x

Iklan

Muhammad Aliem

Pegawai BPS Kab.Barru
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Fakta SDM Menyambut Revolusi Industri

Dunia tengah memasuki era revolusi industri generasi keempat, tak terkecuali Indonesia. Ketersediaan SDM berkualitas menjadi tantangan tersendiri

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dunia sedang mengalami era revolusi industri keempat atau industry 4.0 , tak terkecuali di Indonesia. Beberapa jenis industri telah menggunakan teknologi internet dalam proses produksinya. Kemajuan ilmu pengetahuan di bidang teknologi turut memberi warna tersendiri bagi perkembangan dunia usaha. Namun, timbul kecemasan jika penerapan teknologi akan mereduksi manusia sebagai tenaga kerja.

Sektor pendidikan menjadi tumpuan utama untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Sumber daya manusia Indonesia wajib menguasai teknologi jika tidak ingin hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Pemerintah pun memberikan dukungan besar kepada dunia pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai penghasil tenaga siap kerja. Namun, justru angka pengangguran tertinggi masih diduduki tamatan SMK.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,50 persen pada Agustus 2017. Tingkat pengangguran untuk tamatan SMK menjadi yang paling tinggi diantara pendidikan lain yaitu sebesar 11,41 persen. Dari data diketahui tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat sejalan dengan naiknya jumlah angkatan kerja. Kenaikan itu mengindikasikan adanya kenaikan potensi ekonomi dari sisi pasokan tenaga kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja tercatat sebesar 66,67 persen, meningkat 0,33 persen dibanding setahun yang lalu.   Penduduk yang bekerja sebanyak 121,02 juta orang dan sebanyak 7,04 juta orang menganggur.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menelisik lebih dalam data ketenagakerjaan Agustus 2017, ada beberapa poin penting yang memerlukan perhatian serius. Penyerapan tenaga kerja masih didominasi oleh penduduk berpendidikan rendah (SMP kebawah) sebanyak 72,70 juta orang (60,08 persen). Tamatan SMA sederajat sebanyak 27,86 persen, dan yang berpendidikan tinggi hanya sebanyak 12,06 persen. Diantaranya adalah tamatan Diploma sebanyak 3,28 juta orang dan tamatan universitas sebanyak 11,32 juta orang. 

Ini menjadi ironi ketika para tenaga kerja masih dominan dari lulusan SMP ke bawah. Lebih rinci lagi, tamatan SD ke bawah yang bekerja pada Agustus 2017 mencapai 42,13 persen atau sebanyak 50,98 juta orang. Kualitas dan daya saing tenaga kerja masih rendah. Padahal era revolusi industri keempat membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknologi tinggi. Tentu ini menjadi tantangan bagi Indonesia yang segera memasuki era bonus demografi. Dimana penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan usia tidak produktif. Ancaman pengangguran terpampang di depan mata jika tidak disikapi dengan bijak. Salah satu solusinya dengan meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan.

Pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang berasal dari keluarga berada. Walaupun kenyataannya, jumlah penduduk yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi masih relatif rendah karena masalah ekonomi. Kesenjangan partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan menengah ke atas masih terlihat nyata. Data BPS menyebutkan bahwa hanya 1 (satu) dari 4 (empat) orang yang mengikuti jenjang pendidikan perguruan tinggi di 2017. Separuh dari penduduk pada kelompok kuintil pengeluaran teratas mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, sedangkan pada kelompok kuintil pengeluaran terendah tercatat hanya 8 (delapan) persen yang mampu mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Pemerataan pendidikan masih menjadi tantangan bagi bangsa ini. Pemerintah diminta menyediakan lebih banyak paket beasiswa hingga perguruan tinggi. Infrastruktur penunjang pendidikan seperti sekolah dan universitas/sekolah tinggi dibutuhkan hingga daerah pelosok. Kemudahan akses ditunjang biaya pendidikan rendah bahkan gratis akan meningkatkan partisipasi penduduk dalam dunia pendidikan. Dengan begitu, Nawa Cita kelima yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia pintar (PIP) dapat terwujud.

Pada Rakernas Kemenristekdikti (17/1/2018), Menristekdikti menjelaskan lima elemen penting yang menjadi perhatian di era revolusi industry 4.0. Kelima elemen itu adalah mempersiapkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi; rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif; persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsif, adaptif, dan andal; terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung revolusi industry dan ekosistem riset dan pengembangan; dan terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industry dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.

Tantangan lainnya bagi perguruan tinggi di era teknologi yang cenderung disruptif adalah munculnya sistem kuliah online. Sistem ini menawarkan kemudahan bagi generasi milenial yang akrab dengan teknologi. Mereka tidak perlu datang ke kampus yang menyita waktu cukup lama. Selain itu, beberapa universitas asing akan beroperasi di Indonesia pada 2018 ini. Persaingan perguruan tinggi diprediksi bakal sengit. Namun, tentunya hal ini memiliki sisi positif. Calon mahasiswa Indonesia mendapatkan kesempatan menimba ilmu di kampus bertaraf internasional.

Pemerintah diharapkan dapat mengintensifkan pola belajar di bidang teknologi. Kurikulum pendidikan pun diharapkan lebih mengacu pada teknologi berbasis internet. Untuk itu, pembangunan infrastruktur penunjang internet harus menjangkau daerah pinggiran, pelosok sekali pun. Sehingga keterbatasan jarak tak lagi menjadi masalah untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan. Proses belajar bisa dilakukan di beranda rumah. Tentunya selain pendidikan formal di sekolah. Namun, pemerintah perlu lebih giat menciptakan internet yang lebih sehat. Sehingga dapat meminimalisir dampak negatif dari internet.

Pendidikan berkualitas dan merata menjadi modal berharga dalam menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Khususnya pendidikan berbasis teknologi internet. Dampaknya bisa terasa dalam menciptakan sumber perekonomian baru dan mengurangi tingkat pengangguran. Apalagi di era bonus demografi yang sudah di depan mata. Ini penting jika bangsa kita tetap ingin berdaya di zaman revolusi industri keempat  yang serba otomatis, robotik, dan tentu teknologi termutakhir.(*)

Kredit: Linkedln

Ikuti tulisan menarik Muhammad Aliem lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan