasa, program ini sangat penting,” ujar Direktur Bank Permata, Ridha Wirakusumah, di lantai 18 Gedung Bank Permata, Bintaro Sektor 7, Tangerang Selatan, 21 Januari 2018.

     

    Dalam mewujudkan program tersebut Permata menggandeng Kartunet.com, salah satu website bentukan teman-teman Tunanetra yang aktif berinovasi di dunia teknologi informatika sebagai pengajarnya. Janji mereka proses pembelajaran dilakukan melalui sarana online seperti email berbasis teks dan dokumen.

     

    Mengapa harus teks dan dokumen? Pertama, teman teman Tunanetra tidak akan dapat melihat gambar dari tutorial yang disampaikan melalui foto dan video. Kedua, hanya web berbasis teks dan dikumenlah, piranti informatika bagi Tunanetra bernama pembaca layar dapat membaca data data tersebut. “Dengan begitu, teman-teman Tunanetra dapat mengakses tutorial pembelajaran baik dari komputer maupun ponsel mereka,” ujar salah satu pendiri Kartunet.com yang juga seorang Tunanetra, Ikhwan Tarikho

     

    Dalam kesempatan siang itu Kartunet dan Permata juga menggaet provider webhosting asal Indonesia, IDCloudhost yang diwakili Muhammad Mufid Luthfi. Mufid sempat membagikan beberapa tips penting bagi teman-teman Tunanetra yang ingin berusaha melalui pemasaran online. “Teman-teman jangan lupa mencantumkan deskripsi yang mengandung kata kunci produknya dalam gambar saat pengunggahan,” ujar Mufid. Menurut Mufid, gambar produk yang mendeskripsikan  kata kunci pada produk jualan online, selain membantu Tunanetra saat pengunggahan, juga membantu Google mendeteksi produk di jagat online.

     

    Selain provider webhosting, startup yang menyediakan layanan asisten virtual, Bang Joni juga diajak serta. Bang Joni adalah layanan berbasis kecerdasan buatan yang melayani transaksi pembelian tiket, token listrik, pulsa dan  Uber melalui mekanisme chatterbot. “Bagi teman-teman Tunanetra yang punya usaha mandiri dapat bergabung bersama kami,” ujar CMO Bang Joni, Mandra Primanta Pandelaki.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.