IRO 2018 Rekomendasikan Revitalisasi Program Pensiun

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Program pensiun di Indonesia perlu direvitalisasi. Karena dana pensiun bisa menjadi alternatif pendanaan jangka panjang

Seberapa penting dana pensiun?

Daya tahan ekonomi nasional sangat bergantung pada ketersediaan pendanaan jangka panjang. Untuk itu, program pensiun perlu dilakukan revitalisasi sebagai alternatif pendanaan jangka panjang. Hal ini juga menjadi indicator kemajuan ekonomi suatu negara. Diskursus pentingnya mengoptimalkan industi dana pensiun tercermin dalam penyelenggaraan Seminar Internasionl #1 Indonesia Retirement Outlook (IRO) pada 24-25 Oktober 2018 di Hotel Bidakara Jakarta. Tidak kurang dari 19 pembicara kompeten dan 300 peserta hadir di acara IRO 2018 yang digagas oleh Perkumpulan DPLK (PDPLK) dan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI).  

 Dengan tema "Revitalisasi Program Pensiun sebagai Indikator Kemajuan Negara dan Alternatif Pendanaan Jangka Panjang (Tinjauan Politik dan Ekonomi)", IRO 2018 bertujuan untuk memformulasikan keberadaan industri dana pensiun di Indonesia dalam skema yang lebih pas, di samping dapat memastikan kesejahteraan pekerja di Indonesia. IRO 2018 merupakan seminar internasional "program pensiun" yang terbesar dan paling komprehensif di Indonesia.

Acara yang dibuka oleh Andra Sapta, Direktur Pengawasan Dana Pensiun dan BPJS Ketenagakerjaan IKNB OJK ini menghadirkan pembicara secara marathon seperti: Fiona Stewart (World Bank), Dr. Luky Alfirman, M.Sc (Dirjen PPR Kemenkeu RI), Wahyu Widodo (Direktur Jamsostek Kemenaker RI), Agus Susanto (Dirut BPJS Ketenagakerjaan), Faisal Basri (Ekonom), Abdul Rachman (Ketua PDPLK), Suheri (Ketua ADPI), Hariyadi Sukamdani (Ketua Umum APINDO), Kevin Ding (Manulife Asia), Demetrius Ari Pitojo (CIO Eastpring Investment), Said Iqbal (KSPI), Yosminaldi (Ketua ASPHRI), Fahmi Idris (Akademisi & Mantan Menaker RI), Angger Yuwono (Akuaris & Anggota DJSN), Steven Tanner (Pengamat Dana Pensiun/Aktuaris), dan Dewi Motik Pramono (Tokoh Nasional & Waketum DNIKS).

“Melalui IRO 2018 ini, diharapkan dapat menghasilkan lansekap dan strategi program pensiun di Indonesia sebagai alternatif pendanaan jangka panjang. Pekerja dan pemberi kerja pun bisa memperoleh rekomendasi skema akan pentingnya merencanakan masa pensiun bagi setiap orang, bagi setiap pekerja. Karena kontribusi industri dana pensiun masih sangat rendah, sekalipun UU-nya sudah berjalan 26 tahun” ujar Abdul Rachman (Ketua Umum Perkumpulan DPLK) dan Suheri (Ketua Umum ADPI) didampingi Syarifudin Yunus (Ketua Panitia IRO 2018) di acara IRO 2018 hari ini di Jakarta.

Mengacu pada UU No. 11/1992 tentang Dana Pensiun yang telah melebihi seperempat abad sangat diperlukan upaya merevitalisasi industri dana pensiun. Belum lagi, tingkat inklusi keuangan dana pensiun di Indonesia yang tergolong masih sangat rendah, hanya 4,6% (OJK, Des 2016) dari sekitar 50 juta pekerja formal dan 70 juta pekerja informal di Indonesia. Maka kondisi ini, menjadikan sebagian besar pekerja di Indonesia berpotensi mengalami masalah keuangan di masa pensiun dan tidak mampu mempertahankan gaya hidupnya di hari tua.

“IRO 2018 ini menyajikan otpik yang berbobot dan menarik sesuai dinamika era milenial. Inilah forum masyarakat dana pensiun Indonesia untuk berembuk dan berbagi pemikiran tentang dana pensiun. Komprehensif dan actual” ujar Syarifudin Yunus, Ketua Panitia IRO 2018.  

Adalah fakta hari ini, riset menunjukkan 70% orang Indonesia mengalami masalah keuangan di masa pensiun. Sementara usia harapan hidup diprediksi berada di usia 75 tahun pada tahun 2020. Maka persoalan masa pensiun menjadi hal serius yang harus dikedepankan. Maka tanpa upaya merevitalisasi program pensiun, bisa jadi bonus demografi Indonesia yang akan terjadi pada periode 2020-2030 bukan menjadi berkah tapi musibah. Karena rasio ketergantungan yang rendah dan penduduk usia produktif lebih banyak harus diimbangi dengan "kemauan kuat" untuk menabung saat bekerja untuk kesejahteraan di masa pensiun.

Berangkat dari kondisi itulah, industri dana pensiun perlu mendapat masukan dan menyesuaikan dengan dinamika peradaban di era milenial. Agar industri dana pensiun tetap kompetitif dan mampu memenuhi harapan pekerja di Indonesia, di samping perlunya insentif regulasi yang berdampak pada pertumbuhan dana pensiun di Indonesia.

“Hari ini masih banyak orang yang menganggap sepele masa pensiun. Sementara 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun karena takut tidak punya dana yang cukup untuk membiayai kehidupan di masa pensiun. Karena itu, IRO 2018 digelar untuk memacu kesadaran masyarakat akan pentingnya merencanakan masa pensiun dengan cara menabung secara rutin untuk hari tua. Di samping semua pemangku kepentingan harus menyamakan persepsi tentang cara memajukan industri dana pensiun di Indonesia” ujar Abdul Rachman.

IRO 2018 menghimbau agar masyarakat lebih peduli terhadap masa pensiun. Karena pensiun bukan soal waktu tapi soal keadaaan. Mau seperti apa kita di masa pensiun? … #IRO2018 #YukSiapkanPensiun

Bagikan Artikel Ini
img-content
mintardjo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler